Ini Alasan Pemuda di Cibogo dan Padaasih Demo Vinsfast Subang, Pembina: Perusahaan Melecehkan

PASUNDANEKSPRES.ID - Pembina Pemuda Cibogo, Dede Warman mengungkapkan alasan warga Cibogo yang melakukan aksi di PT Vinfast Subang pada Selasa (16/12/2025).
“Keluhan kami dalam hal penempatan rekrutmen tenaga kerja. Kami menilai ada diskriminasi yang dilakukan oleh pihak manajemen,” ucapnya.
Ia menilai Vinfast menyalahi komitmen awal mereka dengan memprioritaskan warga sekitar yang terdampak di Kecamatan Cibogo, terutama di Desa Cibogo dan Desa Padaasih untuk dapat bekerja di sana dengan penempatan posisi yang sesuai.
Namun, kenyataannya tenaga kerja yang disalurkan tidak sesuai dengan posisi yang sama dengan keahliannya.
“Awalnya kami memberikan 50 orang, tetapi ketika melamar ke bagian operator, lulusnya justru untuk posisi cleaning service, tidak nyambung,” ucapnya.
Menurut kesaksiannya pihak perusahaan berdalih bahwa diterima atau tidaknya seseorang adalah kewenangan dari perusahaan, sehingga hal ini pun terjadi.
“Dari 150 karyawan yang diterima, hanya 11 orang yang berasal dari Cibogo itu pun untuk posisi cleaning service. Lucunya bahkan yang lulusan S1 di alokasikan jadi cleaning service juga, yang pada akhirnya mereka mengundurkan diri,” ucapnya.
Hal ini lah yang membuat warga geram dengan apa yang dilakukan oleh perusahaan Vinfast yang dinilai semena-mena sekaligus melecehkan.
Dede berpendapat apabila kompetensi masyarakat Subang memang tidak memenuhi, seharusnya diadakan pelatihan sejak lama ketika Vinfast dibangun.
“Kalau misalkan tidak sesuai dengan kualifikasi, kenapa pihak perusahaan tidak menginfokan jauh-jauh hari kepada pihak pemerintah desa untuk mengadakan pelatihan kerja, baik itu dari Disnaker maupun perusahaan sendiri, jangan seperti ini,” ucapnya.
Hal ini diperparah dengan jumlah tenaga kerja lokal yang terserap jauh lebih sedikit dari apa yang diminta oleh masyarakat sekitar yang notabene terdampak dari pembangunan perusahaan otomotif ini.
Ia mengungkapkan kesepakatan pada tahap awal penerimaan kerja lokal adalah di kisaran 1.000 orang yang terdiri dari 800 orang untuk posisi operator, dan sisanya posisi pekerjaan non skill, namun kenyataannya hanya 150 orang.
“Kalau secara spesifik dan persentase tertulis tidak, tetapi kita meminta dari 70 persen warga Subang, 40 persennya untuk warga sekitar,” ucapnya.
Ia menyayangkan masalah ini dapat terjadi, karena dirinya mengungkapkan bahwa masyarakat sekitar yang terdampak perusahaan baik itu di Desa Cibogo dan Desa Padaasih terklasifikasi sebagai masyarakat rentan miskin.
“Masyarakat sekitar itu masih banyak dalam kategori rentan miskin, khususnya buruh tani yang kehilangan mata pencaharian, ini tidak menjadi concern dari perusahaan maupun pemerintah,” ucapnya.
Selain persoalan ketenagakerjaan, Dede juga mengatakan bahwa masyarakat juga geram dengan dampak lingkungan yang diberikan pabrik otomotif itu.
Oleh sebab itu, masyarakat sekitar juga marah dan mempertanyakan tanggung jawab dari pihak perusahaan tersebut.
“Mereka menggunakan jalan kabupaten lalu kendaraan proyeknya, kita pertanyakan rekomendasi-rekomendasi dari Pemkab , tanggung jawab perusahaan seperti apa ketika jalan itu rusak, itu kan harus ada hitam di atas putihnya,” ucapnya.
Puncaknya kegeraman masyarakat semakin besar ketika pihak Vinfast dan Disnaker dijanjikan hadir dalam dialog dengan masyarakat untuk membahas sejumlah permasalahan ini. Namun, pihak yang bersangkutan justru tidak hadir, sehingga memicu masyarakat untuk melakukan aksi.
“Minggu kemarin kita minta DPRD untuk memfasilitasi untuk memanggil Vinfast dan Disnaker. Akan tetapi, tidak terjadi yang hadir hanya kita masyarakat sekitar saja, maka dari itu kita melakukan aksi,” ucapnya.(fsh)
