Hikmah Ramadhan: Kedepankan Kearifan dalam Perbedaan

PASUNDANEKSPRES.ID - Ketua Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kabupaten Subang, Drs. H. Kelly Subagio, menyampaikan pesan kepada umat Islam di bulan Ramadhan 1447 Hijriah.
Dia mengajak seluruh umat untuk memulai Ramadan dengan penuh kebijaksanaan, kedewasaan, serta sikap saling menghormati di tengah adanya perbedaan penetapan awal puasa.
Ia menuturkan, perbedaan dalam menentukan awal Ramadan merupakan hal yang kerap terjadi. Selama belum adanya sistem kalender global Islam yang disepakati bersama, perbedaan tersebut dinilai sebagai sesuatu yang wajar. Karena itu, umat diminta untuk tidak saling menyalahkan ataupun merasa paling benar sendiri.
Menurut Kelly Subagio, perbedaan hendaknya disikapi dengan kebijaksanaan dan kecerdasan dalam beragama. Ia menekankan pentingnya membangun kearifan dalam menghadapi keragaman, sehingga ukhuwah Islamiyah tetap terjaga. Perbedaan bukanlah alasan untuk memicu perpecahan, melainkan peluang untuk menunjukkan kedewasaan umat.
Lebih lanjut, ia mengingatkan esensi puasa bukan semata pada perbedaan hari pelaksanaannya, melainkan pada tujuan utama Ramadan itu sendiri, yakni meraih ketakwaan. Umat diminta tidak terjebak dalam polemik yang justru mengalihkan fokus dari tujuan ibadah yang hakiki.
“Apakah Ramadan tahun ini akan membuat kita lebih bertakwa dibandingkan Ramadan sebelumnya?” ungkapnya. Pertanyaan tersebut menjadi refleksi bagi seluruh umat agar menjadikan bulan suci sebagai momentum evaluasi diri dan peningkatan kualitas keimanan.
Ia juga mengajak umat Islam untuk menjadikan Ramadan sebagai ajang memperbanyak amal kebajikan. Menurutnya, keberhasilan puasa harus tercermin dalam meningkatnya kepedulian sosial, semangat berbagi, serta komitmen untuk menebar kebaikan di tengah masyarakat.
Kelly Subagio menegaskan, suasana Ramadan seharusnya dijalani dengan penuh ketenangan dan kedamaian. Puasa, kata dia, merupakan sarana pembentukan kematangan spiritual, sehingga umat tidak mudah terganggu oleh hiruk-pikuk kehidupan, termasuk perbedaan pandangan dalam persoalan keagamaan.
Dalam konteks yang lebih luas, ia berharap puasa mampu membentuk umat Islam menjadi umat terbaik. Keunggulan tersebut tidak hanya dalam aspek spiritual dan ibadah, tetapi juga dalam kontribusi nyata bagi kehidupan sosial dan kebangsaan.
Ia menambahkan bahwa umat terbaik adalah mereka yang kuat dalam keimanan, aktif dalam berdakwah, serta terus meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi. Ramadan harus menjadi momentum untuk memperluas wawasan, memperkuat kompetensi, serta meningkatkan profesionalitas.
Di akhir pesannya, Kelly Subagio menegaskan, ukuran keberhasilan puasa terletak pada perubahan sikap dan akhlak sehari-hari. Jika setelah Ramadan umat menjadi lebih berakhlak mulia, lebih peduli, dan lebih bermanfaat bagi sesama, maka itulah tanda keberhasilan ibadah yang sesungguhnya.(znl/ysp)
