Langkah Strategis Akuntan Manajemen dalam Menghadapi Pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS

Oleh: Eko Wiji P
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Akuntan Universitas Surabaya
- Praktisi Akuntan Manajemen pada Industri Manufaktur
- Akademisi STIE Wibawa Karta Raharja
PASUNDANEKSPRES.ID - Nilai tukar mata uang menjadi sebuah gambaran daya saing suatu negara secara global di pasar internasional. Selain itu, juga mencerminkan sedang terjadinya fenomena perekonomian terbuka.
Hal ini salah satunya dapat terlihat dari keterlibatan aktivitas ekspor impor barang dan jasa yang terjadi antarnegara dalam perdagangan internasional.
Fenomena fluktuasi nilai tukar antarmata uang merupakan hal yang biasa terjadi. Ini disebabkan oleh beberapa faktor eksternal maupun faktor internal yang berasal dari sebuah negara.
Faktor eksternal pertama yang dapat mempengaruhi fluktuasi nilai tukar adalah kebijakan moneter dari sebuah negara asing yang hanya cenderung menguntungkan salah satu nilai mata uang suatu negara, seperti dolar AS.
Faktor eksternal yang kedua adalah terjadinya krisis ekonomi global yang dapat menyebabkan pengalihan investasi yang dilakukan oleh investor. Ini dikarenakan adanya rasa tidak aman, sehingga mengalihkan aset yang dimiliki ke tempat yang dianggap jauh lebih aman.
Faktor internal dapat terjadi disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya yang pertama, meningkatnya inflasi yang dapat melemahkan kepercayaan pada mata uang lokal di sebuah negara.
Kedua, kebijakan moneter internal suatu negara seperti kebijakan suku bunga. Fluktuasi suku bunga dari kebijakan moneter yang ditetapkan sebuah negara dapat memberikan dampak terhadap nilai tukar mata uang suatu negara.
Faktor internal ketiga adalah kondisi isu politik. Ketidakpastian kondisi politik dengan jelas dapat mempengaruhi fluktuasi nilai tukar.
Isu politik negatif dapat menyebabkan investor asing menarik investasi mereka yang jelas akan mempengaruhi nilai tukar mata uang sebuah negara.

Fenomena melemahnya nilai tukar mata uang sebuah negara juga terjadi pada negara Indonesia, seperti melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Sejak lima tahun terakhir kondisi nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS cenderung melemah. Rupiah telah kehilangan nilai tukar kurang lebih 19 persen dalam lima tahun terakhir.
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam lima tahun terakhir menjadi salah satu indikator kondisi makro ekonomi Indonesia dan menimbulkan perspektif publik, apakah kondisi Indonesia sedang baik-baik saja atau aktualnya malah sebaliknya.

Isu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di Indonesia dihebohkan dengan adanya fenomena pada 7 April 2025 pukul 14.35 WIB.
Saat itu nilai dolar ke rupiah menembus hingga di angka 17.261 dan mencatatkan posisi terendah sepanjang masa setelah terjadinya krisis di tahun 1998.
Jika dianalisis dengan teori permintaan agregat (AD) dan penawaran agregat (AS), melemahnya nilai tukar rupiah menyebabkan AD meningkat dengan barang ekspor yang dihasilkan oleh dalam negeri lebih murah di pasar dunia, sehingga dapat meningkatkan permintaan ekspor.
Di sisi lain, menyebabkan AS menurun karena biaya produksi menjadi naik, hal ini disebabkan oleh nilai barang impor menjadi lebih mahal.
Melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS berdampak pada seluruh sektor industri di Indonesia, salah satunya industri manufaktur.
Bagi perusahaan manufaktur yang memilki rantai pasok dari luar negeri, jelas akan berdampak secara langsung terhadap keberlangsungan operasionalnya.
Langkah startegis dapat diterapkan oleh akuntan manajemen dalam menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, di antaranya;
*Lindung Nilai (Hedging)*
Strategi lindung nilai dapat dijalankan beberapa instrumen seperti forward contract, futures dan option. Langkah ini diambil untuk melindungi nilai tukar untuk transaksi valuta asing di masa depan.
Akuntan manajemen dapat membuat analisis trade-off serta analisis diferensial antara hedging cost dengan risk loss.
*Manajemen Persediaan (Inventory Management)*
Strategi manajemen persediaan dapat dilakukan salah satunya dengan penerapan metode Economic Order Quantity (EOQ) yang bertujuan untuk menghitung kuantitas pemesanan dalam jumlah yang optimal.
Perusahaan perlu menghitung ulang EOQ untuk mempertimbangkan biaya mana yang lebih besar antara kenaikan biaya impor dan biaya penyimpanan.
*Diversifikasi Rantai Pasok (Supply Chain Diversivication)*
Strategi diversifikasi rantai pasok dapat dilakukan salah satunya dengan cara melakukan lokalisasi terhadap pemasok.
Lakukan kerja sama dengan pemasok lokal untuk menemukan bahan substitusi dan sejenis agar yang tidak bergantung pada bahan baku impor. Hal ini dilakukan guna menjaga stabilitas rantai pasok.
*Penyesuaian Harga Jual (Sales Price Adjustment)*
Strategi penyesuaian harga jual dapat diterapkan idealnya sebelum kontrak kerja sama dilakukan.
Artinya, pada tahap awal negosiasi kerja sama tim penjualan harus melakukan komunikasi yang baik dan meminta persetujuan untuk menggunakan metode Market Based Pricing (MBP) penetapan harga berbasis pasar.
Akan menjadi risiko bagi perusahaan jika kontrak penjualan yang sudah berjalan tidak menggunakan metode MBP, perusahaan perlu menerapkan langkah strategis lainnya seperti review proses internal untuk tetap menjaga target margin yang ditetapkan perusahaan.
Penerapan beberapa strategi di atas memiliki tujuan untuk menjaga margin dan sehingga perusahaan dapat bersaing dengan mempertahankan pangsa pasar.
Perusahaan tetap bertahan dengan nilai kompetitif, profitabilitas tetap terjaga, dan mempertahankan jumlah pelanggan di tengah tekanan dan fenomena melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.(*)
