Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Vonis Sunyi Negara: Saat 11 Juta Warga Miskin Kehilangan Hak Hidup dari Layar Komputer

R
Rian AlfianEditor: Rian Alfian
|01:44 WIB
Bagikan:
Vonis Sunyi Negara: Saat 11 Juta Warga Miskin Kehilangan Hak Hidup dari Layar Komputer
Ilustrasi : kalimat layar komputer menjadi penentu hidup dan mati: Status Peserta BPJS Non-Aktif

PASUNDANEKSPRES.ID - Tidak ada sirene, tidak ada pengumuman resmi. Namun bagi ribuan pasien penyakit kronis di Indonesia, awal Februari 2026 terasa seperti hari penghakiman.

Di ruang pendaftaran rumah sakit, mereka tidak divonis oleh dokter, melainkan oleh sistem. Sebaris kalimat di layar komputer menjadi penentu hidup dan mati: Status Peserta BPJS Non-Aktif.

Bagi pasien gagal ginjal, jantung, atau kanker, satu kali perawatan yang tertunda bisa berujung fatal. Namun itulah yang terjadi ketika kartu BPJS Kesehatan PBI yang selama ini menjadi satu-satunya penopang hidup mendadak tak lagi berlaku. Tanpa peringatan. Tanpa masa transisi.

Gempa Administrasi dari Jakarta 

Penyebabnya bukan kesalahan teknis sesaat. Pada 6 Februari 2026, Kementerian Sosial (Kemensos) melakukan pencoretan massal terhadap sekitar 11 juta peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) dalam program Jaminan Kesehatan Nasional.

Langkah ini disebut sebagai bagian dari proses cleansing atau pemadanan data demi merapikan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Pemerintah berdalih, jutaan nama tersebut dianggap sudah tidak layak menerima subsidi negara mulai dari faktor ekonomi, data ganda, hingga peserta yang telah meninggal dunia.

Di atas kertas, kebijakan ini tampak rasional. Namun di lapangan, ia menjelma menjadi tragedi kemanusiaan.

Pencoretan dilakukan secara massal dan senyap, tanpa verifikasi faktual yang memadai di tingkat bawah. Akibatnya, warga miskin yang benar-benar membutuhkan justru ikut terhapus. Mereka baru menyadari “vonis” itu ketika sedang membutuhkan pertolongan medis mendesak.

Negara Abai, Nyawa Jadi Taruhan 

Kebijakan ini langsung menuai kecaman dari parlemen. Anggota Komisi IX DPR RI, Zainul Munasichin, menilai pencoretan tanpa pengecekan langsung ke lapangan merupakan tindakan ceroboh yang berpotensi mengorbankan nyawa.

Nada lebih keras disampaikan Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Charles Honoris. Ia menegaskan bahwa efisiensi anggaran tidak boleh mengalahkan hak dasar warga negara.

“Tidak boleh ada kebijakan administratif yang menelan korban jiwa,” tegas Charles.

Menurutnya, pasien penyakit kronis tidak bisa menunggu proses reaktivasi BPJS yang rumit dan memakan waktu. Penyakit tidak tunduk pada prosedur birokrasi, apalagi jadwal kerja kantor pemerintahan.

Desakan Jalur Penyelamat 

Kini, DPR mendesak Kemensos dan BPJS Kesehatan membuka mekanisme darurat bagi korban salah sasaran. Jalur ini diharapkan memungkinkan warga miskin yang terhapus dari sistem tetap memperoleh layanan kesehatan tanpa hambatan administratif, setidaknya sampai status mereka diverifikasi ulang.

Kasus pencoretan 11 juta peserta PBI menjadi tamparan keras bagi tata kelola bantuan sosial di Indonesia. Di balik setiap angka yang dihapus dari sistem, ada manusia dengan denyut nadi yang nyata yang hidupnya tak bisa diserahkan sepenuhnya pada algoritma dan tabel data.

Membersihkan data adalah kewajiban negara. Namun melindungi nyawa rakyat adalah amanat konstitusi yang tidak boleh dikorbankan.

Sumber ini Diolah dari laporan Tempo, Kompas, serta Rapat Dengar Pendapat Komisi IX DPR RI, Februari 2026

Berita Terbaru

Daftar HP Samsung Terbaru 2026 Lengkap dengan Spesifikasi dan Harga Oktober

Daftar HP Samsung Terbaru 2026 Lengkap dengan Spesifikasi dan Harga Oktober

Lifestyle1 jam lalu
Mantan Kepala SMPN 2 Ngamprah Wajib Kembalikan Rp 159 Juta dalam 60 Hari

Mantan Kepala SMPN 2 Ngamprah Wajib Kembalikan Rp 159 Juta dalam 60 Hari

Bandung Barat3 jam lalu
Dede Hidayat, Cakades Cijambe Nomor 4 Usung Visi Cijambe Bermartabat

Dede Hidayat, Cakades Cijambe Nomor 4 Usung Visi Cijambe Bermartabat

Subang3 jam lalu
Panitia Pilkades Cibogo Segera Tetapkan DPS

Panitia Pilkades Cibogo Segera Tetapkan DPS

Subang3 jam lalu
ADVERTISEMENT
BAZNAS dan BPBD Subang Bersinergi, Perkuat Penanganan Bencana dan Bantuan Kemanusiaan

BAZNAS dan BPBD Subang Bersinergi, Perkuat Penanganan Bencana dan Bantuan Kemanusiaan

Subang3 jam lalu
Manfaatkan Waktu Istirahat, Satgas TMMD ke-130 Kodim 0605/Subang Bermain Bola Bersama Siswa SDN Bukanagara

Manfaatkan Waktu Istirahat, Satgas TMMD ke-130 Kodim 0605/Subang Bermain Bola Bersama Siswa SDN Bukanagara

Subang3 jam lalu
Pemkab Karawang Lepas 689 Atlet Kontingen Porprov XV Jawa Barat Tahun 2026

Pemkab Karawang Lepas 689 Atlet Kontingen Porprov XV Jawa Barat Tahun 2026

Karawang3 jam lalu
Transparansi BUMDes jadi Sorotan, Warga Desa Sawangan Pertanyakan Dukungan Desa kepada PT CMM

Transparansi BUMDes jadi Sorotan, Warga Desa Sawangan Pertanyakan Dukungan Desa kepada PT CMM

Subang3 jam lalu
Siapkan BUMD Kembangkan Sumur Migas Haur Gede, Pemkab Karawang Targetkan MoU dengan Pertamina  2027

Siapkan BUMD Kembangkan Sumur Migas Haur Gede, Pemkab Karawang Targetkan MoU dengan Pertamina  2027

Karawang3 jam lalu
SMK PGRI Subang Buka Peluang Kerja di Luar Negeri, Buka Pelatihan Bahasa Mulai dari Siswa Kelas X

SMK PGRI Subang Buka Peluang Kerja di Luar Negeri, Buka Pelatihan Bahasa Mulai dari Siswa Kelas X

Subang3 jam lalu