Gunung Anak Krakatau Erupsi dan Status Siaga Level III, Puluhan Gempa Hybrid Terekam

PASUNDANEKSPRES.ID - Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, mengalami aktivitas vulkanik yang cukup intens pada Senin, 19 Oktober 2026. Selain beberapa kali mengalami erupsi, aktivitas gunung api tersebut juga ditandai dengan puluhan gempa hybrid yang terekam oleh instrumen pemantauan.
Berdasarkan laporan pengamatan, GAK mengalami tiga kali erupsi pada periode pukul 06.00 hingga 12.00 WIB. Sehari sebelumnya, gunung api ini juga dilaporkan mengalami tujuh kali erupsi hingga Minggu malam, 18 Oktober 2026.
Aktivitas tersebut membuat pemantauan terhadap GAK terus dilakukan secara intensif. Saat ini, status gunung api tersebut masih berada pada Level III atau Siaga.
Tiga Kali Erupsi Terekam pada Senin Pagi
Dilansir dari MetroTVNews, petugas Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau, Amri Puji Hidayatul Muslikhin, menjelaskan bahwa aktivitas erupsi pada Senin pagi hingga siang berlangsung dengan durasi yang bervariasi.
Tiga kali erupsi tersebut tercatat memiliki durasi sekitar 51 hingga 750 detik dengan amplitudo maksimum berkisar 50–55 milimeter. Secara visual, asap kawah terlihat berwarna putih, kelabu, hingga hitam dengan intensitas sedang sampai tebal. Tinggi asap teramati mencapai 50–600 meter di atas puncak kawah.
Pada pukul 09.40 WIB, erupsi juga tercatat melalui seismogram dengan amplitudo maksimum 55 milimeter dan durasi sementara sekitar 6 menit 32 detik. Saat laporan dibuat, erupsi tersebut masih berlangsung, sedangkan tinggi kolom erupsinya tidak teramati secara visual.
Pengamatan visual dan instrumental terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan aktivitas vulkanik serta mengevaluasi potensi bahaya yang dapat ditimbulkan.
Puluhan Gempa Hybrid dan Aktivitas Vulkanik Lainnya Terekam
Selain erupsi, instrumen pemantauan juga merekam sejumlah aktivitas kegempaan yang menunjukkan adanya pergerakan fluida dan dinamika di dalam tubuh gunung api.
Pada periode pengamatan pukul 06.00–12.00 WIB, tercatat 24 kali gempa hybrid dan 16 kali gempa vulkanik dangkal. Selain itu, terdapat tujuh kali gempa vulkanik dalam, lima kali gempa embusan, tiga kali gempa frekuensi rendah atau low frequency, serta satu kali gempa tektonik jauh.
Tremor menerus atau microtremor juga terekam dengan amplitudo 1–14 milimeter dan dominan pada 5 milimeter.
Sementara itu, pada periode pengamatan pukul 12.00–18.00 WIB sehari sebelumnya, tercatat 40 kali gempa hybrid, 17 kali gempa vulkanik dangkal, enam kali gempa frekuensi rendah, dua kali gempa vulkanik dalam, satu kali gempa embusan, satu kali tremor menerus, dan empat kali gempa letusan.
Perbedaan jumlah gempa pada setiap periode menunjukkan bahwa aktivitas kegempaan perlu terus dipantau. Namun, angka tersebut perlu dibaca berdasarkan rentang waktu pengamatan masing-masing dan tidak dapat langsung dibandingkan tanpa mempertimbangkan perbedaan periode pencatatan.
Kondisi cuaca di sekitar Gunungapi Anak Krakatau pada Senin terpantau berawan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat laut, dengan suhu udara berkisar 25,7–32 derajat Celsius dan kelembapan udara 69–85 persen.
PVMBG Larang Aktivitas dalam Radius 5 Kilometer
Dengan status Level III atau Siaga, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan sejumlah rekomendasi keselamatan bagi masyarakat dan pengunjung di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat, wisatawan, pengunjung, serta pendaki dilarang memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi. Larangan juga berlaku dalam radius 1 kilometer dari pulau-pulau baru di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau.
Pembatasan tersebut diberlakukan untuk mengurangi risiko paparan langsung terhadap material erupsi dan bahaya vulkanik lainnya.
PVMBG juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai sejumlah potensi bahaya, antara lain:
- Lontaran batu pijar, yang dapat membahayakan keselamatan orang di sekitar gunung api.
- Hujan abu lebat, yang dapat mengganggu pernapasan dan jarak pandang.
- Aliran lava, yang berpotensi membahayakan wilayah di sekitar pusat aktivitas vulkanik.
- Erupsi sekunder, yang dapat terjadi ketika lava panas bersentuhan dengan air laut atau air hujan.
Masyarakat diharapkan tidak mendekati kawasan berbahaya dan selalu mengikuti perkembangan informasi resmi dari petugas pemantauan gunung api.
Warga Pesisir Banten dan Lampung Diimbau Tetap Tenang
Di tengah meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau, masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung juga diminta tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi mengenai potensi tsunami.
PVMBG mengimbau warga agar tidak menyebarkan kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan terkait erupsi Gunung Anak Krakatau yang disebut-sebut akan menyebabkan tsunami.
Masyarakat tetap dapat menjalankan aktivitas seperti biasa dengan memperhatikan arahan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat serta mengikuti informasi resmi dari instansi berwenang.
Imbauan ini penting agar masyarakat tidak terpengaruh informasi menyesatkan yang dapat menimbulkan kepanikan. Meski demikian, kewaspadaan terhadap perkembangan aktivitas vulkanik tetap perlu dijaga.
Pantau Informasi Resmi Aktivitas Gunung Anak Krakatau
Pemantauan Gunung Anak Krakatau dilakukan melalui pengamatan visual dan instrumen untuk mengetahui perubahan aktivitas serta mendukung evaluasi potensi bahaya.
Masyarakat dapat memantau informasi terbaru melalui situs resmi MAGMA Indonesia dan mengikuti arahan PVMBG maupun BPBD setempat.
Untuk memperoleh informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi:
- PVMBG Bandung: (022) 7272606
- Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau di Pasauran, Banten: (0254) 651449 atau 085846324506
(ipa)
