Angka Inflasi di Subang Capai 2,11 Persen, Jojo: Ekonomi Daerah Masih Stabil

PASUNDANEKSPRES.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Subang mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 2,11 persen pada Desember 2025, mencerminkan stabilitas ekonomi daerah di akhir tahun.
Angka tersebut ditunjukkan oleh kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,07 pada Desember 2024 menjadi 111,37 pada Desember 2025.
Kenaikan harga terjadi di hampir seluruh kelompok pengeluaran. Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 8,47 persen. Sementara itu, Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi kelompok dengan andil inflasi terbesar, yakni 1,15 persen.
Sejumlah komoditas utama mendominasi andil inflasi y-on-y, antara lain emas perhiasan (0,30 persen), daging ayam ras (0,17 persen), telur ayam ras (0,14 persen), dan kopi bubuk (0,11 persen).
Sebaliknya, beberapa komoditas justru memberikan andil deflasi tahunan, seperti bawang putih, tomat, minyak goreng, dan beras.
Untuk inflasi bulanan (month-to-month), Kabupaten Subang mengalami kenaikan 0,69 persen pada Desember 2025 dibandingkan November 2025. Komoditas yang paling berpengaruh terhadap inflasi bulanan antara lain daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras, dan emas perhiasan.
Secara kelompok pengeluaran, inflasi tahunan tercatat pada Rekreasi, Olahraga, dan Budaya sebesar 3,20 persen, Pakaian dan Alas Kaki 3,13 persen, Makanan, Minuman, dan Tembakau 2,98 persen, Kesehatan 1,09 persen, Transportasi 0,91 persen, serta Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga 0,68 persen.
Adapun Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan mencatat inflasi terendah, hanya 0,06 persen, dan dinilai tidak memberikan andil signifikan terhadap inflasi daerah.
Akademisi Ekonomi STIESA Subang, Dr. Jojo, S.Pt., M.M., CAEF., C.MTr, menilai capaian inflasi Subang masih berada dalam batas wajar dan mencerminkan kondisi ekonomi yang terjaga.
“Inflasi Subang tahun 2025 tergolong sehat dan tidak bersifat struktural berbahaya,” ujar Dr. Jojo, Akademisi Ekonomi STIESA Subang.
Menurutnya, tekanan inflasi lebih banyak berasal dari sektor pangan dan jasa, bukan dari energi maupun transportasi.
“Tekanan utama inflasi berasal dari pangan dan jasa, dipengaruhi faktor permintaan dan musiman,” ujarnya kepada Pasundan Ekspres.
Meski kondisi makroekonomi relatif aman, Dr. Jojo mengingatkan adanya potensi dampak terhadap kesejahteraan kelompok rentan.
“Secara makro kita aman, namun dampak kenaikan harga pangan perlu diwaspadai, terutama bagi rumah tangga miskin,” tambahnya.
Ia mengapresiasi langkah pemerintah daerah dalam menjaga stok dan distribusi pangan, serta merekomendasikan agar kebijakan pengendalian tersebut terus dipertahankan guna menghadapi tantangan ekonomi 2026.(fsh/ded)
