BEM UGM Sentil Pemerintah, Kompetensi Nanik S Deyang Disorot

PASUNDANEKSPRES.ID - Kompetensi Nanik S Deyang tengah menjadi perbincangan setelah penunjukannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) menuai kritik dari berbagai pihak.
Pergantian kepemimpinan di lembaga yang mengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) itu terjadi setelah Kepala BGN sebelumnya, Dadan Hindayana, terseret kasus korupsi yang mengguncang kepercayaan publik terhadap program prioritas pemerintah tersebut.
Di tengah harapan munculnya pembenahan besar di tubuh BGN, penunjukan Nanik S Deyang justru memunculkan pertanyaan baru.
Sejumlah kalangan menilai sosok yang dipilih Presiden Prabowo Subianto itu tidak memiliki latar belakang yang secara langsung berkaitan dengan bidang gizi maupun kesehatan masyarakat.
Salah satu kritik paling keras datang dari Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) periode 2025, Tiyo Ardianto.
Ia mempertanyakan kompetensi Nanik S Deyang untuk memimpin lembaga yang memiliki peran strategis dalam menjalankan program MBG yang menyerap anggaran negara dalam jumlah besar.
Kritik tersebut disampaikan Tiyo dalam program Bola Liar Kompas TV pada Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, pergantian kepala lembaga seharusnya menjadi momentum evaluasi menyeluruh, bukan sekadar pergantian figur tanpa perubahan arah kebijakan yang jelas.
Kompetensi Nanik S Deyang Dipertanyakan
Tiyo menyoroti pidato perdana Nanik S Deyang setelah ditunjuk sebagai Kepala BGN. Menurutnya, tidak terlihat gagasan baru atau langkah transformasional yang dapat menjawab berbagai persoalan yang tengah dihadapi lembaga tersebut.
"Kepala BGN dicopot, Pak Dadan dicopot, diganti Bu Nanik. Tetapi kita lihat pidato pertama Bu Nanik, tidak ada satu pun poin transformasional yang disampaikan," kata Tiyo dalam acara tersebut.
Ia juga menilai penunjukan tersebut memperkuat anggapan bahwa loyalitas politik masih menjadi pertimbangan utama dalam pengisian jabatan strategis pemerintahan.
Menurut Tiyo, pejabat publik setidaknya harus memiliki dua hal mendasar, yakni kompetensi dan moralitas.
Kedua aspek tersebut dinilai sangat penting terutama dalam mengelola program nasional yang berdampak langsung pada masyarakat luas.
"Terpenting pejabat itu kan ada hal yang dimiliki kompetensi dan moralitas. Tapi di era Prabowo, kompetensi enggak ada, moralitas juga enggak, yang penting loyalitasnya," ujarnya.
Rekam Jejak Nanik S Deyang
Di tengah perdebatan mengenai kompetensi Nanik S Deyang, rekam jejaknya kembali menjadi perhatian publik. Karier profesionalnya justru lebih banyak dibangun di dunia jurnalistik dibanding sektor kesehatan atau ilmu gizi.
Nanik mengawali karier sebagai wartawati di Tabloid Bangkit. Pengalaman panjang di dunia media membuat namanya cukup dikenal sebelum akhirnya terjun lebih jauh ke dunia politik dan pemerintahan.
Perjalanan kariernya kemudian berkembang ke sektor kebijakan publik.
Ia dipercaya menjabat sebagai Wakil I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), posisi yang membuatnya terlibat dalam berbagai program kesejahteraan masyarakat dan strategi pengurangan angka kemiskinan.
Kariernya di pemerintahan semakin menguat ketika pada 17 September 2025 ia ditunjuk sebagai Wakil Kepala Badan Gizi Nasional.
Jabatan tersebut membuatnya mulai bersentuhan dengan program-program yang berkaitan dengan pemenuhan gizi masyarakat.
Kompetensi Nanik S Deyang kembali menjadi bahan diskusi karena latar belakang tersebut dinilai belum cukup kuat untuk memimpin lembaga yang fokus pada kebijakan gizi nasional.
Kritik yang muncul bukan hanya menyoroti pengalaman teknis, tetapi juga kebutuhan menghadirkan sosok yang memiliki keahlian spesifik di bidang yang sesuai.
Dekat dengan Lingkaran Politik Nasional
Selain berkiprah di pemerintahan, Nanik juga memiliki rekam jejak panjang dalam dunia politik. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional Koalisi Adil Makmur pada Pemilihan Presiden 2019 yang mendukung pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.
Kedekatan tersebut membuat namanya beberapa kali dipercaya mengisi posisi strategis.
Selain menjadi Wakil I BP Taskin periode 2024-2029, Nanik juga pernah menjabat sebagai Komisaris Independen PT Pertamina (Persero) pada 2025.
Meski memiliki pengalaman di berbagai bidang, perdebatan mengenai kompetensi Nanik S Deyang masih terus berlangsung.
Penunjukannya sebagai Kepala BGN kini menjadi sorotan karena publik menunggu langkah konkret untuk memperbaiki tata kelola program Makan Bergizi Gratis sekaligus memulihkan kepercayaan terhadap lembaga tersebut.
(pm)
