Pojokan 296: Iran di Emperan Al-Istiqomah

Ah, obrolan jama’ah di emperan musola Al-Istiqomah kelurahan Harapan Baru Bekasi Utara ini, selalu tak terstruktur, tak otoritatif dan sudah pasti ngalor-ngidul alias tak jelas juntrungnya. Percakapan yang dilakukan selepas salat taraweh itu kadang sekenanya saja. Siapa yang melempar pancingan obrolan yang disambut antusias jamaah lainnya. Jadi harap dimaklum, bila obrolannya tak seperti di seminar-seminar atau ruang kuliah yang akademis dan penuh teori.
Latarbelakang jama’ah pun jauh dari kata intelektual atau pinandita. Kami jama’ah pinggiran yang hanya tahu adzan solat dan bekerja disektor informal. Jangan dibayangkan, seperti jama’ah pengajian eksklusif di hotel-hotel atau masjid agung yang berkelas dan pintar. Bisa jadi berbayar.
Obrolan kami pun tak didasarkan atas pengetahuan yang memadai apalagi dilengkapi analisis tajam macam Rocky Gerung itu. Ya, kelas obrolan emperan yang tak bermutu, sekadar penghangat suasana dan keakraban antar jama’ah. Topiknya pun ambyar, bergantung sumber tontonan berita di tv di rumah.
Kali ini topik yang di lempar jama’ah soal ulasan di tv tentang kemampuan serangan balasan Iran terhadap fasilitas militer US (Amerika Serikat) dan Israel di kawasan Timur Tengah. Walau diembargo 50 tahun, Iran mampu menjadi kekuatan militer (power index) ke 16 (atau 14) dari 145 negara. Dan jelas-jelas kekuatan negeri para Mullah itu merepotkan US dan Israel. Bagaimana jika tak diembargo? Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya Iran.
Ada nada bingung jama’ah dengan sikap para pemimpin dunia yang justru meminta Iran menghentikan serangannya. Sementara US dan Israel sama sekali tak disalahkan atas tindakan sewenang-wenang mereka menyerang Iran. Dengan dalih yang absurd pula. Seabsurd serangan sebelumnya ke Irak, dan Libia. Dan yang terbaru ke Venezuela. Seolah Iran akan di “Venezuelakan”. Dan dapatlah sumber energi melimpah bin gratis dari negara-negara tersebut.
Keheranan jama’ah lainnya adalah dengan tidak tegasnya sikap kita terhadap aksi serangan US dan Israel yang jelas-jelas melanggar kedaulatan sebuah negara dan menyalahi prinsip-prinsip internasional. Dan itu diperkuat dengan dagelan di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang justru memojokkan Iran untuk menghentikan penyerangan terhadap negara-negara teluk. Bukannya meminta US dan Israel menghentikan serangan, kenapa justru Iran yang disuruh mengalah dan menerima diserang? Hanya China dan Rusia yang jelas meminta seranga US-Israel dihentikan dan ilegal. Itu semua, jauh dari otak para jama’ah untuk menemukan jawabannya. Setak-mungkinnya jama’ah ngajak ngopi Trump dan Prabowo di emper musola al-Istiqomah.
Keganjilan lain yang dirasakan jama’ah yang tak mengerti urusan politik dan diplomasi bebas aktif, adalah tak ada usulan dari pemimpin kita untuk meminta mengadakan sidang OKI (Organisasi Kerjasama Negara-Negara Islam). Atau menghidupkan kembali semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) yang bersifat non blok dan menolak agresi serta mendorong penghormatan kedaulatan negara anggota. Iran adalah anggota OKI juga. Lagi-lagi tak sampai otak kami para jama’ah al-Istiqomah, memikirkan itu semua.
Tak mampu juga, pikiran para jama’ah memikirkan dampak dari perang Iran vs US-Israel. Sementara, dampak dari tawuran asimetris itu, harga minyak melonjak tinggi, bagai kapas tertiup angin. Terus melambung entah kapan turunnya. Kata Celios - lembaga riset-ekonomi dan hukum, harga minyak dunia bisa mencapai US$ 100-120 per barel.
Gegara perang itu, jama’ah musola yang termasuk kelas bawahlah yang akan menerima kesusahan paling pertama. Jika harga BBM (Bahan Bakar Minyak) naik, harga-harga akan naik, sementara pendapatan jama’ah selalu kembang-kempis. Sudah dipastikan jama’ah al-Istiqomah tak paham yang dimaksud Celios itu, namun mengerti akan mengalami kesusahan, jika itu terjadi.
Untungnya obrolan itu tak keterusan. Berhenti dan berganti topik begitu saja, ditimpali obrolan soal wifi di musolah yang mati, gara-gara belum bayar tagihan.
Senyampang itu, betapa beratnya jadi Mojtaba Hosseini Khamenei - penerius Ali Khamenei. Harus terdepan membela kehormatan, kedaulatan dan harga diri bangsa Iran dari agresi US -Israel dan sekutunya, hingga titik darah penghabisan. Sementara Iran sendiri, jelas paling lantang membela Palestina. Selantang pemimpin negeri ini. Namun tak kuasa lari dari jebakan Paman Sam. (Kang Marbawi, 140326)
