Kurs Rupiah Hari Ini 20 Mei 2026 Sentuh Rp17.743 per Dolar AS

PASUNDANEKSPRES.ID - Rupiah Hari Ini 20 Mei 2026 menyentuh angka Rp17.743 per Dolar AS.
Nilai tukar Rupiah pada perdagangan hari ini, 20 Mei 2026, tercatat melemah 37 poin atau sekitar 0,21 persen ke posisi Rp17.743 per dolar AS.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.706 per dolar AS.
Pelemahan Rupiah ini memunculkan perdebatan di kalangan ekonom menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia periode April 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (20/5) siang.
Pelaku pasar kini menunggu langkah penting bank sentral, yakni apakah akan mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75 persen atau menaikkannya menjadi 5 persen guna menahan tekanan depresiasi Rupiah yang semakin dalam.
Dilema antara Stabilitas dan Pertumbuhan
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, secara terbuka merekomendasikan kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen.
Menurutnya, prioritas utama Bank Indonesia saat ini seharusnya difokuskan pada upaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, meski langkah tersebut berpotensi menekan laju pertumbuhan kredit.
“Prioritas utama Bank Indonesia saat ini harus berfokus pada stabilisasi rupiah,” ujar Riefky.
Ia menilai performa rupiah masih cukup lemah dengan depresiasi mencapai 5,50 persen secara year to date (ytd), sehingga hanya sedikit lebih baik dibandingkan lira Turki dan rupee India.
Sementara itu, Kepala Ekonom BCA, David Sumual, bersama Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuannya.
Menurut Myrdal, kenaikan suku bunga saat ini justru berpotensi menambah tekanan terhadap sektor riil yang telah terbebani oleh tingginya nilai dolar AS dan biaya ekspansi usaha.
Tekanan di Pasar Keuangan
Data yang dihimpun menunjukkan tekanan terhadap stabilitas moneter Indonesia tercermin dari derasnya arus modal keluar (capital outflow) serta penurunan cadangan devisa dalam beberapa bulan terakhir, di antaranya:
- Nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.600 per dolar AS
- Arus keluar dari pasar saham pada 15 April–12 Mei mencapai 15 juta dolar AS
- Outflow pasar SBN periode 15 April–8 Mei sebesar 0,4 miliar dolar AS
- Cadangan devisa menyusut lebih dari 10 miliar dolar AS dalam empat bulan terakhir
- Kupon SRBI per 13 Mei naik menjadi 6,4 persen dari sebelumnya 4,9 persen di awal 2026
Faktor Penyebab Rupiah Tertekan
Selain dipengaruhi sentimen global, para ekonom juga melihat sejumlah faktor domestik yang memperburuk tekanan terhadap rupiah, antara lain:
- Kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal akibat rendahnya tax ratio Indonesia
- Fenomena flattening yield curve atau menyempitnya selisih imbal hasil SBN jangka pendek dan panjang yang mencerminkan tingginya risiko jangka pendek
- Faktor musiman seperti meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran dividen luar negeri dan musim haji
Jika Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen, bank sentral diperkirakan akan lebih mengandalkan instrumen non-suku bunga, seperti intervensi valas, optimalisasi SRBI, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), guna menjaga stabilitas pasar dan kepercayaan investor.
Keputusan terkait BI-Rate yang diumumkan siang ini dinilai menjadi penentu penting bagi arah perekonomian Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
