Pojokan 300: Lelaki Kecilku

Jaman memang sudah berubah. Orang tua jadul tak kenal istilah “family time”. Anak-anak lebih banyak main dengan teman sebayanya. Main di kali, sawah, kebun, nyari siput, jangkrik, atau petak umpet dengan area hampir sekampung. Pokoknya seru!
Tapi sekarang beda, anak umur kurang dari satu tahun saja, sudah diberi gajet. Lebih karena agar “orang tuanya” tenang kerja atau sama-sama tenang mantengin media sosial (medsos). Jadi sejak usia dini anak sudah diasuh medsos. Ngumpul dengan teman sebayanya pun sambil pegang gajet. Seolah gajet adalah jimat yang tak boleh lepas dan harus dibawa ke mana pun. Pantas anak sekarang gampang tantrum. Apalagi kalau diambil gajetnya. Ngamuk sejadi-jadinya, hingga bikin orang tuanya senewen dan ikut tantrum. Lelaki kecilku pun sama, sudah tantrum youtube anak-anak.
Saat ini, waktu dengan keluarga bagi keluarga di perkotaan, umumnya sepulang kerja atau di akhir pekan. Bahkan ada yang sama sekali tak punya waktu, karena kalau di rumah sibuk dengan medsos atau kerjaannya. Anak pun sibuk dengan gajetnya masing-masing. Hingga orang tua tak pernah tahu apa yang dibuka, diakses dan dilihat anaknya di medsos. Padahal tak semuanya baik. Diam yang berisik, dekat yang tak terkoneksi tapi yang jauh terhubung.
Nah, cerita ini bukan narsis. Apalagi fleksing. Usai mandi, saya solat Magrib berjamaah di musola dekat rumah. Tentu dengan mengajak lelaki bungsu ku, sebagai bagian dari pendidikan sejak dini dan interaksi sosial. Selepas Isa, beranjak ke peraduan. Kami bukan seperti kebanyakan orang yang anak-anak nya punya kamar tersendiri. Jadi di tempat tidur inilah, kedekatan itu terasa lebih intens dengan anak bungsu ku yang baru berumur empat (4) tahun. Setelah sebelumnya bercengkrama dengan kakaknya yang lain.
Walau kasur di rumah tak lebar dan pas mepet tembok kanan kiri serta ujungnya, tempat tidur menjadi panggung bagi si bungsu. Kadang kami main perang bantal, perang bayangan tangan berbentuk binatang atau apa pun. Memburu imaginasi lelaki kecil ku, dengan senter hand phone diiringi cerita khayal sepontan. Kemah selimut dan bantal atau kadang di selingi permintaan ini-itu dari bungsu ku. Tak lupa ku selipkan permintaan membaca abjad, angka dan huruf hijaiyah pada poster yang ditempel di tembok dengan seadanya. Kelupas lakban di poster yang tak lagi menempel pada tembok membuat poster mengayun-ayun. Awut-awutannya sprei dan bantal setelahnya, adalah output dari “family time ku”.
Tak selalu begitu, lelaki kecilku,kadang ngoprek mainan lego, mobil hot wheels nya atau square puzzlenya. Alhamdulillah masih bisa membelikan mainan walau tak mahal. Kadang hingga jauh malam, sikecil bermain apa saja. Sementara mata ku dan istriku sudah lima (5) watt alias ngantuk berat plus diiringi omelan sayang, ajakan untuk tidur. Tak jarang, kami tertidur, sementara dia masih asyik dengan mainannya dan kemudian dia pun tertidur di tengah-tengah kami. Itulah duniaku dengan sibungsuku. Tak selalu tiap malam, karena kadang aku tertidur lebih dulu.
Konon sampai usia lima (5) tahun, adalah usia golden age. Saya sendiri berusaha memaksimalkan kesempatan untuk selalu bisa dengan sikecil, hingga batas dia memiliki dunianya sendiri. Dan soal dunianya sendiri itu, saat ini semakin cepat mereka miliki. Dunia mereka terbentuk di gajet, game dan medsosnya. Orang tua tertinggal dan ditinggal jauh oleh mereka. Mereka hanya datang ketika butuh kuota dan keperluan lainnya.
Tak satu pun wejangan dari orang tua yang nyangkut di benak mereka. Karena mereka lebih terpengaruh dan mengikuti konten diplatform medsos. Membentuk perspektifnya sendiri, yang lebih condong pada kepentingan dan maunya sendiri. Orang tua kadang terabaikan. Melahirkan penolakan pada nasehat dan teguran dari orang tua.
Disinilah kami berusaha memaksimalkan, usia sikecil agar bisa nempel terus dengan kami-orang tuanya dengan tetap diajarkan kemandirian dan teladan. Sebab pada masanya yang tak akan lama lagi datang -bahkan bisa datang lebih cepat, dia hampir tak bisa disentuh orang tuanya.
Mengajaknya buang sampah, ke pasar, ke tempat kerja, tempat tidur dan waktu sebelum tidur adalah waktu terbaik kami membangun masa depan sikecil. Pun waktu makan bersama, dengan kakaknya.
Tentu pendidikan menjadi fondasi untuk masa depan anak-anak kami. Sebab hanya dengan pendidikanlah, masa depan anak-anak kami ditentukan. Selain doa dan keuletan serta kerja keras yang mengiringi.
Pesan kami; kalian harus mapan ilmu, pemikiran, akhlak dan ekonomi, dan itu harus dengan kerja keras, ulet, belajar yang rajin, dan sabar. Hidupmu harus bermanfaat untuk siapapun. Jangan menyusahkan orang. Jaga dan rukun dengan keluarga (orang tua, kakak, ade, semua saudara. Harus silih asah (saling menasehati dan menjaga), silih asih (saling menyayangi), silih asuh (saling mendukung) dengan saudara. Berbakti dan khidmah kepada orang tua. Jangan pernah tinggalkan solat dalam keadaan apapun kecuali koma. Terakhir lakoni wiridan, itu penting untuk kekuatan hati, mental dan doa.
Hidupmu ada pada kesungguhanmu sendiri. Mungkin tidak akan mudah. Semoga kami bisa terus mendampingimu nak, sampai kami sudah tak sanggup lagi bernafas. Namun doa dan restu kami akan terus menemani kalian sampai kapan pun. (Kang Marbawi, 110426)
