Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Ketika Hujan Ekstrem Menyentuh Hutan yang Rusak

H
HubaEditor: Huba
|09:16 WIB
Bagikan:
Ketika Hujan Ekstrem Menyentuh Hutan yang Rusak

Oleh : Yulia Enshanty, S.Pd, M.Pd

Guru Geografi di SMAN 1 Warung Kiara, Kabupaten Sukabumi


PASUNDANEKSPRES.ID - Banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Sumatra pada akhir November 2025 menjadi bukti nyata bahwa bencana hidrometeorologi terjadi akibat gabungan antara faktor alam dan kerusakan lingkungan. Siklon tropis Senyar memicu hujan ekstrem dalam waktu singkat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sehingga sungai dan saluran air meluap (Wikipedia, 2025). Curah hujan dengan intensitas tinggi akibat siklon tropis merupakan pemicu utama terjadinya banjir bandang pada banyak wilayah di Asia Tenggara pada periode yang sama (The Guardian, 2025).

Namun sejumlah pakar menyatakan bahwa bukan hujan ekstrem saja yang membuat bencana ini begitu parah, melainkan kondisi lingkungan yang sudah sangat rusak di kawasan hulu. Hutan yang sebelumnya berfungsi sebagai penyerap air, kini banyak berubah menjadi area perkebunan, pemukiman, lahan terbuka, bahkan eks-tambang yang tidak direklamasi (Envidata, 2025). Ketika hutan hilang, kemampuan tanah menyerap air menurun drastis sehingga limpasan permukaan meningkat (Villarreal-Rosas, 2022).

Penelitian di DAS Teunom, Aceh, menunjukkan bahwa perubahan tutupan lahan periode 2009–2019 menyebabkan sekitar 68% wilayah masuk kategori rawan banjir sedang hingga sangat tinggi karena hilangnya vegetasi penahan air (Sugianto, 2022). Dengan kata lain, ketika DAS sudah kehilangan vegetasi penahan air, hujan deras dalam durasi singkat saja dapat langsung berubah menjadi bencana yang besar (Ocampo, 2024). Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya pembangunan di kawasan rawan banjir yang mengurangi daerah resapan air. Sejumlah sungai juga mengalami pendangkalan akibat erosi tanah, membuat kapasitas tampung air semakin berkurang. Akibatnya, wilayah hilir menjadi semakin rentan terdampak banjir bandang.

Ahli hidrologi dari UGM juga menegaskan bahwa akar masalah banjir Sumatra berada pada faktor deforestasi, sementara siklon hanya bersifat pemicu (Kartikasari, 2025). Artinya, meskipun faktor cuaca ekstrem tak selalu bisa dicegah, kerusakan ekologis adalah bagian yang bisa dikendalikan oleh manusia. Jika upaya rehabilitasi hutan dilakukan secara konsisten, kemampuan ekosistem untuk menyerap dan menahan air dapat kembali meningkat. Namun hingga kini, kegiatan alih fungsi lahan masih terjadi secara masif sehingga ancaman banjir terus menghantui setiap musim hujan. Banyak kawasan hutan digantikan dengan perkebunan homogen seperti kelapa sawit yang akarnya tidak seefektif hutan heterogen dalam menyerap air dan menahan tanah. Sistem perakaran tanaman monokultur lebih dangkal dan minim serasah daun, sehingga kemampuan infiltrasi tanah menurun drastis dan limpasan air meningkat tajam ketika hujan ekstrem terjadi (Ullyta et al., 2022).

Dampaknya, kejadian banjir dan longsor memakan korban jiwa, merusak infrastruktur, serta memaksa ribuan warga mengungsi (Wikipedia, 2025). Para pakar mengingatkan bahwa tanpa pemulihan tutupan hutan, penguatan tata kelola DAS dan pengendalian alih fungsi lahan, bencana serupa akan terus berulang, bahkan dengan tingkat keparahan yang lebih besar (Envidata, 2025). Kerugian ekonomi yang ditimbulkan juga sangat besar, meliputi kerusakan lahan pertanian dan putusnya akses logistik. Selain itu, masyarakat terdampak harus menghadapi risiko penyakit dan penurunan kualitas hidup setelah bencana melanda.

Banjir Sumatra 2025 menjadi alarm keras bagi pemerintah dan masyarakat bahwa menjaga hutan bukan sekadar isu konservasi, tetapi penjaga utama keselamatan manusia. Selama lingkungan terus dieksploitasi, setiap hujan ekstrem berpotensi menjadi tragedi yang tak terelakkan. Kesadaran kolektif harus dibangun agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek. Investasi pada perlindungan lingkungan akan memberikan manfaat jangka panjang bagi keberlanjutan kehidupan dan keamanan masyarakat di wilayah rawan bencana.(*)

Berita Terbaru

Persib Bandung Hajar Melbourne Victory 2-0, Maung Bandung Kokoh di Puncak Grup E ACL 2

Persib Bandung Hajar Melbourne Victory 2-0, Maung Bandung Kokoh di Puncak Grup E ACL 2

Olahraga10 menit lalu
Pojokan 329: Kongres Pesugihan

Pojokan 329: Kongres Pesugihan

Opini10 jam lalu
Lantik 3 Pejabat Baru, Jeje: Tempatkan Aparatur Sesuai Kebutuhan Organisasi

Lantik 3 Pejabat Baru, Jeje: Tempatkan Aparatur Sesuai Kebutuhan Organisasi

Bandung Barat12 jam lalu
Antisipasi Banjir, Dinas Perkim Cek Saluran Air dan Irigasi Perumahan

Antisipasi Banjir, Dinas Perkim Cek Saluran Air dan Irigasi Perumahan

Purwakarta12 jam lalu
ADVERTISEMENT
Dinas PUPR Subang Targetkan Proyek Jalan Rampung November

Dinas PUPR Subang Targetkan Proyek Jalan Rampung November

Subang12 jam lalu
Boyke Keturunan Pendiri Purwakarta Rencanakan Gelar Haul Dalem Santri

Boyke Keturunan Pendiri Purwakarta Rencanakan Gelar Haul Dalem Santri

Purwakarta12 jam lalu
Polisi Selidiki Pembegalan Pelajar di Rawamerta Karawang, Ini Perkembangan Terbarunya!

Polisi Selidiki Pembegalan Pelajar di Rawamerta Karawang, Ini Perkembangan Terbarunya!

Karawang14 jam lalu
Lagi, KPPBC Purwakarta dan Satpol PP Temukan 13.560 Batang Rokok Ilegal di Jalur Subang-Cibogo

Lagi, KPPBC Purwakarta dan Satpol PP Temukan 13.560 Batang Rokok Ilegal di Jalur Subang-Cibogo

Headline14 jam lalu
Pabrik Mobil Listrik BYD di Subang Didemo Warga, Soroti Penyerapan Tenaga Kerja Lokal

Pabrik Mobil Listrik BYD di Subang Didemo Warga, Soroti Penyerapan Tenaga Kerja Lokal

Headline14 jam lalu
Deklarasi Damai Pilkades Subang, Bupati Reynaldy Minta Semua Pihak Jaga Kondusivitas

Deklarasi Damai Pilkades Subang, Bupati Reynaldy Minta Semua Pihak Jaga Kondusivitas

Headline15 jam lalu