Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Krisis Literasi Kritis

I
Indrawan SetiadiEditor: Indrawan Setiadi
|10:06 WIB
Bagikan:
Krisis Literasi Kritis
Slamet Wahyudi Yulianto

Slamet Wahyudi Yulianto

Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Subang

Sepuluh tahun lalu, memulai semester tiga masa studi magister di salah satu universitasnegeri di Bandung, saya dan dua teman lain, Nida dan Dewi (sebut saja demikian), setelah melakukan kajian pustaka bersama, untuk tesis kami, memutuskan meneliti literasi kritis peserta didik dalam konteks pengajaran Bahasa Inggris di berbagai level dan lembaga pendidikan formal di Bandung Raya. Selama kurang lebih satu tahun, kami membuat semacam study club atau research group untuk berdiskusi, tukar referensi, saling mengkritisi, mengobservasi, dan melengkapi. Sebetulnya, di angkatan kami, cukup banyak teman lain yang melakukan penelitian dengan topik yang hampir sama. Tetapi, karena memiliki berbagai kesamaan, termasuk kegilaan pada kopi dan berbagai makanan olahan daging sapi, selain pilihan topik kajian yang bersinggungan, kami bertigalah yang intens bertemu dan berkomitmen untuk saling membersamai selama proses penelitian dan penyelesaian studi.

Meskipun sama-sama mengkaji literasi kritis dalam konteks pendidikan Bahasa Inggris, pendekatan, fokus, dan lokus penelitian kami berbeda; Nida di sekolah menengah pertama, Dewi di sekolah menengah atas, dan saya memilih meneliti di perguruan tinggi. Menggunakan empat model literasi kritis milik Luke dan Freebody (1999) sebagai kerangka utama, Nida meneliti tentang bagaimana teks-teks cerita sederhana berbahasa Inggris dapat digunakan untuk membiasakan siswa sekolah menengah pertama mempraktikkan kemampuan berpikir kritis ketika membaca atau menyimak. Dewi, mengadopsi empat dimensi literasi kritis milik Lewison (2002), memutuskan mengkaji bagaimana siswa sekolah menengah atas membiasakan berliterasi kritis saat membaca dan mendiskusikan teks-teks berita berbahasa Inggris. Sementara itu, menggunakan pedagogi kritisnya Freire (2005) sebagai panduan utama, saya memutuskan meneliti tindakan ruang kelas apa saja yang bisa diimplementasikan di mata kuliah Membaca Bahasa Inggris untuk meningkatkan kemampuan literasi kritis mahasiswa. Singkat cerita, secara berurutan, Nida yang pertama berhasil menyelesaikan penelitian dan mampu mempertahankan tesis di ujian sidang, disusul olehsaya, dan terakhir Dewi. Kemudian, karena satu dan lain hal, kami bertiga wisuda di semester yang berbeda.

Saat Dewi diwisuda, satu hari di bulan Juni 2016, kami berkumpul lagi dan bersepakat suatu saat ingin membuat komunitas riset yang kami namai Center for Critical Literacy Studies (CCLS) atau dalam Bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi Pusat Kajian Literasi Kritis (PKLK). Alasan kami ingin membuat lembaga ini, termasuk yang melatarbelakangi penelitian tesis kami, adalah kenyataan bahwa masyarakat kita mudah sekali percaya pada apapun cerita atau informasi yang dikonsumsi. Salah satu konsekuensi logis dari kemudahpercayaan ini adalah, kita kerap abai untuk melakukan tabayyun dankonfirmasi, apalagi konfrontasi, kabar burung atau berita yang diterima. Kita sering malas mencari tandingan, sanggahan, atau alternatif atas informasi yang diterima. Dampakanya, hoax atau berita bohong yang sengaja dikonstruk dan disebarluaskan untuk berbagai kepentingan mudah sekali dipercaya. Sayang sekali, hari ini, keinginan kami membentuk CCLS belum terwujud, dan banyak upaya yang sudah dilakukan oleh berbagai pihak untuk meningkatkan kemampuan literasi kritis siswa (juga mahasiswa) kita pun belum membawa banyak dampak.

Sebetulnya, lebih jauh, literasi kritis bukan hanya tentang memahami yang tersurat tapi juga yang tersirat; tentang apa yang ingin disampikan meski tidak dinyatakan. Ia juga tentang relasi kuasa produsen dan konsumen informasi. Literasi kritis, terutama, adalah tentang bagaimana kita menyikapi teks – baik tertulis, lisan, mamupun visual – di hadapan kita secara kritis dengan cara memahami, mengolah, mencari tahu apa yang ingin dan tidak ingin disampaikan penciptanya, serta memutuskan apakah teks tersebut layak kita manfaatkan atau tidak. Karenanya, mempraktikkan literasi kritis, kita bukan hanya harus mengusai berbagai perangkat komunikasi yang biasa digunakan dalam sebuah teks, tapi juga kemampuan berpikir kritis, dan kapasitas dalam mebuat keputusan yang beralasan.

