Pemkab Subang Gelar Kejuaraan Renang Perdana Subang Swim Challenge Piala Bupati 2025

SUBANG – Pemerintah Kabupaten Subang bersama komunitas olahraga air resmi menggelar Subang Swim Challenge Piala Bupati 2025, kejuaraan renang perdana yang bertujuan menjaring bibit atlet muda sekaligus mempromosikan kawasan wisata air Ciheuleut sebagai destinasi unggulan.
Ajang ini berlangsung pada Hari ini Sabtu, 9 Agustus 2025, dan menjadi bagian dari strategi Pemkab Subang dalam mempererat sinergi antar klub renang sekaligus mendorong sektor pariwisata dan olahraga daerah.
Dalam talkshow “Lekat” yang disiarkan bersama UPTD Kawasan Wisata dan Olahraga Ciheuleut, Kepala UPTD Alit Sugiantoro, S.AN., M.M., menyampaikan bahwa kompetisi ini juga menjadi momentum memperkenalkan fasilitas unggulan seperti kolam ombak dan kolam arus yang tengah dikembangkan.
“Subang Swim Challenge ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga cara kami menunjukkan bahwa Subang memiliki fasilitas olahraga air berstandar, yang bisa dimanfaatkan sebagai pusat pembinaan atlet dan destinasi wisata keluarga,” ujar Alit.
Kejuaraan terbuka untuk peserta dari berbagai jenjang usia, mulai dari TK hingga SMP, dengan persyaratan dokumen seperti Kartu Keluarga dan Akta Kelahiran. Pendaftaran ditutup tiga hari sebelum hari H atau maksimal dua hari sebelum technical meeting.
Sistem kompetisi mencakup berbagai gaya renang seperti bebas, dada, punggung, dan kupu-kupu. Kategori penghargaan meliputi Perenang Terbaik, Kejuaraan Umum, Klub Terbaik, Pelatih Terbaik, serta per nomor lomba berdasarkan gaya renang.
Setiap peserta akan mendapatkan medali, sertifikat yang ditandatangani Bupati Subang, dan uang pembinaan. Panitia juga menyiapkan 40 juri dan wasit profesional dari berbagai daerah, termasuk Bandung dan Subang, yang berasal dari asosiasi resmi perwasitan renang.
“Kami mengimbau para orang tua agar mendorong anak-anaknya ikut serta. Kompetisi ini bisa menjadi awal dari lahirnya atlet-atlet berbakat dari Subang yang nantinya berprestasi di tingkat lebih tinggi,” tambah Alit.
Meski fokus utama adalah lomba, masyarakat umum juga bisa menonton langsung dengan harga tiket masuk yang telah ditentukan panitia. Alit berharap kejuaraan ini bisa menjadi agenda tahunan minimal satu hingga dua kali setahun.
“Mari kita buktikan bahwa potensi atlet bisa tumbuh dari mana saja, baik dari kampung, desa, hingga kota, selama kita memberi ruang, fasilitas, dan dukungan yang layak,” tutupnya.
