Fitra Eri Beberkan Kekurangan dan Kelebihan Mobil Listrik, Bisa jadi Refrensi Sebelum Beli

Industri otomotif global tengah mengalami transformasi besar, terutama dengan munculnya mobil listrik (EV) dan semakin populernya mobil hibrida.
Dalam sebuah wawancara eksklusif di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara, jurnalis otomotif sekaligus pembalap Fitra Eri menguraikan pandangan kritisnya terkait arah industri, peran besar Tiongkok dalam dominasi mobil listrik, serta memberikan saran praktis bagi masyarakat yang ingin membeli mobil.
Menurut Fitra Eri prediksi lamanya tentang dominasi mobil listrik pada 2030 meleset.
Kala itu, ia mendasarkan analisis pada regulasi ketat dari produsen Eropa dan Jepang.
"Namun, kenyataannya merek-merek asal Tiongkok justru lebih dulu mendominasi pasar EV global," katanya, dikutip Pasundan Ekspres pada Selasa, 16/09/2025.
masih menurut Fitra, kesuksesan mobil listrik Tiongkok ditopang oleh 3 hal, yakni:
-
Dukungan penuh pemerintah berupa regulasi dan insentif.
-
Produksi massal dengan biaya efisien.
-
Fokus intens pada riset dan pengembangan teknologi baterai.
Hasilnya, mobil listrik buatan Tiongkok hadir dengan kualitas baik, fitur melimpah, dan harga yang jauh lebih kompetitif.
"Bahkan produsen besar Eropa dan Jepang kini harus meninjau ulang strategi elektrifikasi mereka," tegas Fitra.
Kelebihan dan Kekurangan Mobil Listrik
Mobil listrik memang menawarkan banyak daya tarik. Dari sisi biaya operasional, kendaraan jenis ini jauh lebih hemat karena tidak membutuhkan bensin dan perawatannya relatif lebih sederhana.
Selain itu, mobil listrik juga dianggap ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi gas buang, serta dilengkapi teknologi modern yang membuat pengalaman berkendara terasa lebih canggih dan praktis.
Namun, di balik semua keunggulan tersebut, ada tantangan yang tidak bisa diabaikan.
Fitra Eri menyoroti bahwa depresiasi atau penurunan nilai jual mobil listrik masih cukup tinggi, sehingga pemilik berisiko merugi ketika ingin menjualnya kembali.
Infrastruktur pengisian daya juga masih menjadi kendala besar, terutama di luar kota-kota besar yang belum memiliki jaringan charger memadai.
"Hal inilah yang membuat mobil listrik belum sepenuhnya cocok digunakan oleh semua kalangan di Indonesia," ungkapnya.
Berbeda dengan mobil listrik, mobil hibrida hadir sebagai solusi yang lebih realistis bagi masyarakat Indonesia.
Kehadirannya tidak bergantung pada ketersediaan stasiun pengisian listrik, sehingga pemilik tetap bisa mengisi bahan bakar seperti mobil konvensional.
"Dari sisi efisiensi, mobil hibrida jauh lebih hemat konsumsi bahan bakar, sekaligus menawarkan fleksibilitas untuk digunakan dalam perjalanan jarak jauh maupun aktivitas harian di perkotaan," paparnya.
Tidak heran jika Fitra Eri menilai mobil hibrida sebagai pilihan paling masuk akal saat ini.
Ia bahkan menegaskan, bila seseorang hanya bisa memiliki satu mobil, maka hibrida adalah opsi terbaik karena mampu menjembatani kebutuhan efisiensi sekaligus kepraktisan.
Sementara itu, mobil bermesin pembakaran internal atau ICE tetap memiliki tempatnya sendiri di hati para penggemar otomotif.
Mesin bensin masih relevan, terutama bagi mereka yang menjadikan mobil sebagai bagian dari hobi, misalnya untuk modifikasi atau sekadar menikmati sensasi berkendara.
Fitra menambahkan, bagi orang yang memiliki kemampuan finansial lebih, kombinasi antara mobil ICE untuk kesenangan pribadi dan mobil listrik untuk kebutuhan sehari-hari bisa menjadi pilihan ideal. (idr)
