Atur Minum Air Putih di Bulan Puasa dengan Cara Ini, Jangan Asal Teguk!

PASUNDANEKSPRES.ID - Minum air putih di bulan puasa sering kali terasa menantang karena waktu makan dan minum terbatas hanya saat berbuka hingga sahur. Benar?
Padahal, kebutuhan cairan tubuh tetap sama seperti hari biasa. Jika tidak diatur dengan baik, risiko dehidrasi bisa muncul dan mengganggu aktivitas harian!
Repot!
Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa rata-rata orang dewasa membutuhkan sekitar 8 gelas air per hari.
Saat berpuasa, kebutuhan ini tidak berkurang, hanya waktu konsumsinya yang berubah. Kekurangan cairan dapat ditandai bibir kering, tubuh terasa lemas, pusing, sakit kepala, serta urine berwarna lebih pekat.
Kondisi ini termasuk dehidrasi ringan, tetapi tetap berdampak pada stamina dan konsentrasi.
Strategi Aman Minum Air Putih di Bulan Puasa
Agar kebutuhan cairan tetap terpenuhi, pola 2-4-2 bisa diterapkan.
Metode ini membagi delapan gelas air ke dalam tiga waktu utama, sehingga tubuh tetap terhidrasi tanpa terasa berlebihan.
Yuk simak!
1. (2) Dua gelas saat berbuka
Dua gelas saat berbuka menjadi langkah awal penting.
Setelah menahan haus seharian, tubuh membutuhkan asupan cairan terlebih dahulu sebelum makanan berat.
Healthline menjelaskan bahwa minum air sebelum makan membantu proses pencernaan dan mencegah makan berlebihan.
2. (4) Empat gelas saat malam hari
Empat gelas berikutnya dikonsumsi pada malam hari. Beikut pembagiannya:
- Satu gelas sebelum makan malam
- Satu gelas setelah makan
- Satu gelas setelah salat tarawih
- Satu gelas menjelang tidur.
Cara ini membantu cairan terserap lebih baik dibandingkan minum sekaligus dalam jumlah besar.
3. (2) Dua gelas saat sahur
Dua gelas terakhir diminum saat sahur.
Satu gelas setelah bangun tidur dan satu gelas setelah makan sahur dapat membantu menjaga keseimbangan cairan sepanjang hari. Melewatkan sahur tanpa asupan cairan cukup membuat tubuh lebih cepat merasa lemas.
Pilihan Minuman Selain Air Putih
Air putih tetap menjadi pilihan utama dalam minum air putih di bulan puasa karena bebas kalori dan membantu menjaga metabolisme.
Minuman manis memang dapat mengembalikan energi dengan cepat, tetapi konsumsi berlebihan berisiko memicu lonjakan gula darah.
Air kelapa, teh hangat, madu, atau jus buah tanpa tambahan gula bisa menjadi variasi.
Tetap perhatikan porsi agar tidak berlebihan, terutama setelah berbuka ketika keinginan mengonsumsi minuman manis meningkat.
Asupan makanan juga berperan dalam menjaga hidrasi. Buah dan sayur yang mengandung banyak air seperti semangka, melon, dan mentimun membantu memenuhi kebutuhan cairan tambahan.
“Jangan tunggu haus baru minum,” tulis salah satu unggahan edukasi kesehatan dari Kemenkes. Pesan ini relevan sepanjang Ramadan, sebab rasa haus menandakan tubuh sudah mulai kekurangan cairan.
Menjaga pola minum air putih di bulan puasa bukan sekadar kebiasaan, tetapi bagian dari upaya mempertahankan kesehatan.
*Sumber: Kementerian Kesehatan RI, Healthline
(pm)
