Selamatkan Pelaku Usaha Berbahan Ikan Tengkek dari Tengkulak, Pemerintah Perlu Turun Tangan

Khawatir Harganya Terus Meroket
Siapa punya kuasa mengatur harga ikan tengkek? Jika tidak ada yang bisa mengatur, terancam sudah eksistensi Eka Mustika (34) pelaku UMKM yang mengandalkan ikan laut itu.
Eka seorang pelaku UMKM di Dusun Muara Lama, Desa Cilamaya Girang, Kecamatan Blanakan, tengah menghadapi situasi harga ikan tengkek yang perlahan terus meroket. ikan itu mulanya tak punya "nilai" di mata nelayan pesisir Utara Subang. Nelayan kerap membuangnya kembali ke laut jika mendapati ikan tersebut.
Kini, ikan yang mirip ikan kembung itu punya harga. Tiap kilogram bisa tembus Rp25 ribu, jika Eka membelinya dari tengkulak. Eka bisa mendapatkan harga murah ketika membeli dari nelayan langsung, harganya Rp12 ribu per kilogram.
Bagi Eka, ikan tengkek yang kini bisa memiliki harga jual tinggi tersebut bukan tanpa alasan. Eka mulanya mendapatkan ikan tengkek dari nelayan hanya cuma-cuma pada tahun 2016, alias gratis.
Kegigihan Eka dalam memanfaatkan ikan tengkek tersebut patut diacungi jempol. Lewat tangan kreatif Eka, dari ikan itu bisa diolah menjadi aneka olahan makanan. Mulai dari abon, kerupuk, rengginang hingga sistik.
Berbagai hasil olahan Eka itu disambut positif pasar. Dia mampu menjualnya ke berbagai daerah, bahkan bisa tembus ke pasar luar negeri.
Dari ikan tengkek yang tidak bernilai, kreativitas dan pasar yang positif menyambut olahan makanan dari Eka inilah yang membuat ikan tengkek kini memiliki harga.
Eka mengaku khawatir ikan tengkek harganya akan semakin naik. Eka menghitung, selama sembilan tahun terakhir harga ikan tengkek di pesisir utara bisa tembus Rp25 per kilogram.
Jika harga ikan tengkek semakin naik, otomatis ada dua pilihan bagi Eka. Mengurangi keuntungan atau menaikkan harga jual. Tapi Eka memilih untuk menahan kenaikan harga jual produk olahannya.
Eka terus berupaya untuk mendapatkan ikan tengkek langsung dari tangan nelayan, karena harganya lebih murah. Tapi pasokan dari nelayan terbatas. Akhirnya Eka mau tidak mau menerima ikan tengkek dari tengkulak dengan harga yang lebih mahal.
Mirisnya, mayoritas ikan tengkek yang Eka dapatkan berasal dari tengkulak. Terpaksa dia mengeluarkan biaya lebih besar. Kenyataan ini tengah dihadapi Eka.
Untuk menjalankan usaha olahan makanan, Eka memerlukan hampir 1 ton ikan tengkek tiap bulannya. Hasil tangkapan dari nelayan yang kadang belum bisa memenuhi kebutuhannya, memaksa Eka untuk membeli tengkek dari tengkulak dengan harga yang lebih mahal.
Cerita kekhawatiran itu, Eka sampaikan di kediamannya Dusun Muara Lama, Desa Cilamaya Girang, Blanakan, Subang pada Kamis (11/9/2025) jelang tengah hari. Langit yang sedikit mendung, diiringi gerimis memancarkan semangat ibu dua anak itu untuk terus menjalankan usahanya.
Meski dilanda kekhawatiran, terpancar pula ekspresi bahagia dari Eka setelah berhasil memberikan nilai jual pada ikan tengkek. Sebagian nelayan di pesisir utara Subang mendapatkan penghasilan tambahan setelah menjual ikan tengkek pada Eka.
“Harus ada yang bisa mengatur harga jual ikan tengkek. Bahaya kalau terus dibiarkan tanpa ada yang mengatur,” timpal Iman Teguh selaku Community Development Officer Pertamina Hulu Energi Offshore Nort West Java (PHE ONWJ), di sela-sela obrolan tentang ancaman serius kenaikan harga ikan tengkek.
Nampaknya, ada kekhawatiran serius dari Iman Teguh selaku pendamping usaha dari Eka. Menurut Iman, pemerintah perlu turut tangan dalam mengatur harga ikan tengkek.
Jika tidak ada intervensi dari pemerintah, Iman khawatir usaha skala kecil yang dibangun oleh masyarakat perlahan bisa mati. Iman tak ingin, semangat Eka yang merintis usaha dari nol menjadi redup karena harga ikan tengkek yang terus melonjak.
“Jadi ikan itu tidak ada standar harga. ikan itu abu-abu harganya,” ujarnya.
Jangan Matikan Kegigihan Seorang Eka
Pertemuan Eka dengan sejumlah awak media yang mengunjungi kediamannya pada Kamis (11/9/2025) mengajaknya mengenang masa-masa merintis usaha olahan makanan berbahan ikan tengkek. Dengan mengenakan kerudung hitam dan gaya bicaranya yang lugas, Eka sangat antusias bercerita.
