Dosen POLSUB Atasi Masalah Sampah, Ubah Sampah Plastik Jadi Batako

SUBANG-Tumpukan sampah plastik yang kian menggunung di Kabupaten Subang kini menemukan titik terang. Sejumlah dosen dari Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Subang (POLSUB) meluncurkan program inovatif untuk mengubah limbah plastik menjadi bahan bangunan bernilai jual tinggi.
Melalui program pemberdayaan masyarakat yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, tim dosen yang terdiri dari Azhis Sholeh Buchori, Aditya Nugraha, dan Slamet Rahayu berfokus pada permasalahan sampah yang membelit Desa Sukamulya, Kecamatan Pagaden.
“Sampah plastik banyak ditemukan di sungai, jalanan, serta area permukiman, yang berkontribusi pada pencemaran lingkungan dan masalah kesehatan. Belum ada program yang baik untuk menampung dan menanggulangi sampah plastik yang menumpuk,” ungkap Azhis.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim POLSUB mengadopsi dua pendekatan utama. Pertama, mereka memperkenalkan teknologi mesin pencetak batako semi-otomatis yang memanfaatkan limbah plastik daur ulang sebagai bahan dasar.
Inovasi ini tidak hanya mengatasi masalah sampah, tetapi juga menghasilkan batako ramah lingkungan yang bisa menjadi alternatif bahan bangunan.
Kedua, untuk meningkatkan efektivitas pengumpulan sampah dan keterlibatan warga, tim ini mengimplementasikan bank sampah digital.
“Pendekatan ini akan meningkatkan efektivitas pengumpulan sampah plastik dan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah,” tambah Azhis.
Program yang dimulai sejak 7 September 2025 ini merupakan hasil kolaborasi dengan kelompok masyarakat Mekar Mandiri, sebuah mitra yang bergerak di bidang pengelolaan sampah dan pemberdayaan ekonomi berbasis lingkungan. Aditya Nugraha menjelaskan, "Melalui kolaborasi ini, kami bekerja sama dalam pengelolaan sampah melalui pendekatan yang inovatif.”
Inisiatif ini menawarkan manfaat ganda, baik dari sisi sosial maupun ekonomi. Secara sosial, program ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang bijak, menciptakan lingkungan desa yang lebih bersih dan sehat, serta membangun kolaborasi antar komunitas.
Secara ekonomi, program ini berpotensi membuka peluang usaha baru bagi warga. “Kami berkeinginan bisa menjadi fasilitator untuk membuka peluang usaha baru berbasis pengolahan sampah plastik menjadi batako, meningkatkan pendapatan warga melalui bank sampah digital, serta terciptanya mata rantai ekonomi sirkular di tingkat lokal yang berkelanjutan,” harap Azhis.
Dengan inovasi ini, Desa Sukamulya diharapkan bisa menjadi percontohan pengelolaan sampah berbasis teknologi dan ekonomi sirkular. Langkah ini tidak hanya berpotensi mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui inovasi sosial dan ekonomi.(ysp)
