Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Cerita Sopir Angkot: Mengais Rezeki dari Setiap Liter Bensin

Y
Yusup SuparmanEditor: Yusup Suparman
|23:10 WIB
Bagikan:
Cerita Sopir Angkot: Mengais Rezeki dari Setiap Liter Bensin
Salim saat mengecek penumpang sesaat sebelum melajukan kendaraannya ke arah Tanjungsiang di depan Terminal Subang, pada Jumat sore (30/10/2026).

Hujan deras baru saja reda Jumat siang itu (30/10/2026). Segelas kopi menemani sejumlah sopir angkutan kota (angkot) yang sedang menunggu penumpang datang menghampiri mobilnya. Di warung sederhana depan Terminal Subang itu, harapan mereka hanya satu. Mobil yang diparkir di bahu jalan bisa penuh oleh penumpang.

Bagi sopir angkot, mencari nafkah bukan sekadar soal mendapatkan penumpang. Ada bahan bakar minyak (BBM) yang harus dibeli, setoran kendaraan yang mesti dibayar, serta kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi.

Salim alias Joyo tengah menikmati segelas kopi. Sembari menunggu penumpang, dia berbagi cerita mengenai pekerjaannya. Dia mulai aktif sebagai sopir angkot di Subang sejak 2018. Sebelumnya, dia bekerja sebagai sopir di berbagai daerah, mulai dari Medan hingga Surabaya. Tahun 2000 menjadi awal peruntungannya di jalanan.

Pagi hari, mobil angkot berwarna biru sudah dia nyalakan. Mesin dipanaskan beberapa saat sebelum akhirnya mengaspal di jalanan. Dia berangkat dari kediamannya di ujung perbatasan Subang, Tanjungsiang. Tujuannya menuju perkotaan Subang. Jaraknya sekitar 30 kilometer, melewati Kecamatan Jalancagak. Daerah itu merupakan dataran tinggi dengan udara yang masih sejuk dan hamparan kebun teh.

Dia biasa mengisi bensin kendaraannya di SPBU Tanjungsiang. Jika antre, terkadang dia juga mengisi bensin di SPBU Kasomalang maupun Jalancagak. Karena itu, dia mengusulkan agar ada penambahan SPBU di daerah tersebut.

Mobilnya diisi bensin jenis Pertalite sebesar Rp200.000 untuk sehari. Dari uang itu, dia mendapatkan sekitar 20 liter bensin. Harga Pertalite sekarang Rp10.000 per liter. Bagi Salim, harga tersebut masih cukup terjangkau. Bensin inilah yang menjadi energi untuk kelangsungan hidupnya saat ini. Pasokan bensin lancar, usahanya pun lancar. Jika ketersediaan bensin bermasalah, dia tidak bisa bekerja.

Pagi hari merupakan waktu yang tepat untuk berburu penumpang. Anak sekolah hingga pegawai menjadi targetnya. Salim selalu berharap kursi penumpang penuh. Namun, sekarang cukup sulit. Mendapatkan minimal tujuh orang penumpang sehari untuk rute Tanjungsiang menuju perkotaan saja sudah beruntung. Tarifnya sebesar Rp25.000. Ditambah lagi, ada beberapa penumpang yang menempuh jarak dekat. Sehari, dia bisa mendapat penghasilan kotor maksimal Rp400.000. 

Uang itu tidak semuanya dibawa pulang. Dia harus membayar sewa mobil, membeli bensin, belum lagi biaya makan dan minum seharian. Bisa membawa pulang Rp50.000 hingga Rp100.000 per hari saja sudah beruntung.

“Penghasilan Rp100.000 itu sudah bagus, sudah jago. Ya kadang dapat Rp50.000,” kata Salim kepada Pasundan Ekspres.

Setelah setengah jam bercerita, Salim menoleh ke arah mobilnya. Tiga orang penumpang nampaknya sudah masuk ke dalam mobil. Tanpa harus menunggu kursi penuh, dia langsung berangkat mengendarai mobilnya.

Demi Dua Anak yang Masih Kecil

Cerita lain datang dari Dadan yang juga tengah menunggu penumpang di warung kopi depan Terminal Subang. Usianya masih muda, baru 33 tahun. Dia sudah menjadi sopir angkot sejak 2024. Sebelumnya, dia sempat bekerja di Jakarta hingga 2019. Sebelum menjadi sopir angkot, dia pernah berjualan, mulai dari mi ayam hingga siomai.

Dadan tengah bersiap mengendari mobil angkotnya untuk mencari penumpang.

Dadan bersyukur dengan pekerjaannya hari ini. Dari pekerjaan ini, dia bisa menghidupi keluarganya, terutama dua anaknya yang masih kecil. Merekalah yang menjadi ‘bahan bakar’ penyemangat Dadan untuk ikhlas menjalani pekerjaan ini.

“Alhamdulillah ada saja uang untuk dibawa ke rumah. Ya hanya kalau untuk setor sewa mobil, kadang nombok,” ujarnya.

Dalam sehari, Dadan mengeluarkan biaya untuk bensin sebesar Rp210.000. Setoran untuk mobil sekitar Rp120.000. Belum lagi dikurangi biaya makan dan minum kopi. 

“Sehari yang dibawa ke rumah kadang Rp70.000, kadang Rp80.000. Kalau rezeki lagi bagus, bisa dapat lebih dari Rp100.000," ujarnya.

