GURU ISTIMEWA ITU BERNAMA BU SYAMSIAH

Di bawah ini tulisan berjudul "Guru Istimewa Itu Bernama Bu Syamsiah" Ditulis Oleh Idris Apandi, Praktisi Pendidikan, Penulis Buku ”Guru Kalbu”
Pasca viralnya video sikap dan tindakan tidak terpuji yang dilakukan sembilan orang murid kelas XI IPS di SMAN 1 Purwakarta kepada seorang guru bernama bu Syamsiah, lahir sebuah pelajaran besar tentang makna menjadi seorang guru. Dikutip dari wawancaranya dengan sebuah media, Bu Syamsiah atau yang akrab disapa Bu Atun mengaku bahwa sebagai manusia biasa, tentu ia mengaku sedih dan menyayangkan sikap murid-muridnya. Perasaan itu wajar, bahkan sangat manusiawi. Tetapi yang membuatnya istimewa bukan karena ia tidak terluka, melainkan karena ia mampu mengelola luka itu dengan cara yang luar biasa. Ia tidak membalas, tidak melaporkan dengan emosi, dan tidak pula menaruh dendam. Sebaliknya, ia memilih keputusan yang bijaksana, yaitu memaafkan.
Di tengah dunia yang sering mengajarkan balas dendam sebagai bentuk keadilan, Bu Syamsiah justru menunjukkan bahwa memaafkan adalah bentuk kekuatan yang sesungguhnya. Baginya, kenakalan siswa bukanlah sesuatu yang permanen. Ia meyakini bahwa setiap anak memiliki peluang untuk berubah. Keyakinan ini bukan lahir dari teori semata, melainkan dari pengalaman panjangnya sebagai guru sejak tahun 2003. Selama lebih dari dua dekade mengajar, ia memahami bahwa proses menjadi manusia yang utuh memang tidak pernah instan. Ada kesalahan, ada pembelajaran, dan ada kesempatan kedua.
Tidak hanya memaafkan, Bu Syamsiah bahkan mendoakan murid-muridnya. Ia berharap mereka selamat dunia dan akhirat. Sebuah doa yang tulus, lahir dari hati seorang pendidik yang melihat murid bukan sebagai pelaku kesalahan semata, tetapi sebagai manusia yang sedang bertumbuh.
Di sinilah letak kedalaman makna pendidikan. Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses pembentukan karakter. Dan dalam proses itu, adab harus menjadi fondasi utama. Ilmu tanpa adab akan kehilangan arah, sementara adab tanpa ilmu masih memiliki harapan untuk tumbuh.
Kalimat yang diucapkan Bu Syamsiah yang sederhana namun penuh makna, “Semakin siswa melakukan kesalahan, maka dia semakin sayang kepada murid-muridnya serta berupaya mengubahnya menjadi lebih baik” menjadi cermin filosofi pendidikannya. Kalimat ini bukan hanya menyentuh, tetapi juga menantang cara pandang kita. Selama ini, mungkin kita lebih mudah menjauh dari anak-anak yang bermasalah. Padahal justru mereka yang paling membutuhkan kehadiran, perhatian, dan kasih sayang.
Profesi guru, seperti yang ditunjukkan Bu Syamsiah, adalah profesi kemanusiaan. Ia bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan jiwa. Dalam setiap interaksi di kelas, seorang guru tidak hanya mengajar, tetapi juga “memanusiakan manusia.” Proses ini membutuhkan kesabaran yang tidak berbatas, dedikasi yang tulus, dan ketangguhan yang sering kali tidak terlihat.
Apa yang dilakukan Bu Syamsiah juga mencerminkan salah satu kompetensi penting seorang guru sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yaitu kompetensi kepribadian. Ia menunjukkan integritas, kedewasaan, dan kebijaksanaan dalam menghadapi situasi yang tidak mudah. Sebagai guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, ia tidak hanya mengajarkan nilai-nilai moral, tetapi juga mempraktikkannya secara nyata.
Peran guru memang tidak sederhana. Di sekolah, guru adalah pengajar, pendidik, sekaligus orang tua kedua. Bahkan, dalam banyak kasus, guru juga menjadi tempat murid bercerita, mencurahkan kegelisahan, dan mencari arah. Peran-peran ini menuntut lebih dari sekadar kemampuan akademik. Ia menuntut empati, kesabaran, dan kekuatan hati.
