Rumah Janda Lansia di Kampung Cibuntu Subang Nyaris Ambruk

PASUNDANEKSPRES.ID - Kondisi rumah tidak layak huni milik seorang janda lansia, Titi Rohaeti (77), warga Kampung Cibuntu RT 20 RW 07, Desa Sagalaherang Kaler, Kecamatan Sagalaherang, Subang, membutuhkan bantuan videonya beredar luas.
Kondisi rumah yang jauh dari kata aman. Atap kayu telah lapuk dimakan usia, genting pun banyak yang bolong dan bergeser sehingga membahayakan penghuninya.
Akibat kondisi rumah yang mengkhawatirkan itu, Titi tidak berani tidur di rumahnya saat malam hari.
“Kalau malam dia tidur di rumah anaknya karena takut tertimpa. Atapnya sudah rapuh sekali. Kalau siang saja dia di rumah, itupun hati-hati,” ujar warga setempat.
Rumah tua itu berdiri sederhana di tengah lingkungan perkampungan. Kondisi dinding dan tiang penyangga menunjukkan tanda-tanda akan roboh. Lantai rumah pun sebagian sudah rusak. Keadaan ini menambah kekhawatiran warga sekitar, terutama ketika musim hujan datang dan angin kencang menggoyangkan bangunan rapuh tersebut.
Menanggapi beredarnya video tersebut, Pemerintah Desa Sagalaherang Kaler memberikan klarifikasi. Melalui Kaur Kesra, Agus, pihak desa menyampaikan kondisi rumah Titi sebenarnya sudah masuk dalam pengajuan bantuan rehab Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).
“Sebetulnya Bu Titi sudah kami ajukan ke forum pendataan Rumah Layak Tidak Huni pada bulan Oktober 2025,” jelas Agus saat ditemui, Rabu (26/11/2025).
Tidak hanya tahun ini, menurut Agus, proposal perbaikan rumah Titi juga sudah diajukan pada tahun-tahun sebelumnya melalui berbagai jalur.
“Kami sudah ajukan lewat beberapa jalur, seperti jalur aspirasi, pengajuan melalui Dinas Sosial, dan program lainnya. Namun sampai saat ini belum ada yang terealisasi,” tambahnya.
Pihak desa sendiri mengakui proses verifikasi pengajuan Rutilahu sering kali membutuhkan waktu panjang karena harus menyesuaikan dengan kuota dan prioritas kabupaten maupun provinsi.
Meski kondisi rumahnya memprihatinkan, Titi disebut rutin memperoleh bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) setiap bulan. Namun, bantuan tersebut tentu tidak mencukupi untuk melakukan perbaikan rumah skala besar.
“Bu Titi juga termasuk penerima PKH. Bantuan tersebut sifatnya untuk kebutuhan hidup sehari-hari, bukan untuk rehab rumah. Karena itu, kami terus perjuangkan agar rumahnya bisa mendapat bantuan perbaikan,” jelas Agus.
Masyarakat Sagalaherang berharap pemerintah daerah maupun provinsi turun tangan lebih cepat, mengingat kondisi yang dialami Titi bukan lagi sekadar ketidaknyamanan, tetapi ancaman keselamatan.
Beredarnya video kondisi rumah Titi Rohaeti telah mendorong banyak warga bersimpati. Beberapa masyarakat menyebut kasus ini harus menjadi perhatian serius, mengingat Titi adalah warga lanjut usia yang hidup seorang diri. Mereka berharap bantuan dapat segera cair mengingat musim hujan yang dapat memperburuk kondisi rumah.“Kami berharap ini segera ditindaklanjuti. Jangan menunggu sampai rumahnya roboh atau memakan korban,” ujar Oman salah satu warga.
Kini, harapan tertuju pada pemerintah daerah agar segera menindaklanjuti pengajuan Rutilahu untuk Titi. Warga pun berharap perhatian publik ini mampu mempercepat proses sehingga Titi dapat tinggal dengan aman dan layak di usia senjanya.(hdi/ded)
