Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Literasi Cuaca, Budaya Baru yang Harus Ditanamkan

H
HubaEditor: Huba
|11:52 WIB
Bagikan:
Literasi Cuaca, Budaya Baru yang Harus Ditanamkan

Oleh: Yulia Enshanty, S.Pd, M.Pd

Guru Geografi di SMAN 1 Warung Kiara, Kabupaten sukabumi)

Cuaca ekstrem masih menjadi kenyataan nyata di Jawa Barat pada akhir Oktober 2025. Setelah beberapa minggu mengalami suhu tinggi dan langit kering, kini tren cuaca mulai menunjukkan perubahan. BMKG mencatat bahwa cuaca panas yang sebelumnya mendominasi mulai mereda, namun bersamaan dengan itu muncul potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di berbagai wilayah. Kondisi ini menandai masa transisi dari musim kemarau menuju musim hujan yang lebih aktif. Fenomena tersebut tidak sekadar perubahan suhu udara, tetapi juga peringatan bahwa kita perlu belajar memahami bahasa langit, cara alam menyampaikan pesan melalui tanda-tanda cuaca yang bisa kita baca dan pahami.

Perubahan cuaca yang terjadi belakangan ini bukan hal yang tiba-tiba. Aktivitas atmosfer seperti peningkatan pasokan uap air dari Samudra Hindia bagian barat serta adanya pengaruh gelombang atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) turut memicu pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Jawa Barat. Hujan deras disertai petir dan angin kencang kini lebih sering terjadi pada sore hingga malam hari, sementara pagi hingga siang masih terasa panas dengan langit cerah. Kondisi ini menandakan bahwa masyarakat harus lebih waspada terhadap perubahan mendadak dan mulai membiasakan diri memantau prakiraan cuaca harian.

Melalui aplikasi Info BMKG atau situs pemantauan satelit seperti Himawari-9, kita dapat menjadi pembaca langit. Kita dapat melihat warna-warni peta cuaca yang sebenarnya sedang “berbicara”. Warna hitam atau biru tua menunjukkan langit bersih dan kering. Warna kuning hingga oranye menandakan adanya awan menengah dengan potensi hujan ringan. Sementara itu, warna merah pekat hingga ungu menggambarkan pertumbuhan awan badai Cumulonimbus yang berpotensi menimbulkan hujan lebat, petir, dan angin kencang. Dengan memahami pola warna tersebut, masyarakat tidak lagi menjadi penonton pasif terhadap perubahan cuaca, melainkan pembaca aktif yang mampu menyesuaikan aktivitasnya. Mereka bisa tahu kapan harus menunda perjalanan, kapan aman menjemur pakaian, atau bahkan kapan sebaiknya bekerja dari rumah demi keselamatan.

Literasi cuaca tidak hanya sekadar kemampuan membaca citra satelit atau memantau prakiraan hujan. Lebih dari itu, literasi cuaca merupakan bentuk kesadaran terhadap perubahan lingkungan. Bagi pengemudi ojek online di Cianjur atau Sukabumi, memahami radar cuaca bisa membantu menghindari jalan yang tergenang. Bagi petani di Garut dan Tasikmalaya, pengetahuan tentang pola angin dan pembentukan awan dapat menentukan waktu tanam yang tepat. Bagi guru dan pelajar, literasi cuaca bisa menjadi bagian dari pembelajaran geografi dan mitigasi bencana yang kontekstual. Di ruang kelas, misalnya, guru dapat mengajak siswa membandingkan citra satelit harian, mencatat perubahan suhu udara, atau mengamati jenis awan di langit sekitar sekolah. Dari kegiatan sederhana ini, tumbuhlah kesadaran bahwa cuaca bukan sekadar fenomena alam, tetapi bagian dari sistem kehidupan yang memengaruhi keselamatan, ekonomi, dan kesehatan masyarakat.

Budaya literasi cuaca perlu ditumbuhkan di tengah masyarakat. Informasi cuaca seharusnya tidak hanya dianggap sebagai pengumuman formal dari televisi atau media sosial, tetapi menjadi bahan obrolan sehari-hari di ruang keluarga, balai desa, ruang kelas, hingga grup WhatsApp warga. Ketika seseorang mengetahui potensi hujan ekstrem, ia bisa mengingatkan keluarga untuk membersihkan saluran air, mengamankan barang berharga, atau menunda perjalanan jauh. Langkah-langkah sederhana seperti ini merupakan bagian dari rantai kesiapsiagaan masyarakat yang lebih besar.

