Film Jangan Panggil Mama Kafir Angkat Isu Sensitif, Produser Beri Penjelasan dan Ungkap Judul Asli

PASUNDANEKSPRES.ID - Maxima Pictures merayakan produksi film ke-60 mereka dengan merilis sebuah karya drama keluarga yang mengangkat isu sensitif Jangan Panggil Mama Kafir.
Sadar akan potensi kontroversi dari judulnya, sang produser, Wilza Lubis, memberikan penegasan penting mengenai inti cerita film ini.
Wilza menekankan bahwa meskipun film ini menyentuh isu pernikahan beda agama, fokus utamanya bukanlah pada perdebatan religi.
Sebaliknya, film ini adalah sebuah potret tentang kekuatan ikatan keluarga, terutama antara seorang ibu dan anak.
"Dan sekali lagi ini bukan film religi kalau menurut saya. Ini adalah film tentang keluarga, ibu dan anak yang terbilang keyakinan," tegas Wilza Lubis saat ditemui di Gala Premiere XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (13/10/2025).
Film yang terinspirasi dari kisah nyata ini sengaja dibuat untuk bisa diterima oleh semua kalangan.
Elza G. Dioz selaku produser menambahkan, pesan utama yang ingin disampaikan adalah tentang penerimaan dan toleransi dalam lingkup keluarga.
"Juga secara normatif, agama itu kan, dalam agama Islam tuh melarang memang ya pernikahan beda agama. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari itu tidak bisa dipungkiri banyak yang mengalami hal-hal tersebut," jelas Elza.
Menariknya, judul film ini ternyata bukanlah judul asli. Awalnya, film ini direncanakan akan diberi judul “Janji Maria”, sesuai dengan janji sang karakter utama kepada mendiang suaminya untuk membesarkan anak mereka secara Islam.
"Judul aslinya yang pertama adalah Janji Maria. Lalu dengan pertimbangan yang lain-lain, akhirnya kita ganti lagi, ganti lagi," ungkap Wilza.
Film ini mengisahkan perjuangan Maria (Michelle Ziudith), seorang ibu Kristiani, untuk mempertahankan hak asuh putrinya dari sang ibu mertua (Elma Theana) yang meragukan kemampuannya dalam mendidik anak secara Islam.
Jangan Panggil Mama Kafir Terinspirasi dari Kisah Nyata
Produser Yoen K mengungkapkan, film ini berangkat dari kisah nyata. “Semula judulnya Janji Maria, lalu sempat berubah menjadi Mamaku Kafir, dan akhirnya setelah banyak pertimbangan kami putuskan menjadi Jangan Panggil Mama Kafir,” ujarnya.
Yoen K menegaskan bahwa film ini bukan bertujuan membahas perbedaan agama semata, melainkan menyoroti makna keluarga dan hubungan antara ibu dan anak. “Ini tentang hubungan ibu dan anak yang berbeda keyakinan,” tambahnya.
Produser kedua, Zoya Salsabila, menuturkan alasannya bergabung dalam proyek ini.
Ia merasa cerita Jangan Panggil Mama Kafir relevan dengan realitas masyarakat.
“Ketika membaca naskahnya, saya melihat cerita ini bukan hanya soal agama, tapi tentang penerimaan dan toleransi. Secara normatif dalam Islam, pernikahan beda agama dilarang, tapi dalam kehidupan nyata hal itu sering terjadi,” kata dia.
Jangan Panggil Mama Kafir mengangkat kisah tentang cinta, janji, hingga perbedaan iman yang berujung pada pertarungan hak asuh anak.
Cerita mengisahkan Maria (Michelle Ziudith), seorang perempuan nasrani yang jatuh cinta dengan pria muslim bernama Fafat (Giorgino Abraham).
Penulisan Naskah dari Sudut Pandang Ibu
Penulis skenario, Lina Nurmalina mengungkapkan ia bergabung dalam produksi film ini setelah naskah memasuki draft ketiga yang sebelumnya dikerjakan oleh Archie Hekagery.
Ia merasa kedekatan kisah pribadi dengan tema ceritanya membuat proses penulisan terasa sangat personal.
“Saya diajak Pak Yoen K karena mungkin sisi feminis dan pengalaman pribadi saya yang juga pernah kehilangan suami," kata Lina.
Baginya, Jangan Panggil Mama Kafir bukan hanya soal perbedaan iman, tapi kehilangan dan hubungan ibu-anak.
Lina juga menyoroti kedalaman akting Michelle Ziudith yang memerankan Maria, sosok ibu yang berjuang memenuhi janji kepada mendiang suaminya.
“Saya berterima kasih kepada Michelle karena berhasil mengantarkan emosi karakter dengan sangat baik,” ujarnya menambahkan.
Musik yang Menghidupkan Emosi Alur Cerita
Musisi Billy Simpson turut berbagi kisah di balik proses pembuatan musik film ini. Ia dipercaya untuk menciptakan empat lagu original soundtrack, termasuk lagu berjudul Istanaku yang muncul dalam salah satu adegan paling hangat di film.
“Ada satu adegan di mana Michelle dan Giorgino berdoa dengan cara masing-masing.
Pak Yoen K tanya ke saya, ‘Bil, ada lagu yang cocok buat scene ini?’ Lalu saya ingat lagu Istanaku yang saya tulis di Sorong tahun 2024. Begitu dipasang ke scene, langsung pas banget,” cerita Billy.
Dengan pesan yang kuat tentang cinta dan keluarga, “Jangan Panggil Mama Kafir” sudah tayang di bioskop mulai 16 Oktober 2025.
