Rumah Sejarah Kalijati: Saksi Bisu Penyerahan Belanda kepada Jepang di Subang

PASUNDANEKSPRES.ID - Rumah Sejarah Kalijati yang berada di area Lanud Suryadarma, Kabupaten Subang, merupakan salah satu tempat paling penting dalam catatan sejarah Indonesia.
Dari sinilah sebuah peristiwa besar terjadi: penyerahan tanpa syarat tentara Belanda kepada Jepang melalui Perjanjian Kalijati, yang menjadi titik balik kekuasaan kolonial di Hindia Belanda.
Bangunan yang berdiri sejak tahun 1917 ini awalnya merupakan rumah dinas perwira staf Sekolah Penerbang Hindia Belanda. Kini bangunan tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Kemendikbud dan difungsikan sebagai museum yang menyimpan banyak cerita penting dari masa penjajahan.
Bangunan Bersejarah yang Masih Terjaga Keasliannya
Rumah Sejarah Kalijati tetap mempertahankan bentuk asli sejak pembangunannya oleh Belanda lebih dari seabad lalu. Di dalamnya, pengunjung bisa melihat berbagai perabot peninggalan masa kolonial seperti ranjang, kursi-meja kayu, peralatan makan, dekorasi rumah, hingga perlengkapan toilet yang sudah menggunakan shower dan toilet jongkok pada zamannya.
Menurut Andan Fitriah, pemandu museum, bangunan ini awalnya hanyalah rumah dinas biasa untuk para perwira. Namun, karena peristiwa besar yang terjadi pada 8 Maret 1942, bangunan ini kemudian diresmikan sebagai Museum Rumah Sejarah pada 21 Juli 1986 oleh Letkol Pnb Ali BZE, Komandan Lanud Kalijati saat itu.
“Dengan demikian generasi penerus Bangsa Indonesia akan mengetahui tempat tersebut sebagai salah satu tempat bersejarah saat penyerahan kekuasaan penjajahan Belanda kepada Jepang,” jelas Andan.
Kilas Balik Penyerbuan Jepang di Pulau Jawa
Andan menjelaskan bahwa semua peristiwa menuju Perjanjian Kalijati ini berawal dari pendaratan besar-besaran tentara Jepang di Pulau Jawa pada 1 Maret 1942. Pasukan tersebut mendarat di tiga titik strategis:
- Merak, Banten – dipimpin Letjen Hitoshi Imamura
- Pantai Eretan Wetan, Subang – dipimpin Kolonel Shoji
- Pantai Kranggan, Jawa Tengah – dipimpin Brigade Sakaguchi
Pasukan Kolonel Shoji yang berjumlah sekitar 3.000 tentara bergerak cepat menuju PU Kalijati dengan sepeda dan kendaraan tempur. Serangan mendadak ini membuat Belanda tidak siap dan gagal melakukan perlawanan yang berarti. Belanda kemudian mundur ke Bandung, sehingga Jepang berhasil menduduki Kalijati dengan mudah.
Belanda sempat mencoba merebut kembali PU Kalijati dari arah Purwakarta dan Subang. Namun kekuatan udara dan pertahanan Jepang terlalu kuat, membuat moral pasukan KNIL semakin jatuh.
Pertempuran Ciater dan Lembang: Upaya Terakhir Belanda
Setelah menguasai Kalijati, pasukan Kolonel Shoji bermarkas di Pusat Perkebunan Pamanukan–Ciasem. Mereka kemudian bergerak mengejar pasukan Belanda ke wilayah Ciater dan Lembang.
Pada 6 Maret 1942, pertempuran sengit pun terjadi dan menimbulkan banyak korban di kedua pihak. Namun Jepang tetap unggul dan mampu melumpuhkan pertahanan Belanda.
Situasi buruk ini membuat Jenderal Ter Poorten, Panglima Belanda di Hindia Belanda, menghadapi dilema besar. Dalam tekanan, ia akhirnya mengutus Jenderal Pesman untuk melakukan perundingan penghentian tembak-menembak dengan Kolonel Shoji pada 7 Maret 1942.
Namun Jenderal Imamura, pemimpin tertinggi pasukan Jepang di Jawa, menolak perundingan terbatas itu. Ia menuntut agar seluruh pasukan Hindia Belanda di Jawa menyerah tanpa syarat.
Perundingan di Rumah Sejarah Kalijati
Awalnya, perundingan lanjutan direncanakan berlangsung di Jalancagak. Namun karena alasan keamanan, lokasi dipindah ke PU Kalijati, tepatnya Rumah Sejarah Kalijati yang kini menjadi museum.
Pada 8 Maret 1942, peristiwa bersejarah pun terjadi:
- Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang, mengakhiri 350 tahun penjajahan mereka di Nusantara.
Inilah momen yang menjadi salah satu tonggak penting menuju kemerdekaan Indonesia, meski setelahnya negeri ini berada di bawah pendudukan Jepang hingga 1945.
Rumah Sejarah Kalijati bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah saksi bisu dari babak besar perjalanan bangsa Indonesia. Dari sinilah kekuasaan kolonial Belanda runtuh, dan fase baru pendudukan Jepang dimulai yang kemudian berujung pada proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Kini, museum ini menjadi tempat edukasi yang penting bagi masyarakat. Para pengunjung bisa menyaksikan langsung ruang-ruang tempat perundingan dilakukan, serta mempelajari rangkaian peristiwa yang mengubah sejarah Nusantara.
