Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Pojokan 319; Dompet Yang Belum Merdeka!

Y
Yusup SuparmanEditor: Yusup Suparman
|09:47 WIB
Bagikan:
Pojokan 319; Dompet Yang Belum Merdeka!
Kang Marbawi.

Pak Presiden, Merdeka!

Sejak tanggal 10 Agustus, sang saka Merah Putih telah berkibar dengan gagah di peralon atau bambu yang dijadikan galah di setiap rumah. Umbul-umbul dari kain bekas spanduk ditempel lakban terbentang untuk menutupi arena lomba 17 Agustusan. Pagi 17 Agustus, sound sistem pinjaman musolah yang suaranya kresek-kresek, terpasang. Tapi semangatnya? Menggelegar. Di gang kami, lagu Indonesia Raya dinyanyikan dipinggir makam. Sebab tak ada lapangan. 

Tak ada Paspampres. Tak ada karpet merah. Apalagi godybag mewah. Yang ada,  remaja, ibu-ibu dan bapak-bapak, yang mau ikut lomba; pecahkan plastik berisi air dengan mata tertutup, goyang balon, lomba make-up istri, lomba balap karung, lomba makan kerupuk dan masih banyak lagi. Hadiahnya? Minyak goreng satu (1) liter dan mie instan lima (5) bungkus. Anggarannya dari mana? Urunan  Rp25.000 per KK (kepala keluarga).Transparan, tak lewat aplikasi. Alih-alih mark-up 300%. 

Walaupun kami orang pinggiran yang kadang tak dihitung elit dan baru masuk hitungan kala pemilu, nasionalisme kami tak luntur. Nasionalisme kami murah Pak, tapi tulus. Dari balita yang baru belajar lari sampai nenek-nenek yang giginya tinggal dua (2), semua turun. Ini namanya -communitas-  kebersamaan sementara yang menyetarakan dan menyatukan, kata Victor Turner. Di lapangan, kepala RT (rukun tetangga) dan tukang cilok sama-sama jatuh saat lomba bakiak. Tidak ada kasta. 

Sayangnya Pak, semangat 17-an ini hanya bertahan tiga (3) hari. Tanggal 20 Agustus, kami kembali ke realita: berjuang mengisi dompet Kami yang belum merdeka.

Pak Presiden, kita sudah 81 tahun merdeka. Soekarno bilang kemerdekaan itu jembatan emas. Betul. Tapi yang lewat di jembatan itu siapa?

Kalau merdeka artinya tidak dijajah Belanda-Jepang, Alhamdulillah lulus sudah. Tapi kalau merdeka artinya berdaulat atas diri sendiri, data sendiri, dan dompet sendiri... mohon maaf, sepertinya kami masih berjuang.

Pertama: Penjajahan Algoritma

Kami dijajah aplikasi Pak. Bangun tidur buka TikTok. Mau jualan atau nyari barang, buka market place. Mau ngomong buka WhatsApp. Semua jadi mudah dan gratis. Tapi yang gratis itu kami. 

Sejak jari ini ngeklik aplikasi itu, data kami, wajah,  lokasi, selera, pilihan politik, pikiran, bahkan hidup kami, semua dihisap. Lalu dijual lagi ke kami dalam bentuk iklan. Shoshana Zuboff menyebutnya  -Surveillance Capitalism-. Kapitalisme yang dagangannya adalah perilaku manusia. Kehidupan kita diserahkan dan diatur algoritma.

Kami kira, kami megang HP (hand phone). Padahal HP yang megang kami. Algoritma yang nentuin kami harus marah sama siapa hari ini, harus beli apa besok, harus pilih siapa presidennya walau masih dua (2) tahun lagi. Pak Presiden pun, sepertinya bisa kalah sama FYP-for your page- loh. 

Kedaulatan data itu sama dengan kedaulatan negara. Kalau data kita dipegang server di luar negeri, terus kemerdekaan digital kita di mana? 

Kedua: Penjajahan Oligarkhi

Ini yang paling ngilu Pak. 

Tengok saja laporan CELIOS -Center of Economic and Law Studies-, hanya 50 orang di Indonesia yang benar-benar merdeka. Konon saking merdekanya, mereka bebas menentukan penguasa, nentuin UU (undang-undang), nentuin siapa boleh nambang, siapa boleh nebang, siapa boleh impor. Benarkah? Entahlah.

Kelakuan macam ini, namanya -Power Elite- kata C. Wright Mills. Ada segelintir orang/kelompok yang menguasai tiga (3) menara: ekonomi, politik, dan militer. Menara ekonomi itu, konglomerasi/oligarkhi. Menara politik, ya partai. Menara militer… ya kadang rangkap jabatan. Otak kami tak sampai, memikirkan ocehannya si Wright Mills itu. Dan semoga semua itu tak terjadi di negeri yang kita cintai ini.

Soal oligarkh, bisa dengarkan juga igauannya Grace Blakeley dalam -Vulture Capitalism- 2024. Dia menyebut mereka-si oligarkhi, “kapitalisme pemakan bangkai”. Modelnya begini: keruk SDA (sumber daya alam)- sawit, nikel, batubara, dll- pakai izin negara. Operasionalnya, pakai pinjaman dari negara. Ketika untung, untuk pribadi. Ketika rugi, minta negara nalangin. Sementara rusaknya alam - banjir, longsor, sungai-laut tercemar, bencana kematian, ditanggung rakyat dan negara. Tapi oligarkh penyebab kerusakan tak dituntut, lenggang kangkung. 

