Kisah Ma Ahmi Bertahan di Rumah Reyot dengan Penglihatan Terbatas

PASUNDANEKSPRES.ID - Di Dusun Kananga 2, Desa Pangsor, Kecamatan Pagaden Barat, Kabupaten Subang, Ma Ahmi (67) menjalani hidup dalam bayang-bayang kekhawatiran.
Nenek yang kini mengalami penurunan penglihatan itu harus bertahan hidup di sebuah rumah yang kondisinya sangat memprihatinkan dan jauh dari kata layak huni.
Dinding rumahnya terbuat dari bilik bambu yang sudah lapuk dimakan usia. Banyak bagian tampak berlubang dan rapuh.
Tiang penyangga terlihat miring, sementara atapnya bolong di berbagai sisi.
Saat hujan turun, air dengan mudah menetes ke dalam rumah, membasahi lantai dan barang-barang seadanya yang ia miliki.
Di bagian dalam, rangka kayu atap terlihat mulai runtuh dan sebagian sudah ambruk.
Kondisi ini membuat Ma Ahmi selalu dihantui rasa takut, terlebih karena keterbatasan penglihatannya membuat ia tidak bisa bergerak dengan leluasa.
“Kalau hujan atau angin besar, saya takut rumah ini roboh menimpa saya,” ujar Ma Ahmi.
Di usianya yang sudah renta, ia hidup dalam keterbatasan dan tidak memiliki kemampuan untuk memperbaiki rumahnya sendiri.
Satu-satunya harapan yang tersisa adalah perhatian dari pemerintah dan para pemangku kebijakan.
Ma Ahmi berharap ada bantuan perbaikan rumah agar ia bisa menjalani sisa hidup dengan lebih aman dan tenang.
“Saya hanya ingin rumah ini diperbaiki supaya ga takut roboh lagi,” tuturnya.
Kini, Ma Ahmi hanya bisa menunggu kepedulian datang sebelum waktu dan cuaca lebih dulu meruntuhkan satu-satunya tempat berteduh yang ia miliki. (cdp)