Dengan penghasilan itu, dia merasa bersyukur. Kebutuhan sehari-hari untuk anaknya tercukupi. “Ya dicukup-cukupkan saja, disyukuri saja,” katanya.

Bagi Dadan, bisa membawa pulang uang untuk keluarga sudah menjadi alasan untuk tetap bertahan di jalanan. Namun, persoalan sopir angkot bukan hanya soal biaya operasional dan penghasilan yang tak menentu. Mereka juga harus berjuang mendapatkan penumpang di tengah perubahan kebiasaan masyarakat yang kini memiliki banyak pilihan transportasi.

Andalkan Penumpang Karyawan dan Anak Sekolah

Setelah dua rekannya berangkat narik penumpang, Dedi Kurniawan baru saja tiba di warung kopi pukul 16.09 WIB. Sayangnya pria 45 tahun itu tidak sempat menikmati kopi. Kebetulan setengah jam lalu warungnya tutup. 

Meski tanpa seruput kopi, dia menceritakan dengan lantang mengenai tantangan menjadi sopir angkot pada era sekarang. Dia mulai menjadi sopir angkot sejak 2015. Melayani trayek perkotaan Subang-Tanjungsiang. Penumpang dari kalangan karyawan pabrik dan anak sekolah menjadi andalannya.

Untuk mendapatkan penumpang dari kalangan karyawan pabrik, dia pun harus bersaing dengan mobil angkutan khusus karyawan. Beruntung, dia masih mendapat penumpang.

Dedi juga berharap banyak dari anak sekolah. Namun, sayangnya, sekarang banyak anak sekolah yang menggunakan motor. Padahal, mereka belum memiliki SIM.

Dia sempat senang dengan adanya kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang melarang tegas anak sekolah membawa motor ke sekolah. Ini menjadi kabar baik bagi sopir angkot. Dengan kebijakan itu, dia berharap anak-anak pergi dan pulang sekolah menggunakan angkot.

Faktanya tak demikian. Masih saja ada anak sekolah yang membawa motor, padahal belum memiliki SIM. Dedi berharap kebijakan itu bisa ditegakkan. Apabila kebijakan yang dijalankan dengan baik, Dedi yakin pendapatannya bisa membaik. Dengan begitu, dia bisa menghidupi keluarganya secara layak.

Bagi Salim, Dadan, dan Dedi, BBM menjadi kebutuhan penting untuk tetap bekerja. Setiap hari mereka harus menghitung pengeluaran agar pendapatan yang diperoleh masih bisa dibawa pulang.

Bagi mereka bensin bukan sekadar bahan bakar untuk menjalankan kendaraan. Dari setiap liter yang dibeli, ada perjalanan mencari penumpang, biaya hidup yang harus dipenuhi, dan keluarga yang menunggu nafkah di rumah.(ysp)

Berita Terbaru

Cerita Sopir Angkot: Mengais Rezeki dari Setiap Liter Bensin

Cerita Sopir Angkot: Mengais Rezeki dari Setiap Liter Bensin

Subang1 jam lalu
DPRD Subang Sahkan Perda Penyelenggaraan Kesehatan, Bupati: Ikhtiar Tingkatkan Kualitas Layanan

DPRD Subang Sahkan Perda Penyelenggaraan Kesehatan, Bupati: Ikhtiar Tingkatkan Kualitas Layanan

Headline5 jam lalu
Pengendara Harap Hati-hati, Jalan Tol Cipali Sedang Diperbaiki

Pengendara Harap Hati-hati, Jalan Tol Cipali Sedang Diperbaiki

Headline5 jam lalu
Dukung Infak BERSERI BAZNAS, Dinkes Subang Himpun Rp5,3 Juta dalam Jumat Berkah

Dukung Infak BERSERI BAZNAS, Dinkes Subang Himpun Rp5,3 Juta dalam Jumat Berkah

Headline5 jam lalu
ADVERTISEMENT
Dari Jalanan ke Forum HRD, Megi Akbar Bawa Isu Tenaga Kerja Lokal ke Ruang Pendidikan

Dari Jalanan ke Forum HRD, Megi Akbar Bawa Isu Tenaga Kerja Lokal ke Ruang Pendidikan

Headline5 jam lalu
Cara Gunakan Fitur Bookmark Postingan Instagram dengan Mudah

Cara Gunakan Fitur Bookmark Postingan Instagram dengan Mudah

Lifestyle7 jam lalu
Daftar Drama Korea Tayang November 2026, Ada The Remarried Empress hingga Good Partner 2

Daftar Drama Korea Tayang November 2026, Ada The Remarried Empress hingga Good Partner 2

Lifestyle8 jam lalu
HP Infinix Terbaru 2026 dari Rp1 Jutaan hingga Rp12 Jutaan, Ini Daftarnya

HP Infinix Terbaru 2026 dari Rp1 Jutaan hingga Rp12 Jutaan, Ini Daftarnya

Lifestyle9 jam lalu
Rumah123 Ungkap Tren Rumah Tapak di Subang, Harga Penawaran Tembus Rp1,5 Miliar

Rumah123 Ungkap Tren Rumah Tapak di Subang, Harga Penawaran Tembus Rp1,5 Miliar

Lifestyle11 jam lalu
Polda Metro Jaya Hapus Postingan Sumpah Pemuda di Instagram? Ini Informasi yang Beredar

Polda Metro Jaya Hapus Postingan Sumpah Pemuda di Instagram? Ini Informasi yang Beredar

Nasional11 jam lalu