Legislator Subang Minta Proyek Tambak Rp1,4 Triliun Transparan dan Tidak Rugikan Penggarap

PASUNDANEKSPRES.ID - Program revitalisasi proyek tambak di kawasan pesisir utara Subang senilai Rp1,4 triliun diharapkan dapat menghidupkan kembali sektor perikanan tambak sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Saat ini pengerjaan proyek strategis tersebut baru sampai pada proses pematokan atau penandaan lahan dengan total luas mencapai sekitar 1.400 hektare. Total ada 512 penggarap yang akan dilibatkan dalam proyek tersebut.
Anggota DPRD Kabupaten Subang Daerah Pemilihan (Dapil) V, Albert Anggara Putra, mengatakan program tersebut merupakan langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Pantura Subang yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra perikanan budidaya air payau.
“Programnya sangat bagus. Tambak di Pantura Subang bisa lebih hidup dan maju. Ini tentu menjadi peluang besar bagi masyarakat untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan,” ujar Albert kepada Pasundan Ekspres, Selasa (12/5/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan agar pelaksanaan proyek berskala besar tersebut dilakukan secara cermat dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan maupun masyarakat setempat.
“Pembangunannya jangan sampai mengganggu ekosistem, apalagi merugikan masyarakat. Nilai anggarannya sangat fantastis, mencapai Rp1,4 triliun, sehingga harus benar-benar direncanakan dan dilaksanakan secara matang,” tegasnya.
Albert menekankan, kawasan pesisir memiliki ekosistem yang sensitif dan berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
Karena itu, setiap tahapan pembangunan harus memperhatikan aspek keberlanjutan dan melibatkan kajian lingkungan yang komprehensif.
DPRD Subang Pastikan Proyek Tambak Berjalan Sesuai Aturan
Selain itu, ia memastikan DPRD Kabupaten Subang akan menjalankan fungsi pengawasan secara ketat agar proyek tambak tersebut berjalan sesuai aturan, tepat sasaran, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“DPRD akan mengawasi pelaksanaan program ini agar transparan, akuntabel, dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari. Jangan sampai anggaran sebesar ini justru tidak memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat pesisir,” tutur Albert.
Albert juga berharap pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah daerah dapat terus berkoordinasi secara intensif, khususnya terkait pemberian kompensasi atau kerohiman kepada para penggarap tambak yang terdampak proyek revitalisasi.
“Yang paling penting, hak-hak masyarakat harus diperhatikan. Para penggarap tambak yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor ini harus mendapatkan perlakuan yang adil dan tidak dirugikan,” ujarnya.
Ia optimistis, apabila proyek revitalisasi tambak dilaksanakan dengan perencanaan yang baik, pengawasan yang ketat, serta mengedepankan kepentingan masyarakat dan kelestarian lingkungan, maka program tersebut akan menjadi tonggak penting bagi kebangkitan sektor perikanan di Pantura Subang.
“Harapan kami, revitalisasi ini benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi masyarakat pesisir. Tambak lebih modern, produksi meningkat, lingkungan tetap terjaga, dan kesejahteraan warga pun ikut terangkat,” pungkasnya.
Konsep Budidaya Perikanan Modern dan Terintegrasi
Program revitalisasi tambak di wilayah pesisir Kabupaten Subang terus dipersiapkan pemerintah dengan mengusung konsep budidaya perikanan modern dan terintegrasi.
Program tersebut difokuskan pada pengembangan komoditas ikan bernilai ekonomi tinggi guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan produktivitas sektor perikanan.
Kepala Bidang Air Payau, Udin Saefudin, mengatakan revitalisasi tambak di pesisir Subang nantinya akan fokus pada budidaya beberapa komoditas unggulan seperti ikan nila salin, kerapu, dan kakap.
Menurutnya, ketiga jenis ikan tersebut dipilih karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan permintaan pasar yang terus meningkat, baik untuk kebutuhan lokal maupun nasional.
“Program revitalisasi tambak ini fokus pada komoditas unggulan seperti nila salin, kerapu, dan kakap karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi,” Ucapnya saat dihubungi wartawan Pasundan Ekspres pada Selasa (12/5/2026).
Udin menjelaskan, sistem budidaya yang akan diterapkan dalam program revitalisasi ini menggunakan konsep itu sistem budidaya ikannya dengan sistem intensif atau modern. Salah satu penerapan teknologi yang digunakan yakni sistem pemberian pakan otomatis menggunakan timer.
Sistem budidaya ikan yang dilakukan oleh para pembudidaya ikan sekarang sistemnya sistem tradisional atau tidak diberi pakan. Untuk meningkatkan produksi ikan maka harus di ganti dengan sistem intensif.
“Konsepnya budidaya intensif atau modern. Pemberian makan ikan nantinya menggunakan timer sehingga lebih terukur dan efisien,” katanya.
Selain meningkatkan produktivitas tambak, penggunaan teknologi modern juga diharapkan dapat menekan biaya operasional serta meningkatkan kualitas hasil panen para petambak.
Program revitalisasi tambak ini menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mengembangkan potensi besar sektor perikanan pesisir di Kabupaten Subang. Wilayah pesisir utara Subang selama ini dikenal memiliki kawasan tambak yang luas dan potensial untuk dikembangkan menjadi sentra perikanan modern.
Udin menambahkan, revitalisasi tambak tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan sistem budidaya yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Dengan penerapan teknologi budidaya modern, kualitas air dan pengelolaan tambak dapat lebih terkontrol sehingga risiko gagal panen dapat ditekan.
“Harapannya hasil produksi meningkat, kualitas ikan lebih baik, dan kesejahteraan masyarakat pesisir juga ikut meningkat,” pungkasnya.(hdi/ysp)
