Kekerasan di Sekolah Tak Dibenarkan, tapi Orang Tua Juga Jangan Langsung Menyalahkan Guru

PASUNDANEKSPRES.ID -Menyikapi adanya peristiwa dugaan kekerasan di salah satu sekolah di Kabupaten Subang, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Subang, Viqri Wijaya, memberikan pandangan terkait pentingnya keseimbangan dalam melihat persoalan antara guru, siswa, dan orang tua.
Menurut Viqri, munculnya dua versi kronologi antara pihak siswa dan orang tua dengan pihak guru menunjukkan bahwa persoalan ini perlu diklarifikasi secara menyeluruh sebelum mengambil kesimpulan.
“Itu kronologisnya yang benar seperti apa? Ada dua versi versi siswa dan orang tua dengan versi guru dan orang tua lain. Pandangan saya pribadi, tidak membenarkan adanya kekerasan dalam memberikan punishment terhadap siswa,” ujar Viqri kepada Pasundan Ekspres, Kamis (6/11/2025).
Namun demikian, ia juga mengungkapkan, sebaiknya orang tua tidak seharusnya langsung menyalahkan pihak guru atau sekolah tanpa mengetahui duduk perkara yang sebenarnya.
“Kalau dulu saya ditampar di sekolah, ngadu ke rumah malah ditampar lagi dan dikurangi uang saku oleh orang tua. Kalau anak sekarang berbeda, ngadu malah didukung dan mencak-mencak ke guru atau sekolah,” ungkapnya.
Politisi muda dari Partai NasDem itu mengimbau agar setiap permasalahan di lingkungan sekolah disikapi dengan kepala dingin dan komunikasi yang baik antara pihak orang tua, guru, dan siswa.
“Seyogyanya orang tua sowan dulu ke guru atau sekolah, lalu tanya juga ke teman anaknya apakah benar anaknya melakukan hal itu, supaya kronologinya balance,” jelasnya.
Viqri menegaskan, kekerasan dalam lingkungan pendidikan tidak dapat dibenarkan dalam bentuk apapun. Namun di sisi lain, ia juga menilai bahwa tindakan siswa yang merusak fasilitas sekolah adalah hal yang sama-sama tidak patut dilakukan.
“Kekerasan tidak dibenarkan, tapi pengrusakan fasilitas sekolah juga salah. Kita wajib menyayangi anak-anak kita, tapi membiarkan mereka terlalu bebas justru lebih salah,” tegasnya.
Ia menutup pernyataannya dengan pesan moral bahwa guru memiliki peran besar bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik yang berperan membentuk karakter anak.
“Ingat, guru itu bukan hanya mengajar tapi juga mendidik. Ada keberkahan dari doa yang guru lantunkan untuk anak-anak kita,” tutupnya. (cdp)
