Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Krisis Bantuan Pangan Global karena Kebijakan Trump. Kelaparan menjadi Masalah Mengerikan!

P
Paramitha AuliaEditor: Paramitha Aulia
|12:52 WIB
Bagikan:
Krisis Bantuan Pangan Global karena Kebijakan Trump. Kelaparan menjadi Masalah Mengerikan!
Krisis Bantuan Pangan Global karena Kebijakan Trump. Kelaparan menjadi Masalah Mengerikan! (Image From: The Guardian)

PASUNDAN EKSPRES - Krisis bantuan pangan global karena kebijakan administrasi Trump. Setelah dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menunjukkan kekuatannya dengan memangkas dan merombak bantuan luar negeri Amerika Serikat.

Ia menciptakan kebijakan yang berdampak pada sistem global. Bantuan luar negeri Amerika Serikat sendiri bertujuan untuk mencegah dan menangani kelaparan di dunia.

Krisis Bantuan Pangan Global karena Kebijakan Trump

Keputusannya untuk menghentikan sementara dana bantuan luar negeri telah menciptakan segudang kekacuan di berbagai program kemanusiaan, memperburuk kondisi jutaan orang yang bergantung pada bantuan pangan. 

Dilansir dari Reuters, Presiden Donald Trump mengeluarkan perintah untuk menghentikan sementara dana bantuan luar negeri selama 90 hari untuk meninjau kembali seluruh program bantuan.

Meskipun Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan bahwa bantuan makanan darurat masih diperbolehkan, kenyataannya banyak program bantuan terhenti sementara akibat ketidakjelasan kebijakan.

Salah satu dampak terbesar dari kebijakan ini adalah penutupan U.S. Agency for International Development (USAID), lembaga utama yang menangani bantuan kemanusiaan AS.

Akibatnya, sekitar 500.000 metrik ton makanan senilai $340 juta tertahan dalam proses distribusi. Bantuan tunai yang seharusnya digunakan untuk membeli makanan di Sudan dan Gaza juga terhenti. Selain itu, dana untuk dapur umum komunitas yang membantu masyarakat miskin di Sudan telah dihentikan.

Kondisi ini semakin parah dengan dikeluarkannya perintah penghentian produksi bagi dua produsen utama suplemen gizi di AS, yaitu Mana Nutrition di Georgia dan Edesia Nutrition di Rhode Island.

Suplemen ini sangat penting untuk menyelamatkan anak-anak yang menderita malnutrisi parah di berbagai belahan dunia. CEO Mana Nutrition, Mark Moore, menegaskan bahwa tanpa bantuan USAID, ratusan ribu anak yang mengalami gizi buruk bisa meninggal.

 Saat ini, konflik global telah menyebabkan meningkatnya jumlah orang yang mengalami kelaparan ekstrem. AS, sebagai donor bantuan terbesar di dunia, telah menyumbangkan sekitar $64,6 miliar dalam bantuan kemanusiaan selama lima tahun terakhir. Ini setara dengan 38% dari total kontribusi global yang dicatat oleh PBB.

Pada tahun 2023, sekitar 282 juta orang di 59 negara mengalami kekurangan pangan ekstrem. Namun, penghentian dana bantuan AS telah memperburuk situasi ini.

Sekitar 30.000 metrik ton bahan pangan, termasuk beras, lentil, dan gandum yang seharusnya diberikan kepada penduduk Sudan yang mengalami kelaparan, kini tertahan di gudang. Sebagian dari stok ini berisiko kedaluwarsa sebelum akhir periode 90 hari penghentian bantuan.

Organisasi kemanusiaan juga menghadapi kebingungan terkait apakah program mereka masih mendapatkan pengecualian dari penghentian dana, karena banyak staf USAID yang ditempatkan dalam status cuti. Tanpa adanya kepastian, distribusi bantuan pangan menjadi terhenti.

Salah satu dampak paling mengkhawatirkan dari kebijakan Trump adalah penutupan Famine Early Warning Systems Network (FEWS NET), sistem pemantauan kelaparan yang telah menjadi andalan dunia dalam mencegah bencana pangan.

Dibentuk pada tahun 1985 setelah serangkaian bencana kelaparan di Afrika, FEWS NET berfungsi memberikan peringatan dini kepada pembuat kebijakan AS mengenai krisis pangan yang membutuhkan respons kemanusiaan. Sistem ini menghasilkan laporan yang menjadi dasar keputusan untuk menyalurkan bantuan pangan ke daerah yang membutuhkan.

Penutupan FEWS NET dianggap sebagai kehilangan besar dalam sistem pemantauan kelaparan global. Tanpa sistem ini, banyak negara dan organisasi kemanusiaan kehilangan sumber utama data yang membantu mereka memetakan dan mencegah krisis pangan.

Beberapa ahli menilai bahwa kebijakan ini bisa mempercepat kembalinya kelaparan di berbagai belahan dunia. Chris Newton, analis di International Crisis Group, menyatakan bahwa kehilangan FEWS NET bisa memicu runtuhnya jaringan pemantauan krisis kemanusiaan secara global.

(ipa)

Berita Terbaru

Kisah Hana Kuraki, Aktris Dewasa yang Meninggal Dunia di Usia 25 Tahun

Kisah Hana Kuraki, Aktris Dewasa yang Meninggal Dunia di Usia 25 Tahun

Nasional8 jam lalu
DP2KBP3A Subang Susun Strategi Tekan Kekerasan terhadap Anak

DP2KBP3A Subang Susun Strategi Tekan Kekerasan terhadap Anak

Subang8 jam lalu
Panitia Mulai Ajukan Anggaran Penyelenggaraan Pilkades

Panitia Mulai Ajukan Anggaran Penyelenggaraan Pilkades

Subang9 jam lalu
Sukseskan Pilkades Dengan Damai, Perangkat Desa Diimbau Jaga Netralitas

Sukseskan Pilkades Dengan Damai, Perangkat Desa Diimbau Jaga Netralitas

Subang9 jam lalu
ADVERTISEMENT
Transportasi Menuju Kawasan Industri Subang: Akses Jalan, Tol, dan Pilihan Transportasi

Transportasi Menuju Kawasan Industri Subang: Akses Jalan, Tol, dan Pilihan Transportasi

Subang9 jam lalu
Fakta Unik di Balik Rencana Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby

Fakta Unik di Balik Rencana Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby

Nasional10 jam lalu
Pekerjaan yang Dibutuhkan Kawasan Industri Subang dan Patimban, Bukan Cuma Operator Pabrik

Pekerjaan yang Dibutuhkan Kawasan Industri Subang dan Patimban, Bukan Cuma Operator Pabrik

Subang11 jam lalu
Beras Fortifikasi Palsu Terungkap, 25 Merek dan Selisih Harga Jadi Temuan

Beras Fortifikasi Palsu Terungkap, 25 Merek dan Selisih Harga Jadi Temuan

Nasional12 jam lalu
Cara Mengatasi Mabuk Perjalanan Paling Ampuh dan Mudah

Cara Mengatasi Mabuk Perjalanan Paling Ampuh dan Mudah

Lifestyle12 jam lalu
Zaenal Mutaqin Sebut Ruang Publik Anak Muda Subang Penting, Ini Alasannya

Zaenal Mutaqin Sebut Ruang Publik Anak Muda Subang Penting, Ini Alasannya

Subang12 jam lalu