Lesu Daya Beli Masyarakat Tekan Usaha Kecil, Harga Naik Jadi Beban

PASUNDANEKSPRES.ID - Lesunya daya beli masyarakat mulai dirasakan oleh pelaku usaha kecil di berbagai daerah. Kondisi ini membuat banyak usaha kecil tertekan karena kenaikan biaya produksi yang tidak diimbangi dengan peningkatan penjualan.
Fenomena lesu daya beli masyarakat ini terlihat dari kondisi pelaku usaha tahu dan tempe di Kota Ternate, tepatnya di Kelurahan Jambula. Para pelaku usaha mengaku “megap-megap” menghadapi lonjakan biaya produksi, seperti dikutip dari YouTube CNN Indonesia, Senin (25/5/2026).
Lesu Daya Beli Masyarakat Tekan UMKM
Salah satu pelaku usaha, Tri Widodo, mengungkapkan bahwa harga kedelai impor terus naik akibat melemahnya rupiah. Kondisi ini membuat biaya produksi meningkat tajam.
Selain bahan baku, kenaikan harga BBM jenis solar dan plastik kemasan juga menambah beban usaha. Dampaknya, pelaku usaha terpaksa menaikkan harga jual produk.
Harga tahu tempe yang sebelumnya Rp3.000 per potong kini naik menjadi Rp4.000. Namun, kenaikan ini justru membuat daya beli masyarakat semakin menurun.
Harga Kebutuhan Pokok Ikut Melonjak
Lesu daya beli masyarakat juga terlihat di pasar tradisional. Di Pasar Anyar, Kota Tangerang, sejumlah harga sayur mengalami kenaikan signifikan.
Harga sawi putih melonjak dari Rp8.000 menjadi Rp15.000 per kilogram. Sementara itu, jeruk limo naik dari Rp20.000 menjadi Rp40.000 per kilogram.
Akibatnya, masyarakat mulai mengurangi jumlah pembelian. Bahkan dengan uang Rp20.000, pembeli mengaku tidak bisa mendapatkan kebutuhan seperti sebelumnya.
Pelaku Usaha Harap Intervensi Pemerintah
Sekretaris Jenderal Asosiasi UMKM Indonesia, Edy Misero, menyebut pelaku usaha sangat berharap pemerintah dapat meningkatkan daya beli masyarakat.
Ia mendorong agar belanja negara, baik APBN maupun APBD, dimaksimalkan untuk produk lokal. Kebijakan alokasi minimal 40 persen untuk produk dalam negeri dinilai harus benar-benar dijalankan.
Langkah ini diharapkan dapat menjaga perputaran ekonomi di sektor usaha kecil.
Pemerintah Sebut Ekonomi Masih Stabil
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kondisi ekonomi Indonesia masih stabil.
Ia menyebut inflasi terkendali dan kredit macet perbankan rendah. Selain itu, peningkatan kredit kendaraan yang tumbuh sekitar 12 persen pada Februari 2026 menjadi indikator bahwa daya beli masyarakat masih terjaga.
Lesu daya beli masyarakat menjadi tantangan serius bagi usaha kecil di berbagai daerah.
Kenaikan harga bahan baku dan kebutuhan pokok membuat pelaku usaha tertekan, sementara konsumen mengurangi pembelian.
Diperlukan langkah konkret dari pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat agar sektor UMKM tetap bertahan.
