Rp1.000 dari Siswa Bisa Jadi Kekuatan Bangun Sekolah, BAZNAS Subang Gerakkan Infak Goes to School

PASUNDANEKSPRES.ID - Hanya Rp1.000 mungkin terlihat kecil. Namun jika dikumpulkan dari ribuan siswa di Kabupaten Subang, nominal tersebut bisa berubah menjadi kekuatan besar untuk membangun kepedulian sekaligus membantu kebutuhan sarana pendidikan. Semangat itulah yang kini didorong Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Subang melalui program Infak Goes to School. Program ini tidak semata-mata mengejar besarnya dana yang terkumpul, tetapi menanamkan kebiasaan berbagi sejak anak-anak masih duduk di bangku sekolah.
Ketua BAZNAS Kabupaten Subang Dr. H. A. Sukandar, M.Ag mengatakan, program tersebut merupakan bagian dari upaya membangun karakter anak melalui kebiasaan berinfak.
Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada kemampuan akademik. Anak juga harus dibentuk memiliki sikap, etika, kepedulian dan kemampuan untuk berbagi dengan sesama.
“Seorang anak mungkin hanya mampu menyisihkan Rp1.000. Tetapi yang kita bangun bukan sekadar nominalnya, melainkan pembiasaan dan kesadarannya,” ujar Sukandar saat du wawancarai Wartawan Pasundan Ekspres pada Selasa (15/9/2026).
Ia menegaskan, tidak ada nominal yang dipaksakan dalam program tersebut. Infak harus lahir dari kesadaran dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa.
“Kalau punya Rp500, ya Rp500. Kalau punya Rp1.000, ya Rp1.000. Jangan dipaksa. Yang penting adalah kesadarannya,” katanya.
Menurut Sukandar, pembiasaan sejak dini diharapkan terus terbawa hingga anak tumbuh dewasa. Ketika kelak memiliki penghasilan, mereka diharapkan tidak lagi merasa berat untuk menyisihkan sebagian rezekinya melalui infak, sedekah maupun zakat.
Konsep tersebut, kata dia, dimulai dari learning to know, kemudian learning to do, hingga learning to be. Anak bukan hanya mengetahui bahwa infak merupakan ajaran agama, tetapi juga mempraktikkannya secara rutin sampai akhirnya menjadi karakter.
BAZNAS juga ingin mengubah kebiasaan infak di sekolah yang sebelumnya berjalan secara parsial menjadi gerakan bersama. Guru dan orang tua pun memiliki peran penting karena anak membutuhkan lingkungan yang memberikan contoh.
“Guru juga harus memberikan contoh sebelum anak berinfak. Ketika lingkungan pendidikan semuanya bergerak bersama, anak akan terdorong dan termotivasi,” jelasnya.
Menariknya, dana yang dihimpun tidak hanya berhenti sebagai angka dalam rekening. BAZNAS merancang sebagian dana untuk dikembalikan dan dimanfaatkan bagi kebutuhan pendidikan, terutama sarana fisik sekolah yang membutuhkan perbaikan.
Usulan bantuan berasal dari sekolah dan kemudian melalui proses rekomendasi serta telaah. Artinya, sekolah yang membutuhkan dapat diidentifikasi agar dana gotong royong tersebut benar-benar diarahkan kepada kebutuhan yang prioritas.
Sukandar menilai pola tersebut menjadi penting karena kebutuhan sarana pendidikan masih cukup besar, sementara kemampuan anggaran pemerintah memiliki keterbatasan.
“Kalau infak masing-masing hanya sedikit, mungkin tidak terasa. Tetapi kalau digabung bersama-sama se-Kabupaten Subang, tentu akan menjadi kekuatan. Jadi misalkan 100 ribu nah 70 persen balikin ke sekolah 30 persennya di simpan di Baznas untuk kebutuhan membangun sekolah, " katanya Dr. Sukandar
Karena itu, BAZNAS menyebut program tersebut bukan sekadar gerakan infak, tetapi bagian dari semangat membangun Subang bersama rakyat.
“Ini bukan sekadar slogan Ngabret. Kita ingin membuktikan gotong royong itu seperti apa. Satuan pendidikan yang selama ini bergerak sendiri-sendiri kita satukan untuk membangun Subang bersama rakyat,” pungkasnya.
Infak Goes to School Diharapkan Menjadi Investasi
Program Infak Goes to School pun diharapkan menjadi investasi karakter jangka panjang. Dari kebiasaan menyisihkan Rp1.000, BAZNAS berharap tumbuh generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan terbiasa menjadi pihak yang memberi, bukan hanya menerima.(hdi/ysp)