Hari ini, sepuluh tahun setelah kami melakukan penelitian, kondisi tidak banyak banyak berubah. Diperparah oleh screen time berlebih di mana sebagian besar digunakan semata untuk scroll dan keluar-masuk bermacam akun media sosial, tingkat literasi, apalagi literasi kritis, mayoritas masyarakat berusia produktif kita hari ini tidak bisa dibilang menggembirakan. Cukup banyak penelitian yang membuktikan bahwa Indonesia termasuk negara dengan jumlah waktu yang dihabiskan warganya di media sosial yang terlama. Kondisi ini sedikit banyak berpengaruh terhadap kemampuan masyarakat kita memahami informasi yang dikonsumsi. Kebiasaan menjadi konsumen pasif dari konten yang mengalir deras disajikan algoritma berdasarkan preferensi dan interaksi maya membuat sebagian kita merasa puas dengan hanya menjadi pemamah informasi tanpa kemampuan memilah, mencerna, dan menentukan mana yang harus dimuntahkan dan mana yang aman untuk ditelan. Kebiasaan dan kenyamanan kita menjadi konsumen konten yang pasif di dunia maya cenderung membuat kita menjadi tidak berdaya di dunia nyata; kerap sulit membedakan mana fakta mana dusta, mana kenyataan dan mana rekaan.

Walaupun banyak konten positif di media sosial, tanpa memiliki kemampuan literasi kritis, apalagi literasi dasar, yang mumpuni, tidak akan banyak manfaat yang kita dapat. Hal ini bisa terjadi karena sebagai sebuah teks, setiap informasi yang tersedia di internet pada umumnya, dan media sosial khususnya, tidak pernah hadir dengan sendirinya; informasi atau konten tersebut dikonstruk oleh penciptanya dengan tujuan tertentu. Berhadapan – baik membaca, menonton, atau menyimak – dengan informasi yang dihadirkan tanpa berbekal kapasitas yang cukup untuk menangkap, memahami, dan menelaah muatan yang telah dikonstruk sedemikian rupa, hanya akan membuat kita rapuh dan sangat mudah hanyut tunduk untuk kemudian diarahkan agar mempercayai dan bahkan melakukan tindakan sesuai keinginan penyedia informasi tersebut.

Hal ini tidak hanya berbahaya di tingkat personal tapi juga komunal, karena seperti yang kita semua mafhumi bersama, kecenderungan masyarakat kita untuk membagikan informasi yang bahkan belum benar kita pahami sangat tinggi. Ketidakbecusan kita dalam memamah informasi, mungkin sekali, diakibatkan ketidakterbiasaan kita dalam mengajukan pertanyaan. Karena, seperti yang disinggung di atas bahwa berhadapan dengan teks, dengan berbagai bentuknya yang beragam itu, yang harus kita lakukan adalah sesederhana mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

Meski masih bisa diperdebatkan, banyak penelitian membuktikan bahwa sebagian besar masyarakat kita tidak nyaman dengan pertanyaan; baik sebagai penanya apalagi sebagai yang ditanya. Ketidaknyamanan ini tanpa kita sadari terepresentasikan dalam banyak hal. Contoh paling sederhana adalah kerap kita temukan dalam konteks komunikasi asimetris formal ujaran-ujaran seperti “Mohon izin bertanya,” atau “Maaf, boleh saya bertanya?” yang belakangan makin akut dan mulai sering terdengar di obrolan-obrolan ringan di tongkrongan.Contoh lain yang menunjukkan bahwa sebagian besar dari kita alergi pada pertanyaan adalah bahwa setelah sekian puluh tahun pasca reformasi, kegiatan demonstrasi atau menyampaikan pendapat di muka umum masih mendapat stigma buruk di mata sebagian masyarakat, apalagi pejabat, kita. Belakangan kita menyaksikan bahwa kegiatan mempertanyakan kebijakan publik yang menyangkut hajat hidup orang banyak dianggap sebagai sesuatu yang tabu bahkan mengancam bagi beberapa pihak.

