Tak Kunjung Kelar, DLH Kabupaten Bandung Barat Fokus Atasi Persoalan Sampah

PASUNDANEKSPRES.ID - Mengatasi persoalan lingkungan berupa tingginya volume dan timbulan sampah menjadi salah satu arah kebijakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Barat (KBB). Berbagai upaya ditempuh oleh Kepala DLH KBB Ibrahim Aji di tengah kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti yang telah overload.
"Persoalan sampah di KBB masih menjadi tantangan besar, terutama karena timbulan sampah yang tinggi, kedisiplinan pilah sampah dari sumber yang belum merata, serta keterbatasan kapasitas buang ke TPA Regional Sarimukti yang saat ini dalam kondisi overload," kata Aji.
Produksi sampah di KBB didominasi dari sampah rumah tangga/permukiman. "Disusul pasar/niaga, kawasan aktivitas, perkantoran/sekolah, serta sampah kegiatan lainnya," ucap Aji.
Berdasarkan data, volume timbulan sampah KBB mencapai sekitar 680 ton per hari. Volume timbulan sampah tersebut dihitung berdasarkan pendekatan timbulan (0,362 kilogram/orang/hari) dikalikan dengan jumlah penduduk.
Berbagai upaya, katanya, juga dilakukan DLH KBB untuk mengatasi persoalan sampah di tengah Sarimukti yang overload seperti strategi hulu (pengurangan) dengan mendorong pemilahan sampah dari sumber, pendirian bank sampah, komposting dan pengolahan organik (termasuk maggot/BSF), serta pembatasan sampah residu.
Selain itu, dilakukan pula penguatan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) dengan meningkatkan kapasitas pengolahan di tingkat desa/kawasan agar residu yang dikirim ke TPA berkurang serta kolaborasi dengan lintas pihak.
DLH juga melakukan penertiban dan pembinaan melalui penanganan pembuangan liar, edukasi berkelanjutan, serta pengawasan pengelolaan sampah di kawasan usaha/kegiatan. Strategi jangka menengah juga dirancang dengan memperkuat sistem pengolahan di wilayah sehingga ketergantungan kepada TPA berkurang bertahap. "Salah satunya dengan rencana pembangunan TPST (tempat pengolahan sampah terpadu)," ujarnya.
Pengurangan ketergantungan kepada TPA juga berkaca pada peristiwa kebakaran TPA Sarimukti pada 2023. Peristiwa itu membuat aktivitas pembuangan sampah ke TPA itu terhenti. Keadaan tersebut berdampak kepada terjadinya penumpukan sampah di berbagai wilayah di Bandung Raya.
Pemakaian maggot atau belatung turut menjadi solusi persoalan sampah jenis organik KBB. Hewan yang kerap dianggap menjijikan tersebut justru bermanfaat dalam mengurangi sampah.
Dengan menggunakan belatung, produksi sampah organik menyusut karena dimakan hewan itu. Sementara sampah nonorganik, dipilah dan dimanfaatkan melalui bank sampah serta TPS3R.
Persoalaan lain yang menjadi perhatian DLH KBB adalah pencemaraan air oleh limbah domestik/aktivitas usaha dan sampah. Kualitas udara akibat emisi kendaraan, debu aktivitas, pembaharan sampah, alih fungsi lahan dan keterbatasaan ruang terbuka.
Aji mengungkapakan untuk mengatasi persoalaan tersebut saat ini DLH melakukan monitoring dan pengawasan kualitas air/udara/tanah di titik priorotas juga pembinaan dan penegakan hukum terhadap pelanggaran sesuai ketentuan. Tak hanya itu dilakukan pula rehabilitasi lingkungan, konservasi, pengutan peran masyarakat dan kolaborasi lintas sektor serta edukasi.
Menggandeng masyarakat menjadi jurus jitu DLH guna mengatasi pencemaran air. Seperti edukasi kepada peternak Cisarua soal pemanfaatan limbah kotoran ternak.(ijr/sep)
