Pergerakan Tanah di Cisalak Subang, 25 Rumah Warga Retak dan Terancam Roboh

PASUNDANEKSPRES.ID - Bencana pergerakan tanah terjadi di Kampung Ciwangun, RT 01 dan RT 02 RW 08, Desa Cupunagara, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang.
Akibat kejadian tersebut, sedikitnya 25 rumah warga mengalami keretakan cukup parah hingga dinilai tidak layak huni dan dikhawatirkan roboh sewaktu-waktu.
Kasi Trantib Kecamatan Cisalak, A. Ojang, mengatakan kondisi rumah warga saat ini sangat memprihatinkan. Retakan terjadi di sejumlah bagian bangunan akibat pergeseran tanah yang terus bergerak.
“Lokasi pergerakan tanah ini mengakibatkan kurang lebih 25 rumah warga retak-retak dan tidak layak huni. Kondisinya mengkhawatirkan karena takut roboh,” ucap Ojang kepada wartawan Pasundan Ekspres pada Selasa (19/5/2026).
Menurutnya, wilayah terdampak berada di Kampung Ciwangun RT 01 dan 02 RW 08 Desa Cupunagara, Kecamatan Cisalak. Warga yang tinggal di kawasan tersebut kini dihantui rasa waswas, terutama saat turun hujan karena khawatir kondisi tanah semakin labil.
Ojang menegaskan, lokasi terdampak sangat membutuhkan perhatian dan bantuan dari berbagai pihak, baik pemerintah daerah maupun instansi terkait. Pasalnya, sebagian warga masih bertahan di rumah masing-masing meski kondisi bangunan sudah mengalami kerusakan cukup serius.
“Kondisi ini sangat membutuhkan perhatian dan bantuan karena warga takut rumahnya roboh,” katanya.
Untuk memastikan kondisi di lapangan, jajaran pemerintah kecamatan bersama pemerintah desa langsung melakukan peninjauan ke lokasi bencana. Hadir dalam peninjauan tersebut Camat Cisalak, Kasi Trantib Kecamatan Cisalak, Kepala Desa Cupunagara, Sekretaris Desa, kepala dusun, ketua RW, hingga RT setempat.
Dalam peninjauan itu, aparat melihat langsung kondisi rumah-rumah warga yang mengalami keretakan pada dinding, lantai, hingga bagian fondasi bangunan. Beberapa rumah bahkan terlihat miring akibat tanah di bawah bangunan mengalami pergeseran.
Pergerakan Tanah Khawatir Akan Terus Meluas
Selain merusak bangunan rumah, pergerakan tanah juga dikhawatirkan akan terus meluas apabila intensitas hujan tinggi kembali terjadi di wilayah tersebut. Karena itu, warga diminta tetap waspada dan segera melapor apabila ditemukan tanda-tanda pergerakan tanah susulan.
Pemerintah kecamatan bersama aparat desa saat ini juga tengah melakukan pendataan kerusakan serta kebutuhan mendesak warga terdampak. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya penanganan awal sekaligus pengajuan bantuan kepada pemerintah daerah.
“Kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait agar warga terdampak bisa segera mendapatkan bantuan dan penanganan,” ujar Ojang.
Warga berharap pemerintah segera turun tangan memberikan solusi, baik berupa bantuan perbaikan rumah maupun langkah mitigasi untuk mencegah dampak yang lebih besar. Sebab hingga kini, sebagian masyarakat masih merasa cemas tinggal di rumah yang sudah retak dan terancam roboh sewaktu-waktu.(hdi/ysp)
