JAKARTA – Momen 10 hari terakhir Ramadhan 1446 H, dimanfaatkan oleh Baitulmaal Muamalat untuk melakukan respon cepat dalam distribusi bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina.
Adapun bantuan yang diberikan berupa 700 Paket Pangan, 700 Paket Berbuka Puasa, 90 Paket Hantaran Lebaran, dan 180 Paket Zakat Fitrah. Mengusung tema program "EKSPEDISI #1, Bersama Membangun Mimpi Palestina", distribusi langsung ini menjadi ajang untuk menguatkan kepercayaan masyarakat serta mitra Baitulmaal Muamalat, bahwa setiap dana yang terkumpul akan terdistribusi langsung kepada mereka yang membutuhkan.
Adapun sebaran titik distribusi berada di wilayah Kamp Pengungsian Palestina, Yordania dan masuk ke jalur Gaza melalui pintu masuk di Yordania.
Zainul Muttaqin (Kepala Perwakilan Baitulmaal Muamalat DIY) yang menjadi salah satu delegasi program menegaskan bahwa distribusi bantuan langsung ini sangat penting mengingat Israel kembali menyerang Gaza pasca gencatan senjata pada 18 Maret yang menyebabkan 730 warga Palestina menjadi korban jiwa.
Kamp Pengungsian Palestina di Yordania
“Respon cepat ini menjadi bentuk transparansi Baitulmaal Muamalat kepada para donatur untuk mengabarkan kondisi terkini tentang warga Palestina di Gaza maupun Kamp Pengungsian Palestina di Yordania. Semoga Allah menerima seluruh amalan baik kita dan bantuan ini menjadi berkah untuk warga Palestina.” Kata Zainul
Perlu diketahui, sebelumnya Baitulmaal Muamalat secara rutin melakukan distribusi bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina. Adapun bantuan yang rutin dilakukan berupa air bersih, makanan hangat, pakaian, jaket, bantuan untuk ibu di Palestina, sekolah darurat, terpal, masjid darurat, hingga qurban untuk warga Palestina.
Kondisi Terkini di Palestina
Sejak pertempuran yang terjadi pada 07 Oktober 2023, serangan Israel ke Palestina telah menyebabkan korban jiwa lebih dari 50.609 penduduk Gaza yang mayoritas korbannya adalah perempuan dan anak-anak.
Serangan yang terjadi juga menyebabkan wilayah Palestina rata oleh tanah, dimana puing bangunan hingga fasilitas umum tidak lagi tersisa dan menyebabkan masyarakat Palestina harus tinggal di Kamp Pengungsian.(*)