Prabowo Ungkap Penyebab Gaji Guru dan ASN Rendah, Kekayaan Negara Disebut Mengalir ke Luar Negeri

PASUNDANEKSPRES.ID - Presiden Prabowo Subianto mengungkap salah satu penyebab rendahnya gaji guru dan aparatur sipil negara (ASN) di Indonesia. Menurutnya, kondisi tersebut tidak lepas dari aliran kekayaan negara yang selama bertahun-tahun keluar ke luar negeri.
Dalam pernyataannya, Prabowo menyebut bahwa fenomena ini telah berlangsung lama, bahkan sejak beberapa dekade lalu. Ia menilai bahwa meskipun Indonesia memiliki potensi ekonomi yang besar, manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan di dalam negeri.
Kekayaan Negara Disebut Banyak Mengalir ke Luar Negeri
Prabowo menjelaskan bahwa selama puluhan tahun terjadi apa yang ia sebut sebagai “outflow” atau aliran kekayaan nasional ke luar negeri.
Padahal, secara data perdagangan, Indonesia sebenarnya tidak mengalami kerugian. Ia menyebut bahwa nilai ekspor Indonesia selama ini selalu lebih besar dibandingkan impor.
“Kalau kita berdagang, kita menjual lebih banyak daripada membeli. Negara ini seharusnya tidak mengalami krisis ekonomi,” ujarnya.
Data UN Ungkap Potensi Kerugian Besar
Meski secara perdagangan surplus, Prabowo mengungkap adanya potensi kebocoran besar dalam pengelolaan kekayaan negara.
Berdasarkan data yang ia sebut berasal dari lembaga internasional seperti PBB (UN), keuntungan Indonesia selama puluhan tahun tidak sepenuhnya masuk ke dalam negeri.
Ia menyebut bahwa dalam kurun waktu sekitar 22 tahun, terdapat ratusan miliar dolar yang diduga tidak tercatat secara optimal dalam sistem ekonomi nasional.
Dampak pada Gaji Guru dan ASN
Menurut Prabowo, kondisi tersebut berdampak langsung pada kemampuan negara dalam menyediakan anggaran, termasuk untuk gaji guru dan ASN.
Ia menilai bahwa keterbatasan anggaran bukan semata karena kurangnya pendapatan negara, tetapi karena adanya kebocoran dan aliran dana yang tidak kembali ke dalam negeri.
“Ini sebabnya gaji guru rendah, gaji aparat rendah, karena anggaran kita tidak cukup kuat,” jelasnya.
Soroti Praktik Undervoicing
Prabowo juga menyoroti praktik ekonomi yang disebut sebagai undervoicing, yaitu tindakan melaporkan nilai transaksi lebih rendah dari yang sebenarnya.
Menurutnya, praktik ini dilakukan oleh sebagian pelaku usaha dengan cara menjual produk ke perusahaan luar negeri milik sendiri dengan harga lebih rendah dari nilai pasar.
Akibatnya, keuntungan besar justru tercatat di luar negeri, sementara di dalam negeri terlihat lebih kecil.
Pernyataan Prabowo menyoroti pentingnya pengelolaan kekayaan negara yang lebih transparan dan optimal.
Jika kebocoran ekonomi dapat ditekan, maka potensi peningkatan kesejahteraan, termasuk gaji guru dan ASN, dinilai bisa lebih besar di masa depan.
