Opini

Pojokan 214: Nilai Kata

Kang Marbawi.
Kang Marbawi.

Dia tahu nilai setiap kata-kata. Seperti seorang dokter spesialis jiwa yang tahu obat untuk setiap penyakit jiwa. Maka kata itu menjadi sebuah makna dan bermakna. Juga pandangan dan keteguhan prinsip.  

Kata-katanya adalah petanda -seperti disampaikan Ferdinan de Saussure, makna dari bunyi “kata” sebagai penanda.

Kata-katanya menjadi petanda; kepekaan, kepedulian, kesedihan, kekecewaan dan kemarahan. Tak lupa perlawanan kepada kesewenangan. Namun penuh cinta kasih kepada kehidupan. Kepada bangsa dan bumi pertiwi seisinya.

Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah cerminan dari nurani. Nurani yang ditempa pengalaman hidup yang panjang, berat, sakit dan disingkirkan. Melahirkan sikap dan prinsip hidup yang matang bin teguh. Juga bijak-mewujud kharisma.

Membuat kata yang keluar dari kebeningan hatinya, bermakna, bernilai dan sekaligus membakar jiwa dan semangat.  Kata-katanya tak keluar dari kebencian ego pribadi.

Kata yang lahir dari keresahan, kecemasan dan kegelisahan atas penderitaan, keabaian, terhadap nasib rakyat yang dikangkangi. Dikangkangi keserakahan, kesewenangan dan keculasan. Siapapun, tak juga penguasa.

Katanya-katanya tak sama dengan kebanyakan orang.

Kebanyakan orang mempermasalahkan segala hal. Tapi tak benar-benar mempermasalahkan sesuatu yang bermasalah. Dia tahu, mana yang harus diteriakan sebagai sesuatu yang menyalahi prinsip kebenaran. Dan menjadi masalah prinsip.

Dia menyuarakan kebenaran-hati nurani. Nada keras perlawanan pada yang memunggungi kemanusiaan dan hukum. Kebencian pada kemunafikan dan kepalsuan.

Dia berani dengan kata-katanya. Sebab kata-kata yang dikeluarkan adalah suara banyak orang yang tak bisa bersuara. Dia adalah corong dari perlawanan. Dan Dia tak bisa dibeli.

Nilai kata yang dikeluarkan dari Dia, selalu dinanti. Sebab kata yang dikeluarkan dari nuraninya, bukan pencitraan. Sonder buatan, apalagi imitasi. Suara kejujuran. Maka suara itu berani dan keras. Bahkan pedas.

Kata yang dikeluarkannya adalah kata bertuah. Bertuah bagi yang menerima dengan nurani dan ketulusan, serta kesadaran kebeningan jiwa. Namun juga berbisa, bagi demagog keserakahan, ketidakadilan dan manipulator hukum. Dia menyuarakan kebenaran.

Padahal ada adagium “pemenang selamanya benar”. Benar untuk membeli semua yang bisa dibeli. Termasuk suara dan hukum. Iming-iming jatah “kue” yang bisa dibagi, menghiasi. Juga menyuarakan kekalahan yang kalah.

Bisa jadi kata-katanya, tak disukai. Dan itu sudah pasti, siapa yang alergi dengan suaranya. Dianggap suara sumbang para kaum kalah. 

Konon pemenang-bukan yang kalah, menuliskan sejarah. Dan tarikh itu ditulis oleh kuasa lelaki. His-story bukan Her-story.

Tapi, tidak dengan sosok ini. Dia menuliskan sendiri sejarahnya-Her-story.

Sejarah perlawanan terhadap keserakahan, ketidakadilan, kesewenangan sesiapapun. Juga pembelaan terhadap kemanusiaan dan kebenaran.

Dia menuliskan sendiri teksnya. Teks perlawanan. Suara keberanian menyuarakan keteguhan prinsip pada kemanusiaan, keadilan dan hukum. Suara cinta pada tanah air, pada ibu pertiwi.

Dia adalah simbol. Simbol keteguhan hati dan penjaga nilai. Juga penyambung suara terkulai. Tak lupa suara yang tak dijual apalagi promosi untuk dibeli. Dibeli dengan jatah kursi atau Menteri.

Apalagi soal ideologi, Dia tak bisa dikompromi. Teguh, kukuh, puguh dan penuh.

Dia adalah Megawati Soekarno Putri, Sang Anggrek Besi.

Pada versi lain, Iwan Fals pun tahu arti dan nilai dari kata. Kata yang tertuang dalam syairnya.

Seperti Hio, Bongkar, dan Bento. Tak lupa Nyanyian Jiwa yang harus dijaga.

Sang Anggrek Besi adalah “Nyanyian Jiwa”yang harus dijaga. “Matahati” yang terasah. (Kang Marbawi, 100824)

 

Tag :
Berita Terkait
Terkini Lainnya

Lihat Semua