Pojokan 286: Sang Waktu

Hidup ini, habis untuk scroll gadget saja. Seolah status orang adalah barang berharga yang pantang dilewatkan. Demi menyalurkan hasrat komen atas statusnya atau update status sendiri. Konten yang diunggah di media sosial (medsos) menjadi menu utama untuk dilihat.
Tak menyesal menghabiskan waktu berjam-jam “mantengin” medsos atau game. Kelakuan yang hanya menguntungkan pengunggah konten serta penyedia aplikasi. Scroll medsos atau main game menjadi kegiatan utama, sementara kerja hanya sampingan. Itu pun kalau disuruh bos. Kelakuan ini merasuki semua orang, dari berbagai usia tua-muda-anak-anak-balita, selebritis, tokoh, pejabat hingga orang biasa.
Rasanya, kita tak sanggup untuk tak melihat medsos barang semenit pun. Bahkan sejak bangun tidur hingga tidur lagi. Ketika melakukan aktivitas apapun, melihat status medsos menjadi ritual wajib. Walau tak ada yang penting di dalamnya. Herannya kita tak sadar dan terbuai. Seolah konten di medsos adalah kiriman dari surga yang bisa melupakan segala penat dan beban hidup.
Waktu “nutul” medsos/gadget kita adalah komoditas yang ditambang oleh aplikasi dan konten kreator. Kita terperangkap, terjebak, bahkan terjerat menjadi adiksi dalam jebakan algoritma. Algoritma mengarahkan dan menyekap kita. Aktivitas medsos kita dipantau algoritma. Hasilnya, di gadget kita ternotiv segala hal yang berkaitan dengan jejak digital kita.
Algoritma medsos mengubah waktu dan hidup kita menjadi ilusi. Menegaskan apa yang disampaikan si gondrong jabrig-Albert Einstein bahwa kita terikat ruang dan waktu. Algoritma mengembangkan sabda Imanuel Kant, orang Jerman yang brewok itu menyatakan, waktu -termasuk“mlototin” medsos, menyatu dalam akal budi dan pikiran. Dan keduanya disatukan algoritma dalam Ilusi waktu yang dibuang percuma di dunia maya. Menjadi simulacranya Jean Baudrillard.
Waktu di dunia simulacrum menjadi bias. Seperti disampaikan filsuf St. Agustinus bahwa kita secara bersama-sama terikat pada waktu objektif - detik, menit, jam, hari, bulan hingga tahun, menjadi subjektif - waktu yang “terasa”.
Waktu menjadi terasa singkat ketika tangan, mata dan pikiran terpaku pada medsos atau bersama pacar. Berjam-jam pun dijabani. Asal tak diganggu hajat alami. Bahkan panggilan Tuhan pun diabaikan. Sementara ketika menunggu antrian atau terjebak macet, waktu seolah berhenti.
Demikian pula, waktu bersifat temporalitas (rangkaian peristiwa yang dialami), terbatas (hingga dia mati), sekaligus berdimensi abadi (yaum middiiin-al-Akhir-future), tak berubah sebagai waktu objektif (present). Ruang, individu dan dzat lah yang berubah seiring waktu objektif yang dikonsep manusia. Keabadian waktu, berkelindan dengan keterbatasan waktu yang dimiliki (kesempatan) manusia selama dia hidup.
Sejatinya waktu adalah konstruk sosiologis yang paling berpengaruh dalam kehidupan manusia. Emile Durkheim, menahbiskan bahwa masyarakat menciptakan struktur waktu untuk mengatur ritme kehidupan sehari-hari. Waktu juga menjadi bagian dari cara masyarakat mengatur kehidupan dan hubungan antar individu. Karenanya waktu objektif/subjektif berkaitan dengan struktur sosial, kekuasaan dan ekonomi.
Bahkan Max Weber menyatakan dalam masyarakat modern, waktu menjadi lebih terorganisir dan dikelola secara efisien. Dalam sistem kapitalisme industri, waktu menjadi komoditas yang sangat bernilai, di mana produktivitas sangat bergantung pada pengelolaan waktu yang tepat. Lihat saja sistem jam kerja, lembur serta sistem out sourching, menunjukkan waktu adalah komoditas yang harus dikelola maksimal.
