Pojokan 299: Pesan, Sang Jendral

Namanya pesan, bisa apa saja. Dan setiap hari kita selalu bertukar pesan. Terbanyak lewat whatsApp. Martin Heideger atau Paul Watzlawick menyatakan apa pun bentuk dan media komunikasi memiliki pesan yang ingin disampaikan. Bisa jadi ada jutaan pesan tersampaikan setiap detik di platform pengantar pesan media sosial. Tak semua bermakna pun tak semua ada makna. Namun pesan dari Try Sutrisno, betul-betul menghunjam kami.
Pesan itu bukan datang begitu saja. Tapi hadir dari pengalaman panjang perjuangan hidupnya. Di usia kanak-kanak, Try Sutrisno telah belajar arti kerja keras dan ulet. Berjualan koran dan rokok menjadi pertarungan pertama untuk membantu kehidupan keluarga. Walau kadang tak laku, tetap dijalani dengan senyum dan terus jualan. Koran yang kemudian mengantarkan perjalanan hidupnya ke kursi Wakil Presiden.
Try kecil pun ditempa dalam perjuangan fisik. Di usia 13 tahun dia menjadi kurir informasi Batalyon Poncowati. Sang Ayah Subandi adalah petugas medis di Batalyon Poncowati. Sejak kecil, Try telah ditempa kecintaan kepada bangsa dan tanah air.
Try Sutrisno, nama yang penuh cobaan, namun tak pernah error. Tak error oleh aji mumpung, ketika memegang jabatan tinggi apa pun. Baginya jabatan adalah amanah. Dan harus dijaga dengan integritas, tegas, kesederhanaan, kemanusiaan dan ideologi.
Bagi Try, tak ada beda antara yang dikatakan dengan yang dilakukannya. Satu kata satu perbuatan. Tak mancla-mencle akibat berat diganduli kepentingan. Atau macam bunglon merubah haluan bergantung hembusan kekuasaan, untuk cari selamat dan enak sendiri.
Kalau ia bicara, isinya bukan basa-basi. Macam bawahan ketemu atasan yang butuh validasi. Seolah atasan adalah gula-gula manis yang harus dijilati. Pesan Pak Try tajam soal Pancasila, “Jangan coreng nama Pancasila dengan perilaku tidak Pancasilais.”
Tamparan kepada manusia Indonesia yang berideologi Pancasila, tapi masih serobot lampu merah dan korupsi. Itu yang buat Try geleng-geleng. Dan geleng-gelengnya Tri pun ditujukan pada amandemen Undang-Undang Dasar (UUD 1945) yang dianggap kebablasan.
Ketika bercengkrama dengan putranya, Beliau berpesan, “saya masih punya waktu 10 tahun lagi untuk memerjuangkan Amandemen UUD 1945 agar kembali kepada UUD 1945 ,” begitu katanya ketika ngobrol santai dengan Ceppy, alias Taufik Dwicahyono, putra ke duanya. Pesan itu ketika beliau berusia 80 tahun.
Di usia senja, Try Sutrisno tak pernah padam. Ia menjaga api Pancasila, lewat UKP-PIP, lalu BPIP. Baginya, Pancasila bukan hafalan, bukan slogan. Ia adalah pegangan hidup. “Tidak seorang pun akan berjiwa Pancasila jika tidak memperjuangkan dan mempraktikkannya,” katanya. Kalimat sederhana, tapi menghentak. Karena Pancasila, bagi Try Sutrisno, harus hadir dalam sikap, tercermin dalam setiap kebijakan. Pun dalam cara memerlakukan sesama.
Pesannya begitu tajam dan dahsyat melebihi rudal Iran yang menghanguskan infrastruktur militer US dan Israel. Dan lebih pedas dari sambal bebek Madura-Surabaya. Ia mengajarkan keteguhan sikap, integritas dan kesederhanaan. Sebagai pejabat, ia menolak error karena godaan kekuasaan; korupsi, kolusi dan aji mumpung. Sebagai panglima ia tegas tapi bijak. Ia membuktikan bahwa hidup bukan soal banyak bicara, tapi soal kapan bicara dan tak asal bicara.
Pesan terakhirnya kepada insan BPIP: “Saya ingin menekankan kepada seluruh anak-anakku di BPIP untuk benar-benar memahami pentingnya menjaga integritas moral dan perilaku dalam melakukan tugas kita, harus berkomitmen pada diri sendiri untuk selanjutnya. Komitmen tersebut akan menjadi komitmen bersama yang akan menjaga marwah keberadaan pembinaan ideologi Pancasila”.
Pesan dan sekaligus warisan yang berharga. Pun sulit untuk dilakukan. Sebab integritas saat ini barang paling langka dan antik yang sulit ditemukan.
2 Maret 2026 lalu, tepat 10 tahun ketika Kau bicara dengan Mas Ceppy, untuk menitipkan perjuangan menjaga Pancasila dan UUD 1945, Kau dipanggil Sang Khalik. Selamat jalan Pak Jendral Try Sutrisno, Wakil Ketua Dewan Pengarah, Kau lah teladan integritas, kesederhanaan dan kecintaan kepada bangsa, bagi kami. Kaulah manusia Pancasila seutuhnya. (Kang Marbawi, 040426)