Tindakan Ruang Kelas

Tidak ada satu rumus pasti atau obat manjur yang bisa digunakan untuk mengurai dan menjadi solusi bagi berbagai permasalahan yang dipaparkan di atas. Tidak pula akan ada satu kelompok, apalagi satu orang, yang bisa melakukan perbaikan menyeluruh dari rendahnya tingkat literasi masyarakat kita. Karenanya, untuk pembenahan, semua upaya layak dicoba dan setiap pihak wajib ambil bagian. Meski demikian, bagian terakhir dari esai ini hanya akan fokus pada apa yang bisa seorang pendidik terutama guru lakukan di kelas untuk membantu meningkatkan literasi kritis siswa merujuk kepada hasil penelitian saya dan dua teman lain yang kami lakukan sepuluh tahun lalu.

Disintesis dari hasil penelitian untuk tesis kami bertiga, dapat disimpulkan bahwa ditengah kompleksitas permasalahan pendidikan di negara kita hari ini, ada paling tidak empat tindakan yang dapat dilakukan guru mata pelajaran apapun untuk turut menciptakan proses pembelajaran yang nyaman, aman, dan mendukung pertumbuhan kemampuan literasi (termasuk literasi kritis) siswa. Pertama, menggunakan topik-topik dan isu sosial yang dekat, relevan, dan berkaitan dengan hidup siswa sehari-hari sebagai materi pembelajaran. Kedua, mendorong siswa untuk terus berpikir kritis dan tidak takut bertanya. Ketiga, membagi otoritas di ruang kelas dengan siswa dimulai dengan melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan seperti bagaimana proses pembelajaran akan dilakukan atau dengan siapa mereka ingin berkelompok untuk mengerjakan proyek tugas apa. Terakhir, membuat kelas selama proses pembelajaran sebagai ruang yang nyaman dan aman untuk siswa berpendapat dan benar-benar didengar.

Meskipun demikian, perlu diakui betul, tidak ada resep instan untuk persoalan pendidikan, termasuk rendahnya tingkat literasi kritis masyarkat kita; tidak denganmengirimkan anak yang perlu perhatian lebih ke barak militer dan membuat jam masuk sekolah lebih awal sebelum matahari terbit atau menambah jumlah siswa di dalam satu kelas jadi lima puluh. Persoalan-persoalan pendidikan, saya yakin, juga tidak akan selesai dengan mengalokasikan 44% dari total anggaran pendidikan nasional untuk makan siang.

Berita Terbaru

Kisah Hana Kuraki, Aktris Dewasa yang Meninggal Dunia di Usia 25 Tahun

Kisah Hana Kuraki, Aktris Dewasa yang Meninggal Dunia di Usia 25 Tahun

Nasional10 jam lalu
DP2KBP3A Subang Susun Strategi Tekan Kekerasan terhadap Anak

DP2KBP3A Subang Susun Strategi Tekan Kekerasan terhadap Anak

Subang10 jam lalu
Panitia Mulai Ajukan Anggaran Penyelenggaraan Pilkades

Panitia Mulai Ajukan Anggaran Penyelenggaraan Pilkades

Subang11 jam lalu
Sukseskan Pilkades Dengan Damai, Perangkat Desa Diimbau Jaga Netralitas

Sukseskan Pilkades Dengan Damai, Perangkat Desa Diimbau Jaga Netralitas

Subang11 jam lalu
ADVERTISEMENT
Transportasi Menuju Kawasan Industri Subang: Akses Jalan, Tol, dan Pilihan Transportasi

Transportasi Menuju Kawasan Industri Subang: Akses Jalan, Tol, dan Pilihan Transportasi

Subang11 jam lalu
Fakta Unik di Balik Rencana Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby

Fakta Unik di Balik Rencana Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby

Nasional12 jam lalu
Pekerjaan yang Dibutuhkan Kawasan Industri Subang dan Patimban, Bukan Cuma Operator Pabrik

Pekerjaan yang Dibutuhkan Kawasan Industri Subang dan Patimban, Bukan Cuma Operator Pabrik

Subang13 jam lalu
Beras Fortifikasi Palsu Terungkap, 25 Merek dan Selisih Harga Jadi Temuan

Beras Fortifikasi Palsu Terungkap, 25 Merek dan Selisih Harga Jadi Temuan

Nasional14 jam lalu
Cara Mengatasi Mabuk Perjalanan Paling Ampuh dan Mudah

Cara Mengatasi Mabuk Perjalanan Paling Ampuh dan Mudah

Lifestyle14 jam lalu
Zaenal Mutaqin Sebut Ruang Publik Anak Muda Subang Penting, Ini Alasannya

Zaenal Mutaqin Sebut Ruang Publik Anak Muda Subang Penting, Ini Alasannya

Subang14 jam lalu