Sejarah Situ Buleud: Ikon Purwakarta yang Melegenda!

PASUNDANEKSPRES.ID - Situ Buleud menyimpan sejarah yang cukup panjang hingga tempat tersebut dijadikan ikon kota Purwakarta, simak selengkapnya tentang sejarah Situ Buleud Purwakarta.
Purwakarta, sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Barat, tidak hanya dikenal sebagai daerah strategis, tetapi juga kaya akan sejarah dan budaya lokal yang menarik untuk ditelusuri.
Salah satu ikon wisata yang melekat erat dengan identitas Purwakarta adalah Situ Buleud, sebuah danau yang terjadi secara alami dan menjadi titik pusat kota Purwakarta hingga sekarang.
Ikon Purwakarta yang satu ini memiliki kisah yang cukup panjang dan mengalami pembangunan sarana dan prasarana yang cukup signifikan sehingga menjadi bagian penting dari perkembangan kota ini.
Untuk mengetahui informasi ini lebih banyak, berikut informasi tentang sejarah Situ Buleud Purwakarta.
Sejarah Situ Buleud Purwakarta
Situ Buleud merupakan danau yang terjadi secara alami yang berada di Purwakarta, Jawa Barat yang berasal dari kata "situ" berarti danau atau telaga serta "buleud" berarti bulat atau berbentuk bulat dalam Bahasa Indonesia.
Asal usul Situ Buleud sudah ada sejak zaman dahulu yang konon danau tersebut dahulunya merupakan kubangan besar yang biasa digunakan oleh badak bercula satu sebagai tempat mandi atau pangguyangan dalam Bahasa Sunda.
Situ alami ini dahulu masih berupa rawa dan hutan belukar hingga akhirnya danau ini mengalami pembangunan besar-besaran yang digagas Bupati R.A.A. Soeriawinata atau Dalem Shalawat (1830-1849).
Melansir dari situs resmi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purwakarta, keberadaan Situ Buleud berkaitan dengan peristiwa perpindahan ibukota Kabupaten Karawang dari Wanayasa ke Sindangkasih, atas gagasan Bupati R.A.A. Soeriawinata yang dibangun pada tahun 1830 hingga pertengahan tahun 1831.
Tujuan pembangunan Situ Buleud adalah sebagai sumber air untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat Purwakarta pada masa itu. Air dari situ tersebut digunakan juga untuk keperluan ibadah dan kegiatan lain di Masjid Agung.
Situ Buleud juga digunakan sebagai tempat rekreasi sehingga pemerintah mendirikan bangunan tradisional sejenis bangunan gazebo sebagai tempat istirahat (pasanggrahan).
Lebih lanjut, pembangunan Situ Buleud berkaitan dengan salah satu hak istimewa bupati, yaitu hak untuk menangkap ikan di sungai atau danau. Hak istimewa itu merupakan bagian dari gaya hidup bupati waktu itu.
Meski kenyataannya, yang menangkap ikan bukanlah bupati melainkan rakyat. Dalam acara tersebut, bupati tinggal di pasanggrahan yang berada di tengah situ sambil menyaksikan sejumlah rakyat menangkap ikan dengan dimeriahkan oleh iringan gamelan.
Situ Buleud mengalami sejumlah perbaikan dan perluasan yang bersamaan dengan renovasi pendopo pada tahun 1854 yang menunjukkan keberadaan danau alami tersebut memiliki arti penting untuk kehidupan di kota Purwakarta.
Kini, bangunan pasanggrahan yang berada di tengah situ sudah tidak ada dan acara menangkap ikan sudah tidak diadakan lagi, namun Situ Buleud tetap menjadi landmark kota Purwakarta hingga saat ini.
Pada masa pemerintahan Bupati Dedi Mulyadi (2008-2018), Situ Buleud kembali direnovasi dan dipercantik dengan adanya taman air mancur di tengah-tengah Situ Buleud.
Saat ini, Situ Buleud menjadi Taman Air Mancur Sri Baduga yang terkenal dengan keindahan air mancurnya serta menjadi air mancur terbesar se-Asia Tenggara. (inm)
