Kasus Hantavirus Terus Diselidiki, WHO Pantau Ketat Penyebaran Virus

PASUNDANEKSPRES.ID - Kasus Hantavirus sedang menjadi perbincangan di seluruh dunia setelah srangkaian kematian dan evakuasi darurat terjadi di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Amerika Selatan menuju kawasan Atlantik.
Situasi ini memicu kekhawatiran internasional karena muncul dugaan penularan antarmanusia di ruang tertutup kapal, sesuatu yang selama ini tergolong sangat jarang terjadi pada virus tersebut.
Perhatian dunia terhadap kasus Hantavirus meningkat setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi adanya delapan kasus yang saat ini masih dalam tahap penyelidikan.
Tiga di antaranya telah dinyatakan terkonfirmasi, sementara lima lainnya masih berstatus dugaan.
Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan baru mengenai kemungkinan pola penyebaran virus di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar.
Mengutip BBC Indonesia, sejumlah penumpang dari berbagai negara telah dievakuasi untuk menjalani perawatan intensif.
Seorang pria Inggris berusia 56 tahun, awak kapal asal Belanda berusia 41 tahun, dan warga Jerman berusia 65 tahun dipindahkan ke Belanda setelah menunjukkan gejala serius.
Dua pasien sudah tiba di rumah sakit, sedangkan satu lainnya sempat mengalami penundaan penerbangan evakuasi.
Meski belum seluruhnya dinyatakan positif, dua dari tiga pasien diketahui mengalami gejala yang mengarah pada infeksi Hantavirus.
Kasus Hantavirus di MV Hondius Jadi Sorotan WHO
WHO menyebut kemungkinan penularan terjadi melalui kontak sangat dekat antarpenumpang. Dugaan ini muncul setelah beberapa orang jatuh sakit dalam periode perjalanan yang hampir bersamaan.
Dr. Maria Van Kerkhove dari WHO menjelaskan bahwa pihaknya masih menelusuri apakah virus menyebar setelah kapal berlayar atau salah satu pasien telah membawa infeksi sejak sebelum keberangkatan.
MV Hondius sendiri berlayar dari Argentina sekitar satu bulan lalu dan kini berada di sekitar perairan Tanjung Verde, sebelah barat Afrika.
Foto-foto dari lokasi memperlihatkan petugas kesehatan memakai pakaian hazmat lengkap saat mendekati kapal.
Sebanyak 149 orang dari 23 negara masih berada di atas kapal dan menjalani protokol kesehatan ketat.
Kasus Hantavirus Memicu Kekhawatiran Baru
Munculnya dugaan penularan antarmanusia membuat banyak pihak mulai membandingkan situasi ini dengan awal kemunculan COVID-19.
Meski demikian, WHO menegaskan risiko penyebaran luas kepada masyarakat masih tergolong rendah.
Kasus Hantavirus memang berbeda dari virus pernapasan seperti influenza atau COVID karena penularannya tidak mudah terjadi.
Virus ini umumnya berasal dari hewan pengerat seperti tikus dan mencit melalui urine, air liur, atau kotoran yang terkontaminasi.
Para penyelidik menduga galur Andes menjadi sumber utama infeksi pada kasus di kapal tersebut.
Jenis virus ini diketahui berasal dari Amerika Selatan dan termasuk salah satu varian Hantavirus yang dalam kondisi tertentu dapat menular antarmanusia.
Pihak WHO juga mengungkapkan kapal sempat singgah di beberapa pulau yang memiliki populasi hewan pengerat cukup tinggi.
Meski tidak ditemukan tikus di dalam kapal, kemungkinan paparan selama wisata darat masih terus diselidiki.
Apa Itu Hantavirus dan Seberapa Berbahaya?
Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang dapat menyerang paru-paru dan ginjal manusia. Infeksi berat dapat memicu gangguan pernapasan akut, perdarahan, demam tinggi, hingga gagal organ.
Secara global, diperkirakan terdapat sekitar 150 ribu hingga 200 ribu kasus hantavirus setiap tahun.
Angka tersebut tergolong kecil dibanding penyakit menular lain, namun tingkat keparahannya membuat virus ini tetap diawasi serius oleh dunia medis.
Gejala awal sering kali menyerupai flu biasa, seperti nyeri otot, demam, sakit kepala, dan kelelahan. Dalam kondisi tertentu, pasien bisa mengalami sesak napas berat hingga membutuhkan perawatan intensif.
Hingga kini belum tersedia pengobatan khusus untuk Hantavirus. Penanganan medis lebih difokuskan pada perawatan gejala dan menjaga fungsi organ tubuh pasien tetap stabil.
(pm)
