Fakta di Balik Insiden Pesawat Jatuh di Karawang: Penyebab dan Kesaksian Pilot

PASUNDANEKSPRES - Sebuah pesawat GA8 Airvan milik BRO Skydive Indonesia melakukan pendaratan darurat di lahan persawahan Kampung Ceplik, Desa Kertawaluya, Kecamatan Tirtamulya, Karawang, pada Jumat (21/11/2025).
Pesawat yang membawa lima orang awak tersebut jatuh sekitar pukul 15.00 WIB dan langsung mendapat pertolongan dari warga serta petugas setempat.
Seluruh penumpang berhasil selamat dan kemudian dibawa ke Puskesmas Tirtamulya untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.
Lalu, apa penjelasan dari pilot dan apa alasan memilih pendaratan darurat? Berikut 10 fakta terkait kejadian pesawat jatuh di Karawang.
Fakta Pesawat Jatuh di Karawang
1. Pesawat melakukan pendaratan darurat di area persawahan
Pesawat GA8 Airvan terjatuh di persawahan Kampung Ceplik, Desa Kertawaluya.
Kepala Desa Kertawaluya, Arta, membenarkan lokasi kejadian dan menyampaikan bahwa warga melihat pesawat terbang rendah sebelum akhirnya berhenti di area sawah.
Ia menjelaskan bahwa pesawat tersebut dalam perjalanan menuju Cirebon saat insiden terjadi.
"Betul, kejadian sekitar jam 15.00 WIB," ujar Arta saat dikonfirmasi melalui telepon, dikutip dari Kompas.com, Sabtu (22/11/2025).
2. Seluruh awak selamat dan dibawa ke puskesmas
Pesawat membawa lima orang, termasuk pilot, teknisi, dan kru.
Semua berhasil selamat dan langsung dievakuasi untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.
Arta memastikan kondisi mereka dalam keadaan stabil.
"Semuanya selamat," ujarnya saat memberikan keterangan mengenai kondisi awal para awak.
3. Pesawat terbang dari Curug menuju Cirebon
Polres Karawang mencatat bahwa pesawat lepas landas dari Bandara Budiarto Curug sekitar pukul 13.50 WIB dengan tujuan Bandara Cakrabhuwana di Cirebon.
Data ini sejalan dengan penjelasan pilot mengenai rute penerbangan.
Kapolres Karawang AKBP Fiki Novian Ardiansyah menyebut perjalanan awal berjalan normal.
Pesawat masih mengikuti jalur yang telah direncanakan sebelum gangguan kemudian terjadi.
4. Masalah mesin terjadi setelah pesawat melewati hujan di Depok
Pilot Eko Agus Nugroho mengungkapkan bahwa kerusakan mesin mulai dirasakan sekitar 10 menit setelah lepas landas.
Pesawat kehilangan daya dorong ketika melintas dalam kondisi hujan di area Depok.
"Jadi, engine masih hidup, parameter engine masih oke, tapi thrust-nya enggak ada, daya dorongnya," ujar Eko, dikutip dari Kompas.com, Sabtu.
Ia menyadari situasi tersebut sebagai indikasi terjadinya loss power sehingga pesawat harus segera mencari lokasi pendaratan yang aman.
5. Alasan tidak memilih Bandara Halim sebagai lokasi mendarat
Eko menjelaskan bahwa Bandara Halim sebenarnya merupakan lokasi terdekat untuk melakukan pendaratan.
Namun, jaraknya yang sekitar 35 mil serta kondisi Jakarta yang padat penduduk dinilai tidak aman.
Menurutnya, pesawat tidak memiliki cukup jarak dan tenaga untuk mencapai Halim dengan selamat.
Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk mencari area terbuka yang lebih memungkinkan untuk pendaratan darurat.
6. Pilot memilih area persawahan untuk mencegah jatuhnya korban
Saat berada di ketinggian 1.000 kaki, Eko melihat hamparan persawahan di sisi kiri dan kanan jalur pesawat.
Ia langsung menetapkan lokasi tersebut sebagai tempat pendaratan darurat agar tidak membahayakan masyarakat di sekitar.
"Secara prinsip, saya mengamankan kru beserta awak. Alhamdulilah semuanya selamat tanpa ada kekurangan satu apa pun," jelas Eko.
Ia menegaskan bahwa keputusan itu diambil dalam waktu yang sangat singkat.
7. Kondisi persawahan membantu memperlambat laju pesawat
Sawah yang menjadi lokasi pendaratan dalam keadaan basah setelah masa panen.
Eko menjelaskan bahwa kondisi tersebut mendukung proses pendaratan karena membantu mengurangi kecepatan pesawat saat menyentuh tanah.
Ia menambahkan bahwa permukaan sawah yang basah menurunkan risiko benturan keras dan turut meminimalkan kerusakan pada badan pesawat.
8. Pesawat sempat terbang rendah dan berputar
Polres Karawang melaporkan bahwa pesawat terlihat terbang rendah dan melakukan putaran sebelum mendarat.
Informasi ini berasal dari keterangan warga dan sesuai dengan hasil analisis teknis yang dijelaskan oleh pilot.
Pihak kepolisian menyebut manuver tersebut dilakukan untuk menemukan lokasi pendaratan yang paling aman.
Gerakan itu menunjukkan upaya pilot untuk tetap mempertahankan kendali hingga pesawat berhasil mendarat.
9. Polisi: gangguan loss power menjadi penyebab awal
Kapolres Karawang menyampaikan bahwa dugaan awal mengarah pada masalah teknis berupa loss power.
Gangguan tersebut menyebabkan pesawat tidak mampu mempertahankan daya dorongnya.
Fiki juga menegaskan bahwa proses olah TKP telah dilakukan. Polisi memasang garis pengaman dan menunggu koordinasi lebih lanjut dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
10. KNKT akan melakukan pemeriksaan lanjutan
Fiki menjelaskan bahwa pesawat masih berada di lokasi pasca-insiden.
"Saat ini pesawat masih berada di lokasi kejadian menunggu penanganan lanjutan dari tim KNKT," ujarnya, dikutip dari Kompas.com, Sabtu (22/11/2025).
Proses evakuasi pesawat serta pemeriksaan teknis selanjutnya akan dilakukan oleh KNKT bersama tim keselamatan penerbangan. Langkah ini bertujuan untuk mengetahui penyebab pasti gangguan mesin.
(dbm)
