Pojokan 290: Putriku

Putriku ini, sudah semester empat (IV) di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Dia termasuk Generasi Z (lahir antara tahun 1998-2012) yang digital natives. Hampir semua kehidupannya tak pernah lekang dengan gadgetnya. Sudah bebeberapa kali gonta-ganti gadget, walau bukan yang terbaru dan mahal.
Karena saya -orang tuanya, tak melulu mengabulkan keinginannya untuk ganti handphone (HP). Kadang dibelikan yang second. Itupun harus “bertempur” dulu dengannya. Untungnya, ada solusi damai yang bisa ditempuh oleh kami. Bukan macam Board of Peace-nya Trump, yang tak melibatkan Palestina.
Dari bangun tidur hingga tidur lagi, hampir tak pernah lepas dengan HP-nya. Kehidupannya, mulai soal pemenuhan kebutuhan pribadi hingga urusan kuliah-nya, tak lepas dimediatori media sosial (medsos). Mantengin medsos seolah menjadi ritual utama. Baginya, kuota dan charger-an HP adalah nyawa kehidupan.
Mungkin tak semua anak Generasi Z seperti putri yang kusayangi ini. Tapi saya perhatikan, tidak terlalu jauh berbeda. Bagi putriku dan sebagian besar Gen Z, perspektif dirinya, lebih utama dibanding pandangan orang lain. Menyebabkan gampangnya perubahan emosi, takkala pendapatnya tak diterima orang lain. Kenyamanan dirinya -dalam hal apapun, menjadi tujuan. Sebuah narasi yang kadang menggerus esensi empati dan kepekaan. Seperti halnya moto para oligarkh-kapitalis, keuntungan sebesar-besarnya untuk kesejahteraanku, bukan orang lain.
Hal itu bisa jadi, karena putriku hidup dijaman serba digital. Semua bisa dilakukan dengan sentuhan di gadgetnya. Mulai pesan makanan, transportasi, informasi, hiburan, interaksi sosial, keuangan hingga hal-hal yang private, semuanya ada dalam genggamannya. Untuk mencapai sesuatu, putriku dan generasi Z, tak terbiasa menjalani sebuah proses panjang, yang membutuhkan anggitan kesabaran dan stamina. Putriku dan generasinya, terbiasa mendapatkan keinginan/sesuatu dengan instan dan mudah.
Asupan nalarnya, bisa jadi didominasi dari medsos dan chat GPT. Menawarkan kemudahan dalam hal apapun, hasinyal yang cepat pula. Membaca fisik buku sudah mulai ditinggalkan oleh generasinya. Distraksi medsos terhadap asupan nalarnya, mungkin lebih dominan dibanding fokus membaca dan menalar. Hal sama terjadi juga pada saya.
Putriku dan genersinya hidup diera disrupsi budaya, nilai, teknologi, dan orientasi pragmatis, hedon. Di dunia maya, nilai menjadi barang absurd, sekaligus paradoks. Adiksi ngonten dan atau nonton konten di medsos. Tontonan menjadi tuntunan. Tuntunan menjadi tontonan. Nilai menjadi komoditi yang diperjual-belikan. Ditentukan oleh seberapa besar respon like, follow, share natizen-masyarakat dunia maya.
Ruang interaksi antara kami-para orang tua dengan putra-putrinya semakin artifisial. Hanya ketika mereka membutuhkan dukungan uang jajan, kuota, kebutuhan pribadi dan kuliahnya. Komunikasi secukupnya, seperlunya dan secepatnya. Setelah itu, mereka kembali kedunianya, medsos. Kadang kita pun asyik dengan medsos kita sendiri. Ruang keluarga menjadi sunyi, namun bising di dunia maya.
Sepertinya, bukan kami-keluarganya, yang bisa membentuk perspektifnya. Justru ruang interaksi maya yang menentukan cara pandang terhadap dunia, keluarga, lingkungan dan dirinya sendiri. Disinilah letak pertempuran dan pergumulan sesungguhnya bagi kami-orang tuanya. Bisa jadi juga terjadi pada para orang tua lainnya
Pergumulan untuk tetap menanamkan nilai-nilai dan kepekaan. Keduanya telah tersapu-habis -hampir luluh lantak,oleh intensnya interaksi dengan gadget. Kepekaan dan nilai-nilai yang harus betul-betul saya tanamkan dengan sesungguh-sungguhnya ke pikiran, jiwa dan nuraninya. Dengan teladan, family time, kasih sayang tulus dan dukungan penuh kepadanya.
Ah, sudahlah, terlepas dari itu semua. Perjuangan kami -para orang tua adalah mengasah, menguatkan dan menjaga kepekaan rasa, anak-anak kami. Pun nilai-nilai penghormatan terhadap kemanusiaan, kesetaraan, keadilan dan keadaban yang terus kami tanamkan. Dan doa yang tak pernah putus, untuk keberkahan, kesehatan dan kemapanan (dalam ekonomi, ilmu, pemikiran dan akhlak), selalu kami langitkan dengan mencium bumi.
Demi masa depan putra-putri kami. Putra-putriku, kau akan menemukan sendiri jalan hidupmu. Dan itu tak selalu mudah. Jalani jalanmu dengan tuntunan langit dan tetaplah berpijak pada bumimu, akarmu, nuranimu dan pada sujudmu. (Kang Marbawi, 010226)