Bagi seseorang, waktu bisa bersifat insidental (peristiwa yang terjadi pada dirinya). Maka seperti yang disampaikan Martin Heideger bahwa setiap individu mengalami tiga konsep waktu; dulu, sekarang/saat ini dan yang akan datang/masa depan.
Masa lalu adalah track record nilai/pengalaman diri, menjadi biografi seseorang. Ada orang yang dirundung penyesalan, dendam, amarah dan hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Menjelma menjadi ketakutan atas ilusi pikiran sendiri. Melahirkan derita atau ketakbersyukuran atas hidup. Atau mengagungkan romantisme masa lalu tanpa melihat masa kini dan yang akan datang.
Masa lalu menjadi catatan referensi yang selalu dianggit, diungkit, atau menjadi manaqib. Maka waktu memiliki dimensi sejarah, kekinian sekaligus futuris-harapan, yang tak terputus dan saling memengaruhi.
Karenanya dalam konteks waktu sosialogis, kita harus memahami sistem nilai yang dianut dalam kehidupan sosial. Agar waktu yang dijalani saat ini menjadi berarti dan bermanfaat. Sehingga waktu yang terbatas tersebut, kita tak mendapat label “al-khusr”, orang yang merugi karena menyia-nyiakan waktu, seperti dalam surat Al-Ashr. Tergilas waktu.
St. Augustine dalam karyanya Confessions menahbiskan, waktu hanya ada dalam kesadaran manusia: masa lalu adalah kenangan, masa depan adalah harapan, dan masa kini adalah satu momen yang terus bergerak. Pergerakan untuk selalu memanfaatkan waktu pada hal-hal yang produktif, positif dan bernilai. Atau sebaliknya! Ini soal pilihan dan komitmen. Kita hidup bukan seperti di film fiksi Back to The Future nya Marty McFly dan ilmuwan eksentrik Dr. Emmett Doc Brown yang menjelajahi ruang waktu masa lalu dan masa depan menggunakan mobil DeLorean.
dilihat sebagai pengukuran siklus linear, pergerakan menit, jam, hari, bulan atau tahun. Namun waktu linear yang memiliki elemen spiritual, berkaitan dengan transformasi kesadaran, proses pencerahan jiwa menuju pemahaman yang lebih tinggi.
Dalam bahasa sederhana, bertambahnya waktu linear-umur adalah bertambahnya kedewasaan dan kebijaksanaan. Sehingga waktu dipahami sebagai sebuah siklus sekaligus ilusi medan energi yang memungkinkan seseorang merasakan realitas yang lebih luas dan mendalam. Tengok saja para sufi yang bermeditasi, bertahannus menyatukan dirinya dengan semesta sang Pencipta.
Akhirnya, waktu adalah kesadaran tentang diri. Kesadaran untuk belajar dan merefleksikan diri pada masa lalu, memperbaiki dan memaksimalkan diri pada saat ini. Serta bekerja keras, disiplin, konsisten, serta komitmen untuk meraih visi di masa depan.
Tak terjebak pada ritual mantengin medsos di gadget sampai “belekan”. Rela menghabiskan waktu yang sejatinya terbatas. Padahal kita hidup untuk menunggu “dipanggil”. Diberi kesempatan untuk hidup yang berarti untuk sesama atau menjadi pecundang.
Seperti tahun-tahun lalu yang selalu dibuang percuma. Tahun baru adalah sekedar penanda waktu objektif untuk berhenti sejenak berlaku epoche, melakukan perenungan-mengosongkan pikiran dan diri dari syahwat. Merefleksikan apa yang telah dilakukan pada masa lalu, untuk dikuatkan dan diperbaiki pada saat ini, demi masa depan/tahun yang akan datang yang lebih cerah.
Di sinilah letaknya perenungan di setiap waktu. Tidak hanya pada saat tahun baru yang hanya ilusi waktu sosiologis. Tapi tetap saja, kita sampaikan “Selamat Datang Tahun 2026”. Tahun harapan, recoveri, sekaligus mewujudkan kehidupan yang lebih berarti dan bermanfaat untuk sesama. (Kang Marbawi 030126)