Jadi kemerdekaan bagi 50 orang itu artinya: bebas mengeruk apapun yang ada di darat, di dalam tanah, di laut dan di udara. Kemerdekaan bagi 280 juta lainnya sepertinya: bebas antri sembako.

Ketiga:  Pattimura di Dompet

Ini yang paling dasar Pak. 

Sejak kakek, bapak (kakek dan bapak kami masih ikut berjuang melawan Belanda dan Jepang), sampai kami sendiri, perjuangan utama kami satu: mengisi dompet. Bukan buat foya-foya. Tapi buat beli beras, bayar listrik, sekolah anak serta seabrek kebutuhan dasar lainnya. 

Dompet kami setia ditemani Pattimura terus, Pak Presiden. Soekarno-Hatta, ogah mampir, apalagi menetap. Tiap dia masuk, langsung permisi untuk melawan kebutuhan hidup sehari-hari. Kadang nongol serangan mendadak, tagihan pajak dan lainnya. Membuat semakin pusing pemilik dompet. 

 “Indonesia Adil dan Makmur”, itu cita-cita luhur yang harus diwujudkan. Namun sementara ini di kampung kami translate-nya: “Makmur, kalau bisa ngirit.”

Lalu Korupsi?

Oh itu mah sudah jadi udara Pak. Menghirup tanpa sadar. Seolah apapun bisa dikorupsi. Proyek jalan 1 M, cuma jadi 300 meter. Bansos dikurangin. Dana desa buat infrastruktur, tapi mangkrak. Kasus apapun ada harganya. Konon minimal 74 kg emas, harga dari satu kasus. Hingga Robert K. Merton mengoceh hal ini sebagai -Anomie-. norma sudah rusak. Yang jujur dianggap bodoh. Rapuh etika pejabat publik, jadi trend.

Pak Presiden, jadi tolong.

Merdekakan kami bukan hanya dengan upacara dan pidato. 
Tapi merdekakan data kami. Bikin platform digital punya negara. 
Merdekakan SDA kami sesuai pasal 33 UUD 1945. Pangkas oligarkhi. Jangan biarkan 50 orang itu terus yang ngatur 280 juta orang.
Merdekakan dompet kami. Agar Soekarno Hatta betah mendiaminya. Merdekakan kesejahteraan guru-guru honor. Kejar koruptor sampai ke liang semut. Mumpung Bapak sedang berkuasa.

Karena kalau tidak, 17 Agustus tahun depan kami tetap akan upacara. Tetap lomba balap karung. Tetap teriak Merdeka! Nasionalisme kami tak akan luntur sampai kapanpun!

Tapi di dalam hati kecil, kami berbisik: 
“Dompet Kami belum Merdeka…Pak Presiden”

Salam dari kami, yang dompetnya belum 17-an.
(#Kang Marbawi, 210226)

Berita Terbaru

Tiga Tahun Berjuang Melawan Sakit Komplikasi, BAZNAS Subang Hadir Bantu Ibu Tiga Anak

Tiga Tahun Berjuang Melawan Sakit Komplikasi, BAZNAS Subang Hadir Bantu Ibu Tiga Anak

Headline19 menit lalu
Botram Bersama Warga, TMMD ke-130 di Cupunagara Perkuat Kemanunggalan TNI-Rakyat

Botram Bersama Warga, TMMD ke-130 di Cupunagara Perkuat Kemanunggalan TNI-Rakyat

Headline38 menit lalu
Lowongan Kerja di Subang Oktober 2026: PT Handsomekovi Indonesia Buka Posisi Ini

Lowongan Kerja di Subang Oktober 2026: PT Handsomekovi Indonesia Buka Posisi Ini

Lifestyle1 jam lalu
Indonesia Jadi Negara dengan Pertumbuhan Orang Superkaya Tertinggi di Dunia, Ini Dia Daftar Negara Lainnya!

Indonesia Jadi Negara dengan Pertumbuhan Orang Superkaya Tertinggi di Dunia, Ini Dia Daftar Negara Lainnya!

Lifestyle2 jam lalu
ADVERTISEMENT
Wamen ATR/Waka BPN: Integrasi Data Hak, Tata Ruang, dan Nilai Tanah Jadi Kunci Tata Kelola Pertanahan

Wamen ATR/Waka BPN: Integrasi Data Hak, Tata Ruang, dan Nilai Tanah Jadi Kunci Tata Kelola Pertanahan

Nasional2 jam lalu
Tak Perlu Perantara, Masyarakat Bisa dengan Mudah Urus Roya secara Mandiri

Tak Perlu Perantara, Masyarakat Bisa dengan Mudah Urus Roya secara Mandiri

Nasional2 jam lalu
Ramai Seruan Netizen Malaysia Boikot Produk Indonesia, Sejarah Lagu "Negaraku" Ikut Diungkit

Ramai Seruan Netizen Malaysia Boikot Produk Indonesia, Sejarah Lagu "Negaraku" Ikut Diungkit

Lifestyle2 jam lalu
Muncul Wacana Siswa Tak Otomatis Naik Kelas Mulai 2027, Ini Kata Mendikdasmen

Muncul Wacana Siswa Tak Otomatis Naik Kelas Mulai 2027, Ini Kata Mendikdasmen

Nasional2 jam lalu
Polres Subang Bedah Rumah Mak Datem di Cibogo

Polres Subang Bedah Rumah Mak Datem di Cibogo

Headline3 jam lalu
Pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional Subang Batch 6 Dibuka, Ada 3 Program Gratis!

Pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional Subang Batch 6 Dibuka, Ada 3 Program Gratis!

Subang3 jam lalu