Dedi Mulyadi Ungkap Risiko Pemberantasan Calo Tenaga Kerja, Siap Berhadapan dengan Pihak Mana Pun

PASUNDANEKSPRES.ID - Di tengah upayanya memberantas praktik percaloan tenaga kerja di Subang, Dedi Mulyadi secara terbuka mengungkap adanya risiko besar yang harus dihadapi, termasuk kemungkinan munculnya penentangan dari orang-orang terdekatnya sendiri.
Hal ini menegaskan komitmennya sebagai Gubernur Jawa Barat untuk tetap berpihak kepada masyarakat, meskipun harus menghadapi tekanan politik.
Dalam tayangan YouTube Lembur Pakuan Channel pada 9 April 2026, ia menjelaskan bahwa Subang kini berkembang sebagai wilayah pertanian sekaligus kawasan industri.
Menurutnya, kedua sektor tersebut perlu berjalan seimbang agar saling mendukung. Ia menilai pariwisata bukan tujuan utama, melainkan dampak dari pengelolaan wilayah yang baik.
Jika lingkungan dan infrastruktur tertata optimal, daya tarik wisata akan tumbuh dengan sendirinya tanpa perlu promosi besar-besaran.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah memiliki peran untuk mendampingi masyarakat, termasuk memastikan pengelolaan pariwisata berlangsung tertib dan bebas dari praktik ilegal.
Namun, ia menyoroti masih lemahnya kinerja sejumlah dinas teknis yang dinilai terlalu berfokus pada proyek.
Pengalamannya saat mengelola kawasan Lembur Pakuan menjadi contoh kurangnya respons dari instansi terkait. Ia bahkan harus turun langsung dan menggerakkan aparat di lapangan agar penataan wilayah dapat berjalan efektif.
Menurutnya, pola kerja yang terlalu birokratis justru memperlambat penyelesaian masalah karena lebih menitikberatkan pada administrasi dibanding tindakan nyata.
Di tengah pesatnya pertumbuhan industri di Subang, ia juga menyoroti pentingnya penyerapan tenaga kerja lokal.
Ia menemukan bahwa keterlibatan warga setempat di sektor industri masih rendah, sehingga manfaat pembangunan belum sepenuhnya dirasakan.
Karena itu, ia meminta dinas terkait segera melakukan evaluasi dan menghentikan praktik percaloan tenaga kerja yang dinilai merugikan masyarakat lokal. Meski demikian, ia mengakui bahwa langkah tegas tersebut tidak lepas dari berbagai risiko.
“Resikonya apa? Memang ada musuh. Siapa? Bisa jadi tim sukses kita, bisa jadi orang dekat kita, bisa jadi teman-teman kita yang suka mendukung di Pilkada. Bisa jadi,” ujar Dedi Mulyadi.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa seorang pemimpin tidak seharusnya lagi terikat pada kepentingan kelompok tertentu setelah menduduki jabatan.
“Tapi ingat, ketika jadi pemimpin kita enggak ada keterikatan lagi dengan tim sukses. Kita terikatnya pada negara dan bangsa,” tegas Dedi Mulyadi sambil menepuk podium.
Ia turut menegaskan bahwa pengabdian kepada negara menuntut keberanian untuk menghadapi berbagai risiko, termasuk tekanan, ancaman, hingga kritik tajam.
“Dan yakinlah pada siapapun bahwa kalau kita mengabdi pada bangsa dan negara, mengabdi jadi bupatinya berani kontroversi, berani mengambil keputusan, berani mengambil tindakan, berani didemo, berani diancam, dibunuh, berani apapun, karir itu adalah sesuatu yang akan diberikan oleh Tuhan karena kerja kita,” ujarnya.
Dedi Mulyadi kemudian mengingat kembali pengalamannya saat menjabat sebagai Bupati Purwakarta, ketika ia sering menghadapi beragam tekanan.
“Saya tidak usah nyari yang lain. Saya sendiri, ngomong kontroversi jadi Bupati Purwakarta kurang gimana kontroversinya. Enggak ada bupati yang rumah dinasnya dilemparin pakai batu. Enggak ada,” katanya.
“Enggak ada bupati yang tiap hari didemo tuh enggak ada. Tapi ya alhamdulillah bisa jadi gubernur,” lanjutnya.
Ia juga menegaskan bahwa kepercayaan publik tidak lahir dari pencitraan semata, melainkan terbentuk melalui kerja nyata.
“Tidak usah pakai tim medsos. Elektoralnya relatif baik, gratis. Kenapa itu? Itu adalah akibat dari kerja yang kita lakukan,” ucap Dedi Mulyadi.
Di penghujung pernyataannya, ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama membangun daerah dengan menumbuhkan rasa saling bangga antara pemimpin dan rakyat.
“Untuk itu saya ngajak kalau orang Subang bangga pada saya, saya pun harus bangga terhadap Subang, pemimpin dan rakyat,” pungkasnya.
Ketegasan itu pun langsung disambut dengan tepuk tangan meriah dari para hadirin, sebagai bentuk dukungan terhadap langkah berani dalam mendorong perubahan di Jawa Barat.
