Pertamax Naik Jadi Beban Baru Masyarakat Subang

SUBANG- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax kembali menjadi sorotan di tengah masyarakat. Sejumlah pemuda dan aktivis di Kabupaten Subang mengaku keberatan dengan naiknya harga Pertamax yang dinilai semakin menambah beban ekonomi masyarakat, khususnya bagi para pekerja, pelaku usaha kecil, dan pengguna kendaraan yang sehari-hari mengandalkan BBM nonsubsidi tersebut.
Keluhan tersebut disampaikan sejumlah pemuda dan aktivis yang menilai kenaikan harga Pertamax akan berdampak langsung terhadap meningkatnya biaya transportasi dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Salah seorang aktivis Subang, Rizky, mengatakan kenaikan harga Pertamax tidak hanya dirasakan oleh pemilik kendaraan pribadi, tetapi juga berpotensi memengaruhi harga kebutuhan pokok karena biaya distribusi barang ikut meningkat.
“Kenaikan harga Pertamax tentu menjadi perhatian masyarakat. Ketika harga BBM naik, biaya operasional kendaraan juga ikut naik. Dampaknya bisa merembet ke berbagai sektor, termasuk distribusi barang dan jasa,” ucapnya kepada Pasudan Ekspres Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, kondisi ekonomi masyarakat saat ini masih menghadapi berbagai tantangan. Oleh karena itu, setiap kenaikan harga kebutuhan pokok maupun bahan bakar akan sangat dirasakan oleh masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.
Keluhan serupa disampaikan sejumlah pemuda di Kabupaten Subang. Mereka menilai kenaikan harga Pertamax membuat pengeluaran bulanan semakin besar, khususnya bagi pekerja yang setiap hari menggunakan kendaraan bermotor untuk beraktivitas.
“Bagi masyarakat yang setiap hari bekerja menggunakan kendaraan, tentu kenaikan harga BBM akan terasa. Pengeluaran untuk transportasi otomatis bertambah,” kata seorang pemuda Jalancagak Ahmad.
Selain berdampak pada biaya transportasi, kenaikan harga Pertamax juga dikhawatirkan memengaruhi sektor usaha mikro dan pelaku usaha kecil yang bergantung pada mobilitas kendaraan dalam menjalankan usahanya.
Para aktivis berharap pemerintah dapat memperhatikan kondisi masyarakat sebelum mengambil kebijakan yang berdampak langsung terhadap kebutuhan sehari-hari. Mereka juga berharap adanya langkah-langkah yang dapat menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
Menurut mereka, stabilitas harga energi memiliki peran penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi daerah. Ketika harga bahan bakar mengalami kenaikan, berbagai sektor usaha berpotensi ikut terdampak sehingga perlu diantisipasi dengan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.
Meski demikian, para pemuda dan aktivis mengajak masyarakat untuk tetap bijak dalam penggunaan bahan bakar dan memanfaatkan kendaraan secara efisien guna mengurangi beban pengeluaran di tengah kondisi ekonomi yang dinamis.
“Kami berharap ada solusi yang dapat meringankan masyarakat. Yang terpenting, kebutuhan dasar masyarakat tetap terjangkau dan aktivitas ekonomi dapat berjalan dengan baik,” Tambah Ahmad.(Hdi)
