Inovasi Polsub Olah Sampah Plastik Jadi Batako Ramah Lingkungan

SUBANG-Politeknik Negeri Subang (Polsub) memperkenalkan sebuah terobosan inovatif untuk mengatasi persoalan sampah plastik sekaligus mendukung sektor konstruksi. Melalui penelitian dan pengabdian masyarakat, para dosen berhasil mengembangkan teknologi untuk mengubah sampah plastik menjadi batako yang ringan, kokoh, dan tahan air menggunakan metode press ulir.
Inovasi ini disampaikan pada Wisuda IX yang digelar pada Sabtu (13/9/2025). Inovasi disampaikan oleh Azhis Sholeh Buchori, S.Pd., M.Pd selaku Kepala Penjamin Mutu POLSUB saat Orasi Ilmiah tentang Membangun dari Sampah: Pemanfaatan Plastik Menjadi Batako Melalui Teknologi Press Ulir.
Inovasi ini hadir sebagai respons atas data yang menempatkan Indonesia sebagai penyumbang sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia. Plastik yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai dinilai menjadi “bom waktu ekologis” yang mengancam lingkungan dan kesehatan manusia.
Prinsipnya, waste is not the end, but the beginning of a new cycle. Sampah plastik bukanlah akhir, melainkan awal dari siklus baru. Daripada mencemari lingkungan, lebih diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ekonomi, bahkan menjadi pondasi pembangunan.
Batako hasil daur ulang ini disebut memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan batako konvensional. Selain lebih ringan sehingga memudahkan proses pembangunan, batako plastik juga lebih tahan terhadap air dan kelembaban, serta tentunya lebih ramah lingkungan.
Teknologi press ulir dipilih karena dinilai efisien dan mudah diadopsi masyarakat. Mesinnya dapat dirancang semi-otomatis, sehingga memungkinkan untuk dioperasikan oleh UMKM dan kelompok pengelola sampah di tingkat desa.
Menurutnya, ini bukan hanya solusi teknis, tetapi juga membawa dampak sosial dan ekonomi. Masyarakat dapat menjadikan pengolahan sampah plastik ini sebagai peluang usaha, menyediakan bahan bangunan berbiaya rendah, sekaligus membersihkan lingkungan mereka.
Inovasi ini telah diimplementasikan melalui kolaborasi dengan mitra masyarakat, salah satunya UMKM Mekar Mandiri pimpinan Pardi. Kolaborasi ini menjadi laboratorium sosial bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu rekayasa mereka langsung dalam menyelesaikan masalah di masyarakat.
Diharapkan, teknologi sederhana ini dapat menginspirasi lebih banyak komunitas untuk mengubah tumpukan sampah plastik yang selama ini dianggap tidak berguna menjadi bahan bangunan yang kokoh, sekaligus simbol kemandirian dan kebanggaan masyarakat.(ysp)