Menariknya, jika kita menilik makna nama “Syamsiah”, kita akan menemukan kedalaman filosofi yang seolah menyatu dengan kepribadiannya. Dalam bahasa Arab, kata dasarnya adalah “syams” atau “syamsi” yang berarti matahari. Matahari adalah sumber cahaya yang menerangi bumi tanpa henti, memberi kehidupan tanpa pernah meminta balasan. Ia hadir setiap hari, konsisten, setia, dan tak pernah lelah menjalankan perannya.
Keteladanan Bu Syamsiah
Demikian pula Bu Syamsiah. Keteladanannya telah menjadi cahaya yang menerangi hati murid-muridnya, rekan sejawat, bahkan kita semua yang mendengar kisahnya. Dalam situasi gelap akibat perilaku tidak terpuji, ia hadir sebagai cahaya yang menenangkan, bukan api yang membakar. Ia memilih menjadi terang, bukan memperpanjang kegelapan.
Seperti matahari yang terus bersinar meski hari berganti, Bu Syamsiah pun tidak akan pernah lelah mendidik. Usia yang bertambah dan masa kerja yang semakin panjang tidak mengurangi semangatnya, justru semakin mematangkan kebijaksanaan dan kelembutan hatinya. Ia tetap hadir untuk murid-muridnya, memberikan arah, harapan, dan kesempatan untuk berubah. Perumpamaan ini semakin menegaskan bahwa Bu Syamsiah bukan sekadar guru biasa. Ia adalah sosok yang membawa cahaya. Cahaya keteladanan, kesabaran, dan kasih sayang.
Meski Bu Syamsiah telah memaafkan, proses pembinaan terhadap para murid tetap berjalan. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Purwanto menegaskan bahwa sanksi tetap diberikan sebagai bagian dari pembelajaran. Pembinaan melibatkan guru, psikolog, dan orang tua murid. Ini menunjukkan bahwa memaafkan bukan berarti membiarkan kesalahan tanpa konsekuensi. Justru di sinilah pentingnya pendekatan disiplin positif dan coaching, dimana siswa diajak untuk merefleksikan kesalahan dan memperbaiki diri dengan bimbingan yang tepat. Pendekatan ini menjadi penting agar pendidikan tidak hanya menghasilkan siswa yang patuh karena takut, tetapi juga sadar karena memahami.
Keistimewaan Bu Syamsiah ternyata tidak hanya terlihat di dalam kelas. Di lingkungan masyarakat, ia juga dikenal sebagai sosok yang peduli dan berdedikasi. Sejak tahun 2011, ia mendirikan yayasan anak yatim Daarul Aitam. Ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai yang ia pegang tidak berhenti di ruang kelas, tetapi juga diwujudkan dalam aksi nyata di kehidupan sosial.
Peristiwa yang menimpa Bu Syamsiah mungkin bukan sekadar ujian, tetapi juga jalan untuk menunjukkan kualitas dirinya sebagai seorang pendidik sejati. Dari sebuah kejadian yang menyakitkan, lahir sebuah teladan yang menginspirasi banyak orang.
Kita hidup di zaman di mana penghormatan terhadap guru sering kali diuji. Namun, kisah Bu Syamsiah mengingatkan kita bahwa di tengah tantangan itu, masih ada guru-guru yang tetap teguh pada nilai-nilai luhur. Mereka tidak hanya mengajar dengan kata-kata, tetapi juga dengan sikap dan keteladanan.
Bu Syamsiah adalah cermin bahwa menjadi guru bukan tentang seberapa banyak ilmu yang disampaikan, tetapi seberapa besar hati yang diberikan. Ia menunjukkan bahwa memaafkan bukan kelemahan, melainkan kekuatan. Bahwa mendidik bukan sekadar mengoreksi kesalahan, tetapi juga membuka ruang untuk perbaikan.
Dan dari kisahnya, kita belajar satu hal penting, yaitu
bahwa di balik setiap guru yang hebat, selalu ada cinta yang tidak pernah habis untuk murid-muridnya. Itulah sebabnya, sangat pantas jika kita menyebut Bu Syamsiah sebagai guru istimewa yang menerangi, layaknya matahari. Tabik!