Di Jawa Barat, yang memiliki bentang alam beragam mulai dari pesisir selatan hingga pegunungan utara, risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan angin kencang akan selalu ada. Oleh karena itu, literasi cuaca menjadi pondasi penting bagi masyarakat yang tangguh bencana. Dengan literasi cuaca, masyarakat tidak hanya bereaksi setelah bencana terjadi, tetapi mampu mengantisipasi risiko sebelum bencana datang. Ketika masyarakat terbiasa memeriksa prakiraan cuaca dari BMKG sebelum beraktivitas, memahami pola awan di langit, dan berbagi informasi cuaca secara bijak, maka literasi cuaca telah berkembang menjadi budaya. Budaya ini menumbuhkan kepedulian, kehati-hatian, dan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Jawa Barat adalah wilayah yang dianugerahi alam indah sekaligus tantangan iklim yang besar. Kita memang tidak dapat mengubah cuaca, tetapi kita bisa mengubah cara memahaminya. Membaca langit berarti membaca kehidupan belajar dari alam agar lebih bijak dan siap menghadapi setiap perubahan. Jika setiap individu menanamkan literasi cuaca dalam rutinitas harian, masyarakat Jawa Barat akan tumbuh menjadi masyarakat yang tidak hanya cerdas, tetapi juga tangguh menghadapi bencana. Karena sejatinya, ketangguhan dimulai dari kesadaran, dan kesadaran itu bisa lahir dari kebiasaan sederhana: membaca langit setiap hari.(*)

Berita Terbaru

Jadwal Persib Bandung vs Persijap Lengkap dengan Prediksi Susunan Pemain

Jadwal Persib Bandung vs Persijap Lengkap dengan Prediksi Susunan Pemain

Olahraga25 menit lalu
Cara Mengatasi Telapak Kaki Kering dan Pecah-pecah, Jangan Tunggu Makin Parah!

Cara Mengatasi Telapak Kaki Kering dan Pecah-pecah, Jangan Tunggu Makin Parah!

Lifestyle33 menit lalu
Bukan Cuma Modal Pengalaman, Ini Tips Lolos Interview Kerja di Pabrik Subang

Bukan Cuma Modal Pengalaman, Ini Tips Lolos Interview Kerja di Pabrik Subang

Jawa Barat1 jam lalu
PPG Bagi Guru Tertentu 2026 Tahap 3: Cek SIMPKB Sekarang

PPG Bagi Guru Tertentu 2026 Tahap 3: Cek SIMPKB Sekarang

Nasional2 jam lalu
ADVERTISEMENT
Link Pengumuman Hasil Seleksi Maganghub Batch 2 Angkatan II, Ini Cara Ceknya

Link Pengumuman Hasil Seleksi Maganghub Batch 2 Angkatan II, Ini Cara Ceknya

Nasional2 jam lalu
DPRD Purwakarta Soroti Dugaan Pemalsuan SLHS, Dinas Kesehatan Diminta Memperketat Proses Penerbitan Dokumen,

DPRD Purwakarta Soroti Dugaan Pemalsuan SLHS, Dinas Kesehatan Diminta Memperketat Proses Penerbitan Dokumen,

Headline3 jam lalu
Tips Lolos Interview Kerja Pabrik Subang, Dijamin Berhasil!

Tips Lolos Interview Kerja Pabrik Subang, Dijamin Berhasil!

Lifestyle3 jam lalu
Bupati Minta 165 Desa Jaga Kondusivitas Dalam Momentum Pilkades Serentak di Subang

Bupati Minta 165 Desa Jaga Kondusivitas Dalam Momentum Pilkades Serentak di Subang

Subang3 jam lalu
Anggota DPRD Zennieta Frara Dorong Program Pemberdayaan Perempuan

Anggota DPRD Zennieta Frara Dorong Program Pemberdayaan Perempuan

Subang3 jam lalu
Diskanak Pastikan Nihil Kasus Rabies di Purwakarta

Diskanak Pastikan Nihil Kasus Rabies di Purwakarta

Purwakarta3 jam lalu