172 Bencana Melanda Subang, Sudah Renggut Delapan Korban Jiwa

SUBANG–Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Subang melaporkan sepanjang periode Januari hingga Juni 2025, telah terjadi sebanyak 172 kejadian bencana di berbagai wilayah.
Bencana yang tercatat mencakup banjir, tanah longsor, kekeringan, hingga angin kencang. Kabupaten Subang menghadapi tantangan serius terkait bencana alam.
Kepala Seksi Rehabilitasi BPBD Subang, Abi Tommy, yang akrab disapa sebagai “bapak asuh kemanusiaan,” menuturkan, sebagian besar kejadian didominasi oleh angin kencang dengan 100 peristiwa. Sementara itu, bencana lainnya meliputi 13 banjir, 44 tanah longsor, 1 kekeringan, serta 9 kejadian human rescue.
“Dampak dari bencana ini sangat besar. Kami mencatat 8 orang meninggal dunia, 2 orang hilang, dan 2.683 KK atau sekitar 7.717 jiwa terdampak,” ujar Abi Tommy saat dihubungi Pasundan Ekspres, Rabu (20/8/2025).
Selain korban jiwa, bencana juga mengakibatkan kerusakan serius terhadap pemukiman warga. Data BPBD mencatat 22 rumah hancur, 59 rumah rusak berat, 83 rumah rusak sedang, 20 rumah terancam, dan 642 rumah terendam.
Tidak hanya itu, sejumlah fasilitas umum pun ikut terdampak, meliputi 8 satuan pendidikan, 4 tempat ibadah, 229 hektare sawah, 117 kolam ikan, serta 9 ruas jalan (6 terancam dan 3 terendam).
Abi Tommy menjelaskan, terdapat empat kecamatan dengan tingkat kejadian bencana tertinggi, yakni Kecamatan Subang dengan 49 kejadian, Kecamatan Cisalak 13 kejadian, Kecamatan Pagaden 12 kejadian, dan Kecamatan Ciasem 10 kejadian.
Menurutnya, tingginya intensitas bencana tersebut harus menjadi perhatian bersama. BPBD Subang berkomitmen untuk terus berupaya meminimalisir kerusakan maupun korban jiwa akibat bencana, baik yang bersifat alam maupun nonalam.
“Bencana adalah urusan bersama, bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga harus memiliki kesadaran dan pengetahuan tentang potensi risiko bencana di lingkungannya masing-masing,” jelasnya.
Oleh karena itu, BPBD menekankan pentingnya sosialisasi, edukasi, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana. Upaya tersebut dinilai menjadi kunci dalam menekan risiko bencana dan dampak yang ditimbulkan di masa mendatang.
Kondisi geografis Subang yang beragam, mulai dari daerah pegunungan hingga pesisir, potensi bencana selalu ada dan harus diantisipasi. Harapannya, kolaborasi antara pemerintah, BPBD, dan masyarakat bisa semakin kuat dalam mewujudkan Subang yang tangguh menghadapi bencana.
BPBD Siaga Hadapi Berbagai Bencana
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Subang, Udin Jazudin mengatakan, pihaknya telah bersiaga untuk menghadapi berbagai kemungkinan bencana yang dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan.
"Kami mengimbau masyarakat, terutama yang berada di daerah rawan bencana, agar tetap waspada dan melakukan langkah-langkah antisipasi," kata Udin, beberapa waktu lalu.
Dia menyebut, curah hujan yang tinggi berpotensi menyebabkan banjir di wilayah Pantura, longsor di daerah pegunungan di Selatan, serta pohon tumbang di beberapa titik perkotaan.
BPBD Subang mengingatkan warga di kawasan Pantura, seperti Pamanukan, Legonkulon dan sekitarnya, untuk selalu memantau kondisi air sungai yang berpotensi meluap. Masyarakat juga diminta untuk tidak membuang sampah sembarangan agar saluran air tetap lancar.
Sementara itu, bagi warga yang tinggal di daerah perbukitan dan tebing di wilayah Selatan Subang, seperti Kecamatan Ciater dan Kasomalang, diharapkan mewaspadai potensi tanah longsor. "Hujan deras yang terus mengguyur belakangan ini dapat menyebabkan pergeseran tanah dan membahayakan pemukiman di sekitarnya," terangnya.
Di wilayah perkotaan, BPBD Subang juga mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap kemungkinan pohon tumbang akibat angin kencang. Pengendara diminta untuk menghindari parkir kendaraan di bawah pohon besar dan lebih waspada saat melintas di jalanan yang banyak ditumbuhi pohon rindang.
"Kami juga mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan kejadian bencana melalui kanal aduan BPBD agar bisa segera ditangani," tambahnya.
Masyarakat diharapkan untuk selalu mengikuti perkembangan cuaca dari BMKG serta memperhatikan peringatan dini yang dikeluarkan oleh pihak berwenang. Jika terjadi kondisi darurat, lanjut Udin, segera menghubungi BPBD Subang atau aparat setempat agar tindakan cepat bisa dilakukan. "Dengan langkah antisipasi yang tepat, diharapkan dampak dari cuaca ekstrem ini bisa diminimalisir, dan keselamatan warga tetap terjaga," pungkasnya.(ijl/cdp/ysp)