Eka, merupakan ibu rumah tangga yang antusias ketika ditawarkan program pemberdayaan oleh Pertamina Hulu Energi Offshore Nort West Java (PHE ONWJ). Kala itu, Pertamina ONWJ tengah membangun ekosistem wisata Greenthink. Wisata itu tak hanya sarana pembelajaran lingkungan, pengelolaan hutan hujan tropis, sistem pertanian terpadu, sekaligus ekowisata berbasis masyarakat.
Kawasan wisata Greenthink ini memerlukan sebuah kelompok usaha yang harapannya bisa dibeli oleh pengunjung. Kelompok usaha ini berasal dari ibu-ibu sekitar Desa Cilamaya Girang, Blanakan, Subang. Dibentuk pada 12 Nopember 2016 silam.
Kecerdasan Eka dan ibu-ibu yang dibantu dorongan dari PHE ONWJ, menemukan ide untuk untuk mengolah ikan tengkek menjadi aneka makanan. ikan tengkek ini dianggap ‘sampah’ oleh nelayan. Mereka kerap membuang kembali ke laut jika kedapati mendapatkan ikan tersebut.
Eka dan teman-temannya mencoba melakukan eksperimen. Olahan pertama dari ikan tengkek membuahkan hasil menjadi abon. Hasil olahan itu kerap kali diberikan kepada nelayan, agar Eka dan teman-temannya bisa kembali mendapatkan ikan tengkek.
“Makanannya kita bagi-bagi saja. Kita balikan lagi ke nelayan, yang penting kita dapat ikan tengkek lagi,” ujarnya.
Saat itu, Eka mendapatkan ikan tengkek secara gratis. Nelaya kerap memberinya secara cuma-cuma kepada Eka. Jadi, Eka tak perlu mengeluarkan modal besar untuk melakukan percobaan membuat aneka olahan makan.
Ketika itu, modal awal hanya Rp100 ribu saja. Uang itu digunakan hanya untuk membeli berbagai bumbu saja. “Uang Rp100 ribu itu buat beli bumbu doang, ikannya kan gak beli,” kenang Eka sembari tertawa lepas mengenang masa awal merintis usahanya.
Proses itu terus Eka jalani meskipun belum mendapatkan tambahan penghasilan. Perlahan namun pasti, aneka olahan ikan tengkek ini disukai oleh pasar.
Mulailah pada tahun 2018, Eka sudah mulai menikmati buah kegigihannya. Pada tahun itu, dia sudah bisa mengantongi omset sekitar Rp1 juta tiap bulannya.
Eka tak pernah menyerah di saat sebagian besar ibu-ibu lainnya memilih mundur. Eka yakin usaha yang dijalankannya bisa terus berkembang. Sebagai buktinya, pada tahun 2025 ini dia mampu memperoleh omset hingga Rp50 juta tiap bulannya.
Tembus Pasar Luar Negeri Lewat TKW
Bukan rahasia umum lagi jika di daerah pesisir utara Subang banyak warganya yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri. Tak terkecuali di sekitar rumah Eka di Desa Cilamaya Girang, Blanakan.
Fakta itu dimanfaatkan Eka agar produknya bisa tembus ke luar negeri. Kebanggaan bagi Eka apabila makanan racikan tangannya bisa sampai ke berbagai negara.
Eka mengirim berbagai produk makanannya ke TKW di berbagai negara seperti Taiwan, Malaysia dan Singapura. Pengiriman dilakukan setiap hari Rabu tiap minggunya.
“TKW sampai sekarang masih kita kirim tiap hari Rabu,” kata Eka.
Eka bersyukur TKW bisa membantu memasarkan produknya hingga dinikmati orang dari berbagai negara. Melalui kerja sama dengan Eka, TKW juga mendapatkan tambahan penghasilan dari penjualan produk berbahan ikan tengkek.
Mampu Sejahterakan Orang Sekitar
Eka memiliki harapan besar agar usaha olahan ikan tengkek bisa berdampak pada perekonomian masyarakat sekitar. Nelayan bisa mendapatkan tambahan penghasilan, dan warga sekitar pun bisa meningkat perekonomiannnya.
Sudah bertahun-tahun, Eka telah membantu nelayan dengan cara membeli ikan tengkek. Dari semula gratis, nelayan bisa mendapatkan cuan dari penjualan ikan tengkeknya.
Tak hanya itu, Eka kini memiliki dua karyawan yang membantu kelancaran usahanya. Dalam sebulan, Eka mampu mengeluarkan biaya gaji sebesar Rp 6 juta kepada dua karyawannya itu.
Karyawan Eka, salah satunya merupakan mantan TKW yang bekerja di Arab Saudi selama empat tahun. Siti Komariah mengaku sudah dua tahun bekerja bersama dengan Eka.
“Daripada nganggur mending gini aja ikut sama bu Eka,” ujarnya di dapur pengolahan ikan tengkek milik Eka yang berukuran 6 x 10 meter itu.
Siti selama ini merasa senang dan nyaman bekerja dengan Eka. Siti terus belajar bersama Eka bagaimana membuat berbagai olahan makanan dari ikan tengkek.
“Seru bareng bu Eka. Kita dapat pengalaman, ilmunya ada, healingnya juga ada. Soalnya sama bu Eka suka keluar, ada kegiatan-kegiatan gitu (pameran, red),” ujarnya.(ysp)
