Pelaku Usaha Nanas di Subang Keluhkan Pasokan Kian Langka

PASUNDANEKSPRES.ID - Alih fungsi sebagian lahan nanas di Subang menjadi lahan pembibitan tebu di wilayah Jalancagak dan Kasomalang mulai dirasakan dampaknya oleh para pelaku usaha pengolahan nanas di Kabupaten Subang. Berkurangnya luas lahan nanas dinilai menyebabkan pasokan buah semakin sulit didapat dan harga bahan baku terus mengalami kenaikan.
Owner Olahan Alam Sari Serba Nanas sekaligus pelaku UMKM, Ade Patas, mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Menurutnya, keberadaan lahan nanas di kawasan Subang Selatan selama ini menjadi penopang utama kebutuhan bahan baku bagi para pelaku usaha olahan nanas.
“Sekarang dampaknya sudah mulai terasa. Nanas semakin mahal dan semakin sulit dicari. Pasokan yang biasanya mudah didapat sekarang mulai berkurang,” ucap Ade Patas saat di wawancarai wartawan Pasundan Ekspres pada Senin (15/6/2026).
Ade menjelaskan, beberapa tahun lalu dirinya masih mampu memperoleh pasokan nanas dalam jumlah besar secara rutin. Bahkan dalam dua hari kebutuhan bahan baku bisa mencapai satu ton dan relatif mudah dipenuhi oleh petani maupun pemasok.
“Dulu per dua hari saya bisa mendapatkan satu ton nanas. Sekarang untuk mendapatkan satu ton saja sudah susah. Saat ini paling hanya sekitar dua karung atau sekitar 50 kilogram per hari,” katanya.
Jadi Tantangan Serius Bagi Pelaku Usaha Nanas di Subang
Menurut Ade, kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi pelaku usaha pengolahan nanas di Subang yang selama ini menggantungkan usahanya pada ketersediaan buah nanas lokal. Padahal permintaan produk olahan nanas khas Subang masih cukup tinggi, baik dari wisatawan maupun pasar luar daerah.
Ade menilai kebijakan alih fungsi lahan perlu dikaji lebih mendalam karena Subang selama ini dikenal luas sebagai Kota Nanas. Bahkan, menurutnya, pemerintah sebelumnya telah menetapkan pengembangan komoditas unggulan berdasarkan sistem klaster di berbagai wilayah.
“Kalau daerah atas seperti Jalancagak dan Kasomalang itu klasternya nanas. Sementara tebu sudah memiliki kawasan tersendiri di wilayah Pantura seperti Pasirbungur, Pabuaran, dan Cibogo yang luasnya ribuan hektare. Jadi saya heran kenapa tebu harus masuk ke wilayah sentra nanas,” ujarnya.
Ia juga menyoroti minimnya komunikasi dengan para petani dan pelaku usaha sebelum dilakukan alih fungsi lahan. Menurutnya, perubahan penggunaan lahan dalam skala besar seharusnya melibatkan kelompok tani dan masyarakat yang selama ini menggantungkan penghasilannya dari komoditas nanas.
Lebih lanjut, Ade mengungkapkan bahwa permintaan nanas Subang sebenarnya terus meningkat. Bahkan dirinya mengaku pernah mendapat permintaan ekspor dari Jepang dan negara-negara Timur Tengah. Namun hingga kini permintaan tersebut belum bisa dipenuhi karena keterbatasan pasokan.
“Permintaan ekspor ada dari Jepang dan Timur Tengah. Belum lagi kebutuhan supermarket dan industri pengalengan. Tetapi kami belum mampu memenuhi karena produksi nanas semakin berkurang,” katanya.
Menurut Ade, apabila kondisi tersebut terus berlanjut, bukan hanya petani yang terdampak, tetapi juga pelaku UMKM, pedagang oleh-oleh, hingga sektor pariwisata yang selama ini identik dengan produk nanas khas Subang.
“Subang itu dikenal sebagai Kota Nanas. Ke mana-mana orang mengenal Subang karena nanasnya. Kalau lahannya terus berkurang, lama-lama ikon daerah ini bisa hilang,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dapat mempertimbangkan kembali kebijakan yang berpotensi mengurangi luas lahan nanas. Menurutnya, langkah yang lebih tepat adalah memperluas areal tanam nanas karena permintaan pasar masih sangat besar dan memiliki nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat.
“Harapan kami, lahan nanas dipertahankan bahkan ditambah. Kalau ingin mengembangkan tebu, masih banyak lahan yang sejak dulu memang menjadi kawasan tebu. Jangan sampai lahan nanas yang sudah produktif justru berkurang,” pungkasnya.(hdi/ysp)
