Rupiah Melemah pada Level Rp17.700 Hari Ini, Jumat 22 Mei 2026

PASUNDANEKSPRES.ID - Rupiah melemah pada level Rp17.700. Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat pagi (22/5).
Penguatan mata uang Negeri Paman Sam yang terus berlanjut membuat rupiah dibuka melemah pada level Rp17.700 per dolar AS dan bergerak di zona merah sejak awal perdagangan.
Rupiah Melemah pada Level Rp17.700 Hari Ini
Dilansir dari Katadata, penguatan dolar AS terjadi seiring meningkatnya optimisme terhadap kondisi ekonomi Amerika Serikat.
Mata uang tersebut tercatat berada di kisaran indeks 99,24 dan sempat menyentuh level 99,515, yang menjadi posisi tertinggi sejak awal April lalu.
Kondisi ini dipicu oleh sejumlah data ekonomi positif dari AS, termasuk penurunan klaim pengangguran mingguan dan peningkatan aktivitas manufaktur ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Data tersebut menunjukkan bahwa ekonomi Amerika masih cukup solid di tengah ketidakpastian global.
Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran turut memengaruhi pergerakan pasar keuangan global.
Perbedaan sikap terkait persediaan uranium Teheran dan pengawasan Selat Hormuz membuat investor cenderung mencari aset aman seperti dolar AS.
Dampak Rupiah Melemah bagi Ekonomi Indonesia
Melemahnya nilai tukar rupiah berpotensi membawa sejumlah dampak terhadap perekonomian nasional.
Salah satunya adalah kenaikan harga barang impor dan kebutuhan pokok akibat tingginya ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku dari luar negeri.
Kondisi tersebut dapat memicu kenaikan biaya produksi pada berbagai sektor industri, termasuk elektronik, makanan kemasan, hingga suku cadang kendaraan.
Akibatnya, harga barang di tingkat konsumen juga berisiko ikut meningkat.
Selain itu, pelemahan rupiah dapat menekan daya beli masyarakat karena kenaikan harga tidak selalu diimbangi peningkatan pendapatan.
Kelompok masyarakat perkotaan dan kelas menengah dinilai menjadi pihak yang paling rentan menghadapi tekanan tersebut.
Di sisi lain, dunia usaha juga menghadapi tantangan akibat meningkatnya biaya operasional.
Sejumlah perusahaan berpotensi melakukan efisiensi untuk menjaga stabilitas keuangan, termasuk mengurangi tenaga kerja apabila tekanan ekonomi terus berlangsung.
Pemerintah pun turut menghadapi beban tambahan karena pembayaran utang luar negeri menjadi lebih mahal ketika dikonversi ke rupiah. Subsidi energi seperti bahan bakar minyak juga berpotensi meningkat jika nilai tukar terus tertekan.
(ipa)
