Jelang Ramadhan di Purwakarta, Tradisi Ziarah Kubur jadi Tempat Pererat Silaturahmi dan Moment Spiritual

PASUNDANEKSPRES.ID - Pemakaman bukan hanya sebagai tempat pemakaman jenazah, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk merawat tali silaturahmi, melakukan ibadah spiritual, dan menjalankan tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan lokal.
Di area pemakaman yang terawat rapi, terlihat banyak santri di halaman pemakaman R.Mohammad Yusuf Bin R.Djaja Negara atau warga Purwakarta biasa memanggil Syekh Baing Yusuf.
Ribuan Warga khususnya jamaah santri dari berbagai pondok pesantren, hadiri makam keramat tersebut untuk membaca Al-Qur'an bersama dan berdoa.
"Pemakaman ziarah ini telah berdiri sejak tahun 1880-an. Selain berfungsi sebagai tempat pemakaman keluarga keturunan Ningrat asli tokoh masyarakat, jelang Ramadhan banyak diziarahi (didatangi) untuk berdoa bersama," ungkap Ustd Maman salah seorang pengurus makam yang berlokasi di depan Masjid Jami Baing Yussuf yang berlokasi persis di depan Pemkab Purwakarta.
Sebagai tokoh agama pada zamannya, keramat Syekh Baing Yusuf memang kerap dan ramai dikunjungi, baik di hari biasa juga di hari-hari tertentu khususnya jelang Ramadhan.
"Kami biasanya datang ke pemakaman ziarah Syekh Baing usai mengunjungi makam orang tua. Bersama para santri, kami rutin datang ziarah kesini," ujar Ketua Pondok Pesantren Riyyadhul Mubtadidhin Campakasari, H Umar Hamzah kepada Pasundan Ekspres.
Bagi sebagian masyarakat, ziarah pemakaman bukan hanya tempat untuk mengenang orang tersayang, tetapi juga menjadi ruang yang penuh berkah untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas.
"Memang tidak semua warga berziarah ke makam keramat, tapi bagi kebanyakan jamaah/santri Nahdhatul Ulama (NU), jaroh kesini sudah menjadi tradisi," pungkasnya.(mas/sep)
