Disparpora Subang Diminta Perketat Pengawasan Keselamatan Wisatawan

PASUNDANEKSPRES.ID - Disparpora Subang diminta untuk lebih mengutamakan aspek keselamatan wisatawan yang berkunjung ke berbagai objek wisata di wilayah Subang. Permintaan tersebut disampaikan Aktivis Sosial Ulul Fahmi Fauzi menyusul masih adanya potensi risiko kecelakaan dan bencana di sejumlah destinasi wisata, khususnya wisata alam.
Menurut Ulul, keselamatan pengunjung harus menjadi perhatian utama seluruh pengelola wisata, selain tetap menjalankan prinsip-prinsip Sapta Pesona yang selama ini menjadi pedoman dalam pengembangan sektor pariwisata.
"Sebagai langkah antisipasi, pengelola objek wisata harus memperhatikan daya tampung hingga berbagai risiko sebagai upaya mitigasi kecelakaan, kerawanan keamanan, serta keselamatan pengunjung," ujar Ulul kepada Pasundan Ekspres, Rabu (3/6/2026).
Disparpora Subang Perlu Mengambil Langkah Tegas
Ulul menegaskan bahwa Disparpora Subang perlu mengambil langkah tegas dengan mengingatkan seluruh pengelola destinasi wisata agar tidak hanya fokus pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memastikan standar keamanan dan keselamatan diterapkan secara maksima.
Menurutnya, pengawasan tersebut tidak hanya ditujukan kepada pengelola destinasi wisata besar, tetapi juga harus menyasar pengelola desa wisata dan wisata alam yang dinilai masih minim dalam penerapan sistem mitigasi kebencanaan.
"Oleh karena itu, kami meminta Disparpora tegas agar seluruh pengelola destinasi wisata maupun desa wisata memberikan pelayanan prima, terutama yang menyangkut keselamatan wisatawan," katanya.
Ulul mengingatkan, Kabupaten Subang memiliki banyak destinasi wisata alam yang berada di kawasan pegunungan, perbukitan, sungai, dan air terjun yang memiliki potensi risiko bencana alam. Karena itu, kesiapsiagaan menjadi hal yang tidak bisa diabaika.
Maka dari itu Ulul menyarankan agar pengelola wisata menyiapkan berbagai sarana dan prasarana pendukung keselamatan, termasuk petugas khusus yang memahami prosedur penanganan keadaan darurat. Selain itu, pengelola juga harus secara rutin memantau perkembangan cuaca melalui informasi resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Bisa dengan menyiapkan sarana dan prasarana, personel ataupun tim khusus serta selalu memperbarui informasi kondisi cuaca melalui situs BPBD maupun BMKG," ujarnya.
Lebih lanjut, Ulul menilai Disparpora Subang perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan wisata di daerah. Langkah tersebut dinilai penting agar insiden yang menimbulkan korban jiwa tidak kembali terjadi di masa mendatan
Ia menyinggung peristiwa longsor yang terjadi di kawasan wisata alam Curug Cileat pada 14 Mei 2026 lalu yang mengakibatkan korban jiwa.
Menurutnya, kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pengelolaan destinasi wisata alam. "Peristiwa yang terjadi di kawasan wisata Curug Cileat diduga ada kelalaian dari pihak pengelola wisata menyangkut risiko bencana alam. Hal ini harus menjadi perhatian serius," tegasnya.
Ulul menambahkan, destinasi wisata yang berada di kawasan rawan longsor maupun bencana lainnya harus memiliki sistem mitigasi kebencanaan yang jelas dan sesuai standar operasional prosedur (SOP). Dengan demikian, risiko terhadap wisatawan dapat diminimalkan dan keselamatan pengunjung lebih terjamin.
Ulul berharap Disparpora Subang dapat meningkatkan pengawasan dan pembinaan terhadap seluruh pengelola wisata sehingga sektor pariwisata di Kabupaten Subang tidak hanya berkembang dari sisi kunjungan, tetapi juga mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh wisatawan yang datang.(hdi/sep)
