Pojokan 294: Doaku

Tuhan, kata para bijak bestari, surga Mu tak melulu diisi oleh orang baik, soleh, dermawan dan orang beriman. Konon surga Mu juga terbuka untuk para pendosa. Artinya neraka tidak mesti menjadi terminal para pendosa. Benarkah begitu Tuhan? Bisa jadi itu benar, sebab Kau lah pemegang hak pereogratif mutlak-absolut tentang siapa yang berhak masuk surga dan neraka Mu.
Tapi tentunya Engkau tak akan memberi dengan cuma-cuma, hak pereogratif Mu. Dan bukan berarti, Kau bisa dibeli, agar semua orang bisa dengan gampang masuk surga Mu atau membeli keputusan Mu. Seperti keputusan para hakim di negeri ini, yang “katanya” bisa dibeli. Walau tak bisa dibeli, Engkau tetap memberi kemudahan kepada siapapun yang mau, melangitkan hajatnya.
Nah soal surga dan neraka, jujur saja Gusti, aku ini penganut madzhab Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami alias Abu Nuwas. Dalam teori kesalehan konvensional, aku ini tak masuk nominasi ahli surga. Mengingat aku ini tak bisa melepas dan menolak godaan syahwat. Walau sudah berusaha semaksimal mungkin, tetap saja kadang terpeleset masuk kamar para pendosa.
Tapi Wahai Yang Maha Pengasih, jelas aku ini tak sanggup Kau jebloskan dengan bonus ditendang pantatnya hingga nungging, ke neraka jahannam. Aku tak kuat walau sedikit saja mencium hawa al-Jahim. Jadi kasihilah aku. Tuhan, sungguh aku hanya mengharap rahmat Mu. Jadi bantulah hamba Mu ini untuk bertaubat nasuha. Bukan taubat sambal yang biasa kulakukan. Bisa jadi para pendosa seperti ku, ingin bertaubat dan jika sudah dapat sertifikat taubat nasuha, bisa juga surga kumasuki.
Tapi tak mudah juga mendapat sertifikat itu. Karena tidak bisa dibeli, seperti ijazah atau sertifikat lainnya yang konon bisa dibeli alias “bodong”. Sertifikat taubat itu konon menurut para pendakwah, membutuhkan proses penyucian diri seumur hidup. Jadi bantulah aku untuk bisa selalu bertaubat, Rabb.
Ya Bathin, wahai yang maha penutupi segala kekuarangan dan aib. Lagi-lagi ini soal kualitas aku, hati ku, syahwatku dan aib-aibku. Yang tetap ku saksikan akan Ke-Mahaan Mu adalah, Kau berikan kasih sayang tak hingga, hingga Kau tetap tutupi aib-aibku.
Gusti, jangan sekali-kali kau buka aibku ya. Kupinta dengan sangat. Seperti dengan sangatnya ku harap ampunan Mu atas aib-aibku itu. Sebab sekali saja kau buka rahasia terdalam itu, habislah aku, Tuhan. Di mata manusia mungkin aku bak dewa suci, namun di hadapan Mu, aku tak ada artinya setitik pun.
Engkau tetap Rabbku. Yang tak mungkin aku mencari rabb lain di semesta jagat raya ini. Karena Engkau penguasa semesta, maka Kau adalah satu-satunya sesembahanku. Walau kadang kusembah juga atasan, harta, wanita, tahta dan dunia. Tapi sungguh Rabb, sembahku kepada makhluk, karena terpaksa. Efek birokrasi (bureacracy effect) yang harus selalu loyal dan butuh validasi atasan.
Kadang hingga harus menjilat apapun dari kekuasaan, walau mengorbankan kedaulatan dan nurani. Maka ku mohon kepada Mu, agar aku sanggup untuk berkata TIDAK pada birokrasi dan penguasa yang memunggungi nurani. Juga tidak pada yang menjual kedaulatan.
Tuhan, walau aku ini pendosa, Kau pun tetap mengijinkan aku meminta kepada Mu. Karena Kau pun perintahkan untuk memohon kepada Mu. Aku minta, ampuni aku, berkahi aku, rahmati aku, penuhi kebutuhanku dan jadikan aku penguasa. Penguasa atas nafsuku agar aku tak menjadi budaknya dan tak jadi budak penguasa. Syukur menjadi penguasa atas kekuasaan, agar aku tak menyembah mereka. Gusti, kabulkan ya, serius ku mohon kabulkan ya. (Kang Marbawi, 280226)
