Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Pelaku Usaha Nanas di Subang Keluhkan Pasokan Kian Langka

H
Hadi MartadinataEditor: Yusup Suparman
|09:18 WIB
Bagikan:
Pelaku Usaha Nanas di Subang Keluhkan Pasokan Kian Langka
KELUHAN: Owner Olahan Alam Sari Serba Nanas sekaligus pelaku UMKM, Ade Patas mengeluhkan pasokan nanas kian langka. Hadi Martadinata/Pasundan Ekspres

PASUNDANEKSPRES.ID - Alih fungsi sebagian lahan nanas di Subang menjadi lahan pembibitan tebu di wilayah Jalancagak dan Kasomalang mulai dirasakan dampaknya oleh para pelaku usaha pengolahan nanas di Kabupaten Subang. Berkurangnya luas lahan nanas dinilai menyebabkan pasokan buah semakin sulit didapat dan harga bahan baku terus mengalami kenaikan.

Owner Olahan Alam Sari Serba Nanas sekaligus pelaku UMKM, Ade Patas, mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Menurutnya, keberadaan lahan nanas di kawasan Subang Selatan selama ini menjadi penopang utama kebutuhan bahan baku bagi para pelaku usaha olahan nanas.

“Sekarang dampaknya sudah mulai terasa. Nanas semakin mahal dan semakin sulit dicari. Pasokan yang biasanya mudah didapat sekarang mulai berkurang,” ucap Ade Patas saat di wawancarai wartawan Pasundan Ekspres pada Senin (15/6/2026).

Ade menjelaskan, beberapa tahun lalu dirinya masih mampu memperoleh pasokan nanas dalam jumlah besar secara rutin. Bahkan dalam dua hari kebutuhan bahan baku bisa mencapai satu ton dan relatif mudah dipenuhi oleh petani maupun pemasok.

“Dulu per dua hari saya bisa mendapatkan satu ton nanas. Sekarang untuk mendapatkan satu ton saja sudah susah. Saat ini paling hanya sekitar dua karung atau sekitar 50 kilogram per hari,” katanya.

Jadi Tantangan Serius Bagi Pelaku Usaha Nanas di Subang

Menurut Ade, kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi pelaku usaha pengolahan nanas di Subang yang selama ini menggantungkan usahanya pada ketersediaan buah nanas lokal. Padahal permintaan produk olahan nanas khas Subang masih cukup tinggi, baik dari wisatawan maupun pasar luar daerah.

Ade menilai kebijakan alih fungsi lahan perlu dikaji lebih mendalam karena Subang selama ini dikenal luas sebagai Kota Nanas. Bahkan, menurutnya, pemerintah sebelumnya telah menetapkan pengembangan komoditas unggulan berdasarkan sistem klaster di berbagai wilayah.

“Kalau daerah atas seperti Jalancagak dan Kasomalang itu klasternya nanas. Sementara tebu sudah memiliki kawasan tersendiri di wilayah Pantura seperti Pasirbungur, Pabuaran, dan Cibogo yang luasnya ribuan hektare. Jadi saya heran kenapa tebu harus masuk ke wilayah sentra nanas,” ujarnya.

Ia juga menyoroti minimnya komunikasi dengan para petani dan pelaku usaha sebelum dilakukan alih fungsi lahan. Menurutnya, perubahan penggunaan lahan dalam skala besar seharusnya melibatkan kelompok tani dan masyarakat yang selama ini menggantungkan penghasilannya dari komoditas nanas.

Lebih lanjut, Ade mengungkapkan bahwa permintaan nanas Subang sebenarnya terus meningkat. Bahkan dirinya mengaku pernah mendapat permintaan ekspor dari Jepang dan negara-negara Timur Tengah. Namun hingga kini permintaan tersebut belum bisa dipenuhi karena keterbatasan pasokan.

“Permintaan ekspor ada dari Jepang dan Timur Tengah. Belum lagi kebutuhan supermarket dan industri pengalengan. Tetapi kami belum mampu memenuhi karena produksi nanas semakin berkurang,” katanya.

Menurut Ade, apabila kondisi tersebut terus berlanjut, bukan hanya petani yang terdampak, tetapi juga pelaku UMKM, pedagang oleh-oleh, hingga sektor pariwisata yang selama ini identik dengan produk nanas khas Subang.

“Subang itu dikenal sebagai Kota Nanas. Ke mana-mana orang mengenal Subang karena nanasnya. Kalau lahannya terus berkurang, lama-lama ikon daerah ini bisa hilang,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dapat mempertimbangkan kembali kebijakan yang berpotensi mengurangi luas lahan nanas. Menurutnya, langkah yang lebih tepat adalah memperluas areal tanam nanas karena permintaan pasar masih sangat besar dan memiliki nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat.

“Harapan kami, lahan nanas dipertahankan bahkan ditambah. Kalau ingin mengembangkan tebu, masih banyak lahan yang sejak dulu memang menjadi kawasan tebu. Jangan sampai lahan nanas yang sudah produktif justru berkurang,” pungkasnya.(hdi/ysp)

Berita Terbaru

7 Tips Olahraga Saat Cuaca Panas Agar Tetap Aman dan Sehat

7 Tips Olahraga Saat Cuaca Panas Agar Tetap Aman dan Sehat

Lifestyle51 menit lalu
Cara Pakai QRIS ShopeePay dengan Mudah, Bayar Apapun Cukup Scan!

Cara Pakai QRIS ShopeePay dengan Mudah, Bayar Apapun Cukup Scan!

Lifestyle1 jam lalu
Dugaan Pungli Rp250 Juta Gegerkan Pondok Bambu, Siapa Sebenarnya Nur Mariyana Putri?

Dugaan Pungli Rp250 Juta Gegerkan Pondok Bambu, Siapa Sebenarnya Nur Mariyana Putri?

Nasional1 jam lalu
Rekomendasi Tempat Jual Emas Harga Tinggi di Subang, Bisa Tanpa Surat!

Rekomendasi Tempat Jual Emas Harga Tinggi di Subang, Bisa Tanpa Surat!

Lifestyle2 jam lalu
ADVERTISEMENT
Ide Kegiatan Positif untuk Mengisi Waktu Luang, Dijamin Bermanfaat

Ide Kegiatan Positif untuk Mengisi Waktu Luang, Dijamin Bermanfaat

Lifestyle2 jam lalu
UU Pelindungan Ketenagakerjaan Resmi Disahkan, Ini 9 Hak Penting yang Kini Diatur untuk Buruh

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Resmi Disahkan, Ini 9 Hak Penting yang Kini Diatur untuk Buruh

Nasional4 jam lalu
Jadwal TKA SMA/SMK 2026, Catat Pelaksanaannya!

Jadwal TKA SMA/SMK 2026, Catat Pelaksanaannya!

Lifestyle4 jam lalu
Mantan Sekdes Ace Safei Maju Pilkades Jalancagak, Usung "Jalancagak Juara"

Mantan Sekdes Ace Safei Maju Pilkades Jalancagak, Usung "Jalancagak Juara"

Subang5 jam lalu
Imbas Temuan Klaster Mewah di Area Lapas, Kemenimipas Copot Kalapas Cibinong

Imbas Temuan Klaster Mewah di Area Lapas, Kemenimipas Copot Kalapas Cibinong

Nasional6 jam lalu
Gelar Perdana Sudah Diraih, Ini Agenda Timnas Indonesia setelah FIFA ASEAN Cup 2026

Gelar Perdana Sudah Diraih, Ini Agenda Timnas Indonesia setelah FIFA ASEAN Cup 2026

Olahraga6 jam lalu